• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Perbedaan Islam, yahudi, Nasrani

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - memberi petunjuk kepada umat manusia melalui kenabian Muhammad - Sholallahu Alaihi Wassalam - serta penjelasan dan petunjuk yang beliau bawa. Sebuah petunjuk yang begitu agung hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, jauh mengungguli makrifatnya kaum arifin. Sehingga di kalangan kaum mukminin, khususnya para ulama, terwujudlah ilmu yang berguna, amal shalih, akhlak yang agung, dan sunah-sunah yang lurus. Sekiranya hikmah seluruh umat berupa ilmu dan amalan baik disatukan, kemudian dibandingkan dengan hikmah yang dibawa oleh Muhammad - Sholallahu Alaihi Wassalam - maka sungguh, keduanya akan terpaut sangat jauh. Keterpautan yang tidak bisa dipersentasekan perbandingannya.
Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - mengutus beliau - Sholallahu Alaihi Wassalam - dengan dinul-Islam yang merupakan shirathal mustaqim (jalan yang lurus). Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - mewajibkan para hamba-Nya untuk meminta petunjuk kepada-Nya setiap hari, berulang-ulang dalam shalat mereka ( dalam bacaan al fatihah mereka setiap rakaat) . Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - menyifatkannya shirathal mustaqim sebagai jalan mereka yang diberi karunia dari kalangan para nabi, shidiqin, syuhada, dan kaum shalih; bukan jalan mereka yang mendapat murka-Nya yakni kaum Yahudi bukan pula jalan mereka yang tersesat yakni kaum nasrani.

Shahabat nabi yakni Adi bin Hatim - Rodliallahu Anhu - menuturkan:
“Aku mendatangi Rasulullah yang kala itu tengah duduk di masjid. Lalu orang-orang berkata: "Inilah Adi bin Hatim." Aku datang tanpa jaminan keamanan dan surah perjanjian. Tatkala aku dihadirkan kepada beliau, beliau menggamit tanganku. Sebelumnya Nabi pernah mengatakan "Aku berharap Allah menjadikan tangannya di tanganku ,Beliau pun bangkit bersamaku. Kemudian ada seorang perempuan bersama anaknya menemui Nabi.
Keduanya berkata: "Kami ada perlu denganmu." Nabi pun bangkit bersama keduanya hingga beliau memenuhi keperluan mereka. Kemudian beliau kembali menggamit tanganku sehingga sampai ke rumah beliau. Seorang pelayan (budak) wanita menyiapkan bantal untuk beliau, lalu beliau duduk di atasnya dan aku duduk di hadapan beliau. Beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: "Apa yang membuatmu menghindar? Apakah yang membuatmu menghindari pengucapan Laa ilaha illallah? Apakah engkau tahu ada tuhan yang berhaq disembah selain Allah?" Aku menjawab, "Tidak." Kemudian beliau bicara selama beberapa saat, lalu bersabda: "Yang membuatmu lari tak lain adalah bila engkau mengucapkan Allahu Akbar. Apakah engkau tahu sesuatu yang lebih besar dari Allah?" Aku menjawab, "Tidak." Nabi kembali bersabda, "Sesungguhnya Yahudi adalah kaum yang dimurkai, sedangkan Nasrani adalah kaum yang sesat" Maka aku berkata, "Kalau begitu, aku seorang yang hanif (condong dari semua agama menuju Islam) yang muslim." Aku melihat wajah beliau beseri-seri karena gembira." (Hadist Hasan Gharib, riwayat At tirmidzi no. 2953).

Al-Quran telah menunjukkan makna hadits ini. Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman:
"Katakanlah, Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu mereka yang dikutuk dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi, serta (orang yang) menyembah thaghut?"' (AI-Ma'idah [5]: 60)

Kata ganti (mereka) dalam konteks di atas kembali kepada kaum Yahudi, dan ungkapan di atas ditujukan kepada mereka, sebagaimana yang ditunjukkan rangkaian teks ayat.

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - juga berfirman:
"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka ..." (Al-Mujadalah [58]: 14)
Mereka adalah orang munafik. Mereka memberikan loyalitas kepada kaum Yahudi. Ini sesuai kesepakatan mufasir. Rangkaian ayat menunjukkan hal itu.
Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman:
"Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang teguh kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah ..." (Ali 'Imran 112)
Allah menyebutkan dalam surah Al-Baqarah, "Mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah" (Al-Baqarah [2]s 61). Juga firman-Nya, "Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan" (Al-Baqarah [2]: 90).

Sedangkan mengenai orang-orang Nasrani, Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman:
"Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, 'Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertobat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al-Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul dan ibunya seorang yang sangat benar; kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahlukitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memerhatikan ayat-ayat Kami itu). Katakanlah: ‘Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat Allahlah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Katakanlah, 'Hai Ahlukitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang terdahulu yang telah sesat (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), serta tersesat dari jalan yang lurus."' (Al-Ma'idah [5]:73-77)

Ini adalah ungkapan yang ditujukan kepada kaum Nasrani, sebagaimana yang ditunjukkan dalam rangkaian kalimatnya. Oleh karena itu, Allah melarang mereka berlaku ghuluw, yaitu melampaui batas. Sebagaimana Allah melarang mereka dari hal tersebut dalam firman-Nya: "Wahai Ahlukitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya" (An-Nisa5 [4]: 171).

Kaum Yahudi sangat menyepelekan kebenaran, sedangkan kaum Nasrani berlebih-lebihan. Adapun penyematan murka Allah atas kaum Yahudi dan kesesatan atas kaum Nasrani tentu mempunyai sebab, baik nampak maupun tidak.
Pangkal kekufuran kaum Yahudi berawal dari ilmu yang tidak mereka realisasikan dengan amal. Padahal mereka mengetahui kebenaran, namun tidak mau merealisasikannya dengan ucapan atau perbuatan, atau dengan keduanya sekaligus.
Sedangkan kufurnya kaum Nasrani pangkalnya adalah amal yang tidak dilandasi ilmu. Mereka bersungguh-sungguh melaksanakan berbagai varian amal ibadah, namun tanpa dasar perintah syariat dari Allah. Mereka berbicara atas nama Allah dengan apa yang tidak mereka ketahui.

Oleh karena itu, kaum salaf semisal Sufyan bin Uyainah - rahimahullah- dan lainnya mengatakan, "Para ulama kita yang rusak, memiliki kemiripan dengan kaum Yahudi. Sedangkan ahli ibadah kita yang rusak, memiliki kemiripan dengan kaum Nasrani."

Sebenarnya Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - telah memperingatkan kita agar menjauhi jalan hidup mereka. Ketetapan Allah pasti berlaku, seperti yang diberitakan Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - .
Dalam riwayat Bukhari Muslim dari Abu Said Al-Khudri - Rodliallahu Anhu - disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:
"Sungguh kalian akan meniru orang-orang sebelum kalian hingga sangat mirip semirip satu sisi bulu anak panah dengan sisi lainnya, hingga sekiranya mereka masuk ke lubang dhob ( sejenis biawak) , niscaya kalian akan ikut memasukinya." Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?' Rasulullah menjawab, .Siapa lagi (kalau bukan mereka)?" [ HR Bukhari no. 7320)

Bukhari juga meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - bersabda:
"Tidak akan terjadi Hari Kiamat hingga umatku mengikuti jalan yang ditempuh umat sebelumnya; sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta" Ada yang bertanya: "Wahai Rasulullah, sepertinya mereka orang Persia dan Romawi?" Beliau menjawab, "Siapa lagi kalau bukan mereka?" [ HR Bukhari no. 7319)

Beliau memberitahukan bahwa di tengah umatnya akan ada Orang-orang yang menyerupai Yahudi dan Nasrani (ahlukitab) dan menyerupai orang ajam, yakni Persia dan Romawi. Nabi telah melarang meniru kedua kelompok ini. Riwayat tersebut tidak menyatakan seluruh umat ini (akan meniru mereka). Karena telah disebutkan dalam riwayat yang mutawatir bahwa beliau bersabda:
“Akan selalu ada sekelompok ummatku yang terus membela kebenaran hingga datangnya Hari Kiamat " [ HR Bukahri no 7311, dan Muslim no. 1921)

Beliau juga memberitakan bahwa Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - tidak akan menyatukan umat ini dalam kesesatan. Allah akan senantiasa menumbuhkan tunas dalam agama ini dan menetapkan mereka untuk melaksanakan agama ini dengan ketaatan kepada-Nya.

Dari beberapa hadits shahih di atas, dapat dipahami bahwa di tengah-tengah umatnya pasti akan ada orang yang mengikuti cabang agama Yahudi atau Nasrani, meskipun penyimpangan ini tidak membuat seseorang menjadi kafir atau fasik. Namun bisa saja penyimpangan ini menjadi kekufuran, kefasikan, perbuatan buruk, atau mungkin hanya kesalahan.
Sungguh, Allah - Subhanahu Wa Ta'ala – telah mengutus Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam – dengan membawa hikmah. Yaitu sunnah yang merupakan jalan dan tatacara hidup yang telah Allah - Subhanahu Wa Ta'ala – syariatkan.

Di antara hikmah ini adalah Allah mensyariatkan baginya berbagai amalan dan ucapan sebagai pembatas yang membedakan jalan Islam dengan jalan orang-orang dimurkai-Nya dan jalan orang yang tersesat. Allah memerintahkan agar beliau (Rasulullah) menyelisihi mereka dalam tuntunan yang bersifat lahiriah (perilaku lahiriah), meskipun banyak manusia yang belum melihat kerusakan yang ditimbulkannya.

Perintah ini dikarenakan beberapa hal:
1. Kesamaan dalam wujud lahiriah (perilaku) akan membuahkan keserasian dan keharmonisan antara kedua belah pihak yang memiliki kemiripan. Itulah yang akan mengantarkan pada kesamaan dalam akhlak dan perbuatan. Ini merupakan hal yang bisa dirasa dengan indera, atau realistis. Orang yang mengenakan pakaian sebagaimana ulama misalnya, ia akan menemukan dalam dirinya semacam perasaan sedang bersama mereka. Sedangkan orang yang mengenakan pakaian prajurit perang misalnya, ia akan menemukan dalam dirinya semacam upaya untuk berperilaku seperti seorang prajurit. Kebiasaannya itu pun akan menuntunnya pada hal yang demikian, kecuali ada yang mencegahnya dari hal itu.

2. Menyelisihi mereka yakni kaum yahudi dan nasrani dalam bentuk lahir akan membuat dinding perbedaan dan pemisah. Yang pasti, hal itu akan memutusnya dari hal-hal yang mengundang murka-Nya dan yang membuatnya tersesat. Dengan ini, muncullah perasaan simpati pada orang-orang yang mendapat petunjuk dan diridhai, serta nyatalah bahwa Allah telah memutus loyalitas antara bala tentara-Nya yang beruntung dengan bala tentara musuh-Nya yang merugi. Setiap kali hati itu lebih sempurna hidupnya dan lebih mengerti tentang Islam yang notabene adalah Islam itu maka perasaan berseberangan dengan kaum Yahudi dan Nasrani, baik batin maupun lahir akan lebih sempurna lagi. Tindakannya menjauhi perangai akhlak kebiasaan kaum Yahudi dan Nasrani yang terdapat pada sebagian kaum muslimin juga akan lebih kukuh.

3. Di antara hikmah lainnya ialah: dengan ikut menyamai mereka dalam bentuk lahiriah akan menyebabkan adanya percampuran yang sangat kentara. Bahkan tidak bisa dibedakan secara lahir antara orang yang diridhai serta mendapat petunjuk Allah dengan mereka yang dimurkai dan yang tersesat. Masih banyak lagi sebab yang memuat hikmah lainnya.

Ini bila perbuatan meniru-niru mereka tersebut sekadar apa yang dimubahkan saja. Adapun kalau yang ditiru adalah termasuk hal yang menyangkut kekufuran mereka, berarti itu merupakan salah satu cabang kekafiran. Menyamai mereka dalam hal tersebut sama dengan menyetujui salah satu dari dari banyak kesesatan dan kemaksiatan mereka.

Kembali ke masa kita dizaman sekarang ini, kita sering melihat fenomena aneh sebagian muslim yang tidak segan-segan meniru perilaku, bahkan ikut serta dalam perayaan dan ibadah orang-orang kafir. Padahal, umat Islam telah menerima syariat agung tersendiri yang wajib diikuti. Padahal, umat Islam juga telah dilarang mengikuti hawa nafsu orang-orang tak berilmu dan orang-orang kafir, dalam bentuk perbuatanyang menyerupai perilaku dan ibadah mereka.

Mungkin banyak pertanyaan di benak Anda yang tidak tuntas terjawab tentang berbagai fenomena aneh tersebut. Zaman Dulu pun banyak orang bertanya-tanya tentang hal serupa. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiah - rahimahullah- menulis buku Al-Iqtidha' ini. Banyak persoalan mendasar yang penting Anda ketahui dan pahami menyangkut larangan "meniru orang-orang kafir" dalam perilaku dan ibadah mereka ini.

Pembahasan di dalam buku ini menjadi lebih jelas dengan adanya anotasi berupa syarah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin - rahimahullah-

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia/ terjemah
Format Cover Hardcover
ISBN 978-602-8417-47-1
Judul Asli Al Iqtidha Shirathal Mustaqim
Judul Buku Al Iqtidha : Meniti Shirathal Mustaqim Menyelisihi Ashabul Jahim
Penerbit / Publisher Al Qowam
Penulis Imam Ibnu Taimiyyah
Ukuran Fisik Buku 17,3 x 24,5 cm