• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Inilah Faktanya : Meluruskan Sejarah Umat Islam Sejak Wafatnya Nabi hingga Terbunuhnya Al Husain

Harga: Rp 60.000  Rp 48.000

- +

     Pengetahuan tentang sejarah umat Islam begitu penting, bahkan melebihi pengetahuan tentang sejarah umat secara umum. Karena, sejarah Islam adalah saksi atas perwujudan ajaran agama itu sendiri di tengah khalayak, terlepas dari bias dan penyimpangan orang-orang terhadapnya.
Pembahasan tentang sejarah Islam tentu tidak bisa terlepas dari pembahasan tentang sumber-sumber rujukannya. Sejarah umat Muhammad ini bukan sekadar dongeng atau hikayat yang sebagian besarnya dinukil berdasarkan "konon".

    Siapa saja yang mencermati sejarah Islam secara mendalam pasti mengetahui bahwa periodenya yang paling gemilang adalah periode Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- dan para Sahabat . Sahabat-Sahabat beliaulah yang mengemban tugas menyebarkan Islam. Merekalah makhluk Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- yang terbaik setelah para Nabi dan Rasul –Alaihissalam- Akan tetapi pada perjalanannya, sejarah Islam banyak mengalami distorsi, pencemaran, dan penyelewengan fakta dan data, dikarenakan munculnya kelompok-kelompok sempalan yang sesat. Tiap-tiap kelompok berusaha menjatuhkan kelompok yang lain dan, pada saat yang bersamaan, mengangkat citra pribadi. Akibatnya, muncullah cacat-cacat pada kemurnian sejarah para pemuka umat kita.

     Maka tidak heran jika di antara umat ini kita mendapati kelompok yang ghuluw atau melampaui batasan syariat dalam mencintai sosok tertentu. Kelompok ini mencintai Sahabat yang mulia, 'Ali bin Abu Thalib -Rodliallohu Anhu- dengan kecintaan yang justru merusak segala-galanya. Demi kecintaan itu, mereka dengan lancang menisbatkan hal-hal dan kabar-kabar palsu kepada 'Ali. Di samping itu, dia berusaha menjatuhkan kemuliaan Sahabat yang lain; dan menuding mereka telah merampas hak-hak ' Ali dan menzhalimi sepupu Nabi m ini, dan itu artinya mereka telah menzhalimi diri mereka sendiri.

     Bahkan kecintaan yang berlebihan tersebut juga ditujukan kepada cucu-cucu 'Ali; sehingga dinyatakan bahwa cucu-cucu 'Ali adalah para imam yang ditunjuk berdasarkan nash suci dan ma'shum. Padahal, itu sama artinya menyamakan kedudukan para imam tersebut dengan para Nabi
Bahkan, 'Ali -Rodliallohu Anhu- pernah menyatakan: "Suatu kaum akan mencintaiku tetapi mereka justru masuk Neraka lantaran kecintaan itu. Dan suatu kaum juga akan membenciku sehingga mereka masuk Neraka lantaran kebencian itu. “ [ lihat : Ibnu Abi 'Ashim dalam as-Sunnab (no. 983). Al-'Allamah Nashiruddin al-Albani berkata: "Sanad hadits ini shahih, sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim." Lihat pula NahjulBalaaghah (IV/108, no. 469), ManaaqibulImaam AmiirilMu'miniin karya Muhammad bin Sulaiman al-Kufi (11/283), dan al-Amaali karya at-Thusi (him. 256) ]'
Ali -Rodliallohu Anhu- juga menyatakan: "Berkaitan denganku, dua orang akan binasa: orang yang berlebih-lebihan dalam mencintaiku, dan orang yang berlebih-lebihan dalam membenciku.” [Ibnu Abi 'Ashim dalam as-Sunnah (no. 984). Al-'Allamah al-Albani berkata: "Sanad hadits ini hasan."]
Menurut pendapat yang shahih, sangkaan-sangkaan dan bentuk-bentuk ghuluw terhadap 'Ali bin Abu Thalib muncul setelah pertengahan abad ketiga Hijriyah. Salah satu hal yang menguatkan pendapat ini adalah tidak ada satu pun riwayat shahih yang menunjukkan adanya kebencian antara 'Ali dan Sahabat lainnya -Rodliallohu Anhum- . Justru sebaliknya, riwayat-riwayat shahih yang ada menunjukkan besarnya kecintaan mereka terhadap sesama. Bahkan, disebutkan pula gambaran-gambaran cemerlang berupa sikap setiap individu yang lebih mengutamakan saudaranya daripada diri sendiri; juga tentang eratnya persaudaraan dan kasih sayang mereka, saling menasihati antar mereka, dan kuatnya hubungan kekerabatan di antara mereka. Hal inilah yang semestinya dijadikan sandaran bagi pencari kebenaran guna memastikan bahwa permusuhan dan kebencian di antara para Sahabat Nabi hanya dusta belaka.
Pembahasan tentang Sejarah Islam dibangun atas kajian ilmiah melalui dukungan referensi yang valid. Sebab, seseorang tidak mungkin bisa menggambarkan peristiwa sejarah secara tepat apabila sumbernya tidak otentik, apalagi palsu.
Sejarah kaum Muslimin perlu ditata ulang dengan mengambil setiap nukilan dari sumber-sumbernya yang otentik. Apalagi berkaitan dengan bagian-bagian yang banyak mengalami distorsi dan pencampuradukan. Penataan ulang ini bukanlah sesuatu yang berlebihan karena umat Islam adalah umat yang paling membutuhkan materi sejarah yang otentik dan dinukil dengan sanad shahih.

    Sebelum potongan-potongan sejarah Islam lenyap, sejarawan Islam dari kalangan Salafush Shalih telah mencatat semuanya. Mereka mengumpulkan semua nukilan yang diperoleh, yang layak maupun yang tidak, seraya menerangkan sumber dan nama-nama para perawinya. Upaya ini dilakukan supaya pembaca kitab mereka mengetahui mana riwayat yang shahih dan mana riwayat yang dha'if.

   Sekarang, tiba saatnya kita sebagai generasi Khalaf (orang-orang setelah generasi Salaf) turut ambil bagian supaya dapat berjalan mengikuti jejak langkah Salafush Shalih, memurnikan kitab-kitab tersebut, memisahkan riwayat yang dha'if dari yang shahih, dan peristiwa yang benar dari yang salah. Dengan demikian, kita menjadi para Khalaf terbaik yang mewarisi para Salaf terbaik. Upaya pelurusan sejarah seperti ini ditujukan agar semua orang tahu bahwa perjalanan hidup para Sahabat Muhammad itu sesuci, sebersih, dan semurni hati mereka.

       Sekian lama kaum Muslimin terhalang dari salah satu sumber kekuatannya yang paling besar, yaitu keyakinan terhadap keagungan sejarah mereka. Padahal, kaum Muslimin adalah penerus para Salaf yang sejarah belum pernah menyaksikan perjalanan hidup sesuci, sebesar, dan secemerlang mereka. Maka itu, siapa saja yang ingin menulis buku tentang sejarah Islam harus berhati lurus (bersikap objektif) terhadap para pelaku sejarah yang teguh dalam kebenaran dan kebaikan, serta mengetahui hak dan kedudukan mereka.
Selain itu, dia juga dituntut untuk jeli dalam membedakan setiap pewarta sejarah, mana yang riwayatnya shahih dan mana yang dha'if. Yang tidak kalah pentingnya adalah, dia harus bersikap amanah, jujur, dan selalu komitmen dalam mencari kebenaran.
Bagaimana Kita Membaca Sejarah?

       Kita harus membaca sejarah seperti halnya membaca hadits-hadits Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- Tatkala hendak membaca hadits-hadits beliau, tentu saja kita mengklarifikasi riwayat¬nya terlebih dahulu; apakah sanadnya shahih, ataukah tidak? Tidak mungkin riwayat dari Rasulullah diketahui benar atau tidaknya tanpa melalui penelitian sanad dan matan. Karenanya, para ulama memperhatikan hadits dan perawinya. Mereka mengumpulkan setiap redaksi hadits yang diriwayatkan perawi, memilah-milahnya, menghukuminya, dan memisahkan yang shahih dari yang dha'if. Dengan metode ini, hadits-hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bisa dibersihkan dari cela, kebohongan, dan hal buruk semisal yang disisipkan padanya.
Akan tetapi, riwayat-riwayat terkait sejarah amat berbeda. Terkadang, kita menemukan riwayat-riwayat yang tidak bersanad. Terkadang pula, kita menemukan sanadnya tetapi biografi para perawi riwayat itu tidak ditemukan. Sering juga kita tidak menemukan jarh (kritik) ataupun ta'dil (sanjungan) ulama terhadap perawinya terkait kredibilitas periwayatannya. Alhasil, kita kesulitan untuk menghukumi riwayat tentang sejarah tersebut dikarenakan tidak mengetahui keadaan sebagian perawinya. Dengan kata lain, meneliti keotentikan sejarah lebih sulit daripada keotentikan hadits. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menyepelekannya. Justru, kita harus mengklarifikasi dan mengetahui cara pengambilan riwayat sejarah yang shahih.
Sejarah Islam, terkhusus sejak diturunkannya hingga beberapa tahun sepeninggal Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- , memang tidak didukung oleh sumber informasi sejarah berupa foto atau film dokumentasi. Meskipun demikian, khazanah keilmuan Islam mempunyai sistem informasi sejarah yang sangat akurat, yaitu penukilan peristiwa-peristiwa bersejarah berdasarkan sanad. Sistem tersebut tidak dimiliki satu umat pun selain umat Islam.
Imam Sufyan ats-Tsauri -Rahimahulloh- menyatakan: "Sanad adalah senjata orang Mukmin. Seandainya seseorang tidak mem¬punyai senjata, dengan apakah dia akan berperang ? [ lihat : Al-Majruuhin karya Ibnu Hibban (1/27).]
Bahkan, menurut Imam 'Abdullah bin Mubarak -Rahimahulloh- sanad adalah bagian dari agama ini [ lihat : Muqaddimah Shahiih Muslim (1/12)]
dan mungkin, karena itulah umat Islam dikenal juga dengan ummatul isnad (umat pemilik sanad).

      Seiring pergeseran waktu, peran sanad dalam penuturan sejarah Islam kian dibutuhkan. Apalagi kini, tatkala sejarah kaum Muslimin dipaparkan oleh para sejarawan dalam banyak versi, sampai-sampai sukar dibedakan mana yang terdistorsi dan mana yang otentik. Misalnya terkait sejarah para Sahabat Rasulullah, baik semasa hidup beliau maupun setelah wafatnya. Melalui tangan orang-orang yang berhati buruk, seperti kaum Rafidhah (Syi'ah), tidak sedikit nukilan kisah sejarah yang menggambarkan bahwasanya para Sahabat -Rodliallohu Anhum- saling bermusuhan, tidak akur antar sesama mereka, hanya saja sikap tersebut disembunyikan hingga sang Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- wafat.
Seakan-akan, keshalihan mereka selama ini hanyalah isapan jempol kelompok Ahlus Sunnah (Sunni). Sebab, pada kenyataannya mereka tidak saling mengasihi; bahkan berkonspirasi satu sama lain demi memperebutkan kekuasaan dan kemegahan duniawi, tanpa sekali pun menunjukkan tendensi demikian kepada beliau. Khususnya terkait permasalahan suksesi kepemimpinan.
Orang-orang yang hatinya berpenyakit menuding Abu Bakar ash-Shiddiq, 'Umar bin al-Khaththab, 'Utsman bin 'Affan, dan beberapa Sahabat lainnya -Rodliallohu Anhum- telah berbuat licik guna menjegal 'Ali bin Abu Thalib -Rodliallohu Anhu- menjadi khalifah setelah kepergian Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Ironisnya, tidak sedikit masyarakat Muslim yang termakan oleh kepalsuan sejarah seperti ini. Mereka telah mentah-mentah kisah dusta sejarah semacam ini, hal ini karena kejahilan.
Fenomena di atas secara jelas menunjukkan betapa umat Islam membutuhkan informasi sejarah yang benar-benar akurat.
Buku ini hadir untuk menuturkan sejarah yang otentik dan sangat bermanfaat terkait peristiwa-peristiwa penting sejak wafatnya Nabi Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- (11 H) hingga kematian cucu beliau, al-Husain -Rodliallohu Anhu- (61 H). Sesuai judul Indonesianya, Inilah Faktanya (Meluruskan Sejarah Umat Islam Sejak Wafat Nabi Hingga Terbunuhnya Al-Husain, kita diajak untuk menyaksikan fakta sejarah yang sebenarnya terjadi dalam kurun waktu tersebut. Melalui pemaparan yang ringkas tetapi padat, Syaikh Dr 'Utsman bin Muhammad al-Khamis membagi pembahasannya menjadi empat bagian utama.
Dalam buku ini, dibahas satu periode sejarah penting dari sejarah panjang umat Islam, yaitu periode setelah Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- wafat sampai tahun 61 H.

terbagi bagi menjadi beberapa bagian, dengan dua pokoknya:
Muqaddimah dan Tiga Bab Utama.

Pada Muqaddimah
terdapat tiga sub bahasan mengenai tiga masalah mendasar:
(1) cara membaca sejarah,
(2) kitab sejarah siapa yang patut dibaca, dan
(3) metode para sejarawan dalam mendistorsi sejarah Islam.

Bab I
dijelaskan peristiwa-peristiwa bersejarah sejak wafatnya Rasulullah ^ (11 H) sampai tahun 61 H. Semampu mungkin saya menjelaskan peristiwa-peristiwa penting pada periode ini dengan sanad-sanad yang shahih. Tidak lupa disertakan kritik-kritik atas kisah-kisah bohong dan bathil yang beredar luas di masyarakat.

Bab II
mengupas perihal 'adaalah (keshalihan) para Sahabat -Rodliallohu Anhum- , berdasarkan dalil-dalil al-Quran dan as-Sunnah. juga menyebutkan syubhat-syubhat yang sering dikemukakan terhadap keshalihan mereka sekaligus bantahan-bantahannya.

Bab III
membahas masalah kekhalifahan. dinukilkan dalil-dalil Syi'ah secara terperinci tentang lebih berhaknya 'Ali r -Rodliallohu Anhu- sebagai khalifah daripada Abu Bakar, Umar, dan 'Utsman -Rodliallohu Anhum-
Lalu dalil-dalil syiah tersebut dikritisi dan dibantah secara ilmiah dan terperinci, yang mungkin tidak akan Anda temukan dalam buku-buku lain.

Inilah Faktanya : Meluruskan Sejarah Umat Islam Sejak Wafatnya Nabi hingga Terbunuhnya Al Husain
Judul asli : Hiqbah Minat Taariikh
Penulis ; Syaikh Dr Utsman bin Muhammad Al Khumais
Fisik ; Buku ukuran sedang 15.5x23.5cm, sofcover, 418 hlm
Penerbit : Pustaka Imam Syafii

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
ISBN 978-602-9183-37-5
Judul Asli Hiqbah Minat Taariikh
Judul Buku Inilah Faktanya : Meluruskan Sejarah Umat Islam Sejak Wafatnya Nabi hingga Terbunuhnya Al Husain
Penerbit / Publisher Pustaka Imam Syafii
Penulis Syaikh Dr Utsman bin Muhammad Al Khumais
Ukuran Fisik Buku Buku ukuran sedang 15.5x23.5cm