• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Darul Haq Siapa Bilang Musik Haram ? : Pro Kontra Masalah Musik dan Nyanyian penulis: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Penerbit Pustaka Harul Haq .. Product #: DHQ-0074 Regular price: Rp 35.000 Rp 35.000

Siapa Bilang Musik Haram ? : Pro Kontra Masalah Musik dan Nyanyian

Harga: Rp 35.000  Rp 28.000

- +

      Hafal belasan lagu atau Nasyid Islami, atau bahkan lagu-lagu cinta penyanyi dlam negeri bahkan luar negeri, tapi jauh dari Al Quran dan hadits nabawiyah adalah sekelumit ironi yang menimpa generasi muda Islam kita, bahkan anak-naka kecil sudah fasih hafal lagu-lagu percintaan yang bukan untuk anak seusianya. Sebuah kenyataan di tengah umat yang juga membuktikan betapa musik telah merambahi banyak kalangan. Dari yang awam hingga yang disebut terpelajar, dari yang sekuler hingga mereka yang menyandang predikat aktivis pergerakan Islam.
     Sebuah fenomena yang tentu saja menggelisahkan, meski apa yang disebut di atas belumlah apa-apa untuk menggambarkan betapa musik telah menjadi candu yang menjauhkan umat dari agamanya.
Berkawannya musik dengan kemaksiatan lain jelas sulit dipungkiri, nyata-nyata didepan mata kita: Triping, mabuk-mabukan, judi, seks bebas, dunia malam/dugem, hingga anarkisme dan barbarisme yang muncul saat pentas musik digelar, baik kelas kampung yang cuma menyuguhkan dangdut murahan , organ tunggal, ataupun konser besar yang melibatkan ribuan massa, adalah fakta tak terbantahkan yang kian memperkuat anggapan minus tentang musik.
Ini belum termasuk syair-syair lagu yang umumnya bertema percintaan, lirik-lirik cabul, hingga yang berisi pemujaan terhadap setan serta mengampanyekan anti Tuhan. Musik pun, selain menjadikan manusia terlena, juga menumbuhkan sikap cengeng, munafik, berjiwa memberontak, atau minimalnya membangkitkan kenangan jahiliah.
      Saking mendarah daging, sulit memang menemukan lingkungan yang tak tercemari musik. Karena kita mempunyai tetangga, saudara, atau mungkin orangtua yang masih demikian gandrung dengan musik. Mau tidak mau, sadar atau tidak sadar, telinga kita terus dipaksa mengonsumsi musik. Seakan-akan setiap manusia di muka bumi ini telah berkerabat dengan musik.
Sebagai bangunan dari nilai-nilai kebajikan, Islam, melalui AI-Quran dan As-Sunnah telah mengajarkan seluruh bentuk kebaikan dan mencegah umatnya dari segala bentuk keburukan. Ukuran baik dan buruk tentunya berasal dari Alloh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya . Bukan lahir dari selera atau kemauan individu manusia. Jika logika manusia diperturutkan niscaya kebaikan atau keburukan itu menjadi sangat subyektif.
Begitupun musik, .Ketika ayat dan hadits menjelaskan larangan-hamba yang beriman semestifnya Kita menundukkan ego kita sebagai manusia. Tidak pu!a mengambil "jalan tengah" dengan menciptakan apa yang disebut musik "Islami" yang diistilahkan dengan nasyid. Lebih-lebih jika dirunut, acapella yang menjadi akar dari nasyid merupakan gaya musik Afro-Amerika. Begitu pun jenis nasyid lain yang terinspirasi dari seni Gregorian. Keduanya, acapella dan gregorian, merupakan gaya bermusik yang hidup dalam tradisi gereja.
Lebih parah, biar tampak bernafaskan Islam semacam gambus, marawis dan semisalnya tak sedikit syair dari nasyid, kasidah, atau lagu-lagu "religi" itu yang asal menggunakan bahasa Arab tanpa tahu maknanya atau justru isinya bertentangan dengan ajaran Islam, seperti shalawat bid'ah yang justru kental dengan kesyirikan.
       Pandangan yang juga ekstrem datang dari penganut sekuler atau liberalisasi Islam. Menurut mereka, musik adalah bagian dari berkesenian, sebuah wilayah yang mestinya lepas dari kerangka halal haram. Fiqih, oleh kalangan yang sepaham dengan mereka, dianggap tak mampu memahami seni. Bagi mereka, hukum dalam seni cuma dua, indah atau buruk.
Semua pemahaman ini jelas menyelisihi dalil-dalil yang telah jelas melarang musik. Jadi tak sesederhana orang melihat musik sebagai "obat" melepas penat dan membunuh jenuh di sela-sela rutinitas harian.
Musik, seharusnya dipandang sebagai media yang menjadikan umat lalai dari agamanya serta muara dari kehidupan ini. Membuat abai terhadap Alloh Azza wa Jalla , satu-satunya Dzat kita memohon kemudahan dalam menjalankan roda hidup ini.
        Akankah kita gegabah melabrak syariat demi suatu "seni" yang disakralkan sebagai sebuah "nilai", sehingga demi semata kreativitas atau kebebasan berekspresi, syariat justru dipinggirkan?
Tidakkah pula menjadi ironi manakala kita mendakwahkan Islam melalui nasyid yang justru berakar dari tradisi non-Islam?
Akankah kita menyamakan diri dengan orang-orang Nasrani yang ibadah mereka memang tak jauh-jauh dari bernyanyi dan bermusik? Na'udzubillah!

Inilah buku karya Al Imam Al Albani -rahimahullah- bagaimana hukum musik sebenarnya menurut Al Quran dan As Sunnah Ash Shahih, pendapat para Shahabat nabi -rodliallohu anhuma-, tabiin, tabiut tabiin, dan para imam serta ulama yang mengikuti mereka dengan benar.dan bantahan-bantahan terhadapan pendapat segelintir orang zaman sekarang ini yang hanya" membebek" kepada kesalahan Imam Ibn Hazm -rahimahullah- , yang kesalahan beliau ini telah dibantah dan dikritik secara tajam oleh sekian banyak ulama Sunnah sepanjang zaman, hingga saat ini, dan anehnya kesalahan beliau ini dijadikan dasar fatwa oleh segelintir orang pengikut hawa nafsu yang diulamakan tersebut sebagai hukum bolehnya musik.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
Judul Asli Tahrim Alat Ath Tharb
Judul Buku Siapa Bilang Musik Haram ? : Pro Kontra Masalah Musik dan Nyanyian
Jumlah Halaman 230 hlm
Penerbit / Publisher Darul Haq
Penulis Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 14.5 x 20.5 cm