• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Musnad Imam Syafii Lengkap, Penerbit Pustaka Azzam

Menghukumi suatu hadits itu shahih, hasan, atau dha'if, harus didasarkan pada beberapa hal, diantaranya adaalah (tabiat yang mendorong seseorang untuk senantiasa bertakwa, dan berakhlak mulia dan menjauhi maksiat serta bid'ah) dan dhabth (keakuratan hapalan) periwayat, atau tuduhan terhadap : "adaalah" dan "dhabth" mereka.
Mengetahui segala sesuatu berkenaan dengan salah seorang periwayat hadis bukan hal yang mudah, sebagaimana pendapat para ulama tentang seorang periwayat juga berbeda-beda, ada yang berlebihan, ada yang sedang-sedang saja, dan ada yang meremehkan. Perbedaan penilaian terhadap seorang periwayat akan mempengaruhi perbedaan dalam menghukumi suatu hadits, apakal shahih, hasan, dha'if, atau maudhu '.
Allah Ta’ala  berfirman,yang artinya:
“orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (Qs. Al Hujuraat [49]: 6)
Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam-  bersabda,
"Semoga Allah membaguskan akhlak dan mengangkat derajat orang yang mendengar sesuatu dari kami (yakni : hadits)  lalu dia menyampaikannya seperti yang dia dengar, Berapa banyak orang yang menyampaikan lebih paham dari yang mendengar." (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban)
    Oleh karena itu, para sahabat -Rodliallohu Anhum-  sangat hati-hati dan teliti dalam masalah periwayatan, baik ketika mengambil dan menyampaikannya, sehingga muncullah kaidah, "Sesungguhnya hadits-hadits ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambilnya." Dengan demikian muncullah ilmu Al Jarh wa At-Ta'dil. Para ulama memberikan perhatian yang sangat besar dalam masalah ini. Mereka mengerahkan segala upaya untuk mempelajari kondisi para periwayat yang menukil hadits Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- .
Imam Al Iraqi -rahimahulloh-  berkata dalam Fath Al Mughits (Fath Al Mughits (3/314)
“Mintalah bantuan dengan ilmu Jarh wa Ta 'dil, karena ia merupakan jalan untuk menjelaskan Antara yang sehat (shahih) dengan yang sakit (dha'if) dan berhati- hatilah, mempunyai tujuan (tertentu), karena jarh sangat berbahaya.”
   
Pembukuan Sunnah
Ketika agama Islam telah tersebar ke penjuru negeri, bid'ah . merajalela, para sahabat -Rodliallohu Anhum-  telah berpencar ke berbagai wilayah, banyak  di   antara  mereka  telah  meninggal  dunia,   serta minimnya   mereka   yang   hapal   hadits,   maka   perlu   dilakukan bukuan dan penulisan hadits Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Inilah asalnya, karena yang pandai dan cerdas bisa lupa, sedangkan tulisan dapat jaganya.
    Ketika Umar bin Abdul Aziz -rahimahulloh- menjabat sebagai khalifah pada permulaan  tahun   100   H,   dia  menulis   kepada  Abu  Bakar  bin Muhammad bin Amr bin Hazm, Gubernur Madinah, "Lihatlah hadits Rosululloh dan tulislah, karena aku takut ilmu akan hilang dan para ulama banyak yang meninggal dunia."
    Dia -rahimahulloh-  berwasiat agar riwayat yang ada pada Amrah binti Abdurrahman Al Anshariyyah (W. 98 H) dan Qasim bin Abu Bakar (W. 120 H) dituliskan untuknya. Dia juga menginstruksikan kepada para gubenurnya di berbagai kota penting di negeri-negeri Islam agar mengumpulkan hadits.
    Di antara orang yang dikirimi surat adalah Muhammad bin bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab Az-Zuhri Al Madani, seorang Imam terkenal dan ulama besar wilayah Hijaz dan Syam (124 H).
     Setelah itu pembukuan Sunnah pada generasi setelah Az-Zuhri berkembang pesat. Orang yang pertama kali menyusunnya adalah Ibnu Juraij (W. 150 H), Ibnu Ishaq (W. 151 H), atau Malik di Madinah (W. 179 H), Ar-Rabi bin Shubaih (W. 160 H), atau Sa'id bin Arubah (W. 156 H), atau Hammad bin Salamah di Bashrah (W. 176 H), Husyaim di Wasith (W. 188 H), Ma'mar di Yaman (W. 153 H), Jarir bin Abdul Hamid di Rayy (W. 188 H), dan Ibnu Al Mubarak di Khurasan (W. 181 H) –rahimakumulloh-- .
Mereka semua hidup pada abad 2 H. Pembukuan hadits yang mereka lakukan bercampur dengan perkataan para sahabat dan fatwa tabiin.
   Di antara kitab-kitab paling terkenal yang ditulis pada masa ini adalah: Muwaththa Malik (W. 179 H), Musnad Al Imam Asy-Syafi'i (W. 204 H), dan Mukhtalaf Al Hadits karya Imam Syafi'i, Musnad Al Imam Ahmad, Al Jami' karya Abdurrazzaq, Mushannaf  Syu 'bah bin Al Hajjaj (W. 160 H), Mushannaf Sufyan bin Uyainah (198), Mushannaf Al-Laits bin Sa'ad (175 H), serta beberapa karya ulama ahli hadits yang semasa dengan mereka, seperti Al Auza'i dan Al Humaidi (219 H) [ lihat : tarikh Funun Al Hadits 33,34)
    Ada beberapa model penulisan hadits yang dilakukan oleh para Ulama Sunanh, diantaranya penulisan hadits metode musnad. Musnad adalah kitab yang berisi kumpulan hadits yang tidak diurut berdasarkan urutan bab-bab fiqih namun dikelompokkan/diurutkan  menurut setiap nama Shohabat rodliallohu anhum , baik hadits shahih, hasan atau dhaif. Urutan nama-nama para Shohabat didalam musnad kadang berdasarkan huruf hijaiyah atau alfabet sebagaimana dilakukan oleh ulama dan ini yang paling mudah, kadang juga berdasarkan pada kabilah dan suku, atau berdasarkan yang paling dahulu masuk Islam, atau berdasarkan negeri (asal).
Kitab hadits yang berbentuk musnad cukup banyak. Al Killani dalam kitabnya Ar Risalah Al Musthatharafah menyebutkan jumlahnya sebanyak 82 Musnad, diatara yang paling terkenal yaitu : Musnad karya Imam Abu Daud, Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad karya Imam Abu bakar Al Humaidi, Musnad karya Imam Abu Ya’la -rahimakumullah- .
Inilah Musnad Imam Syafii, sebuah kitab Musnad karya Imam Asy Syafii -rahimahullah- yang masih jarang diketahui para penuntut ilmu, bahwa beliau -rahimahullah- memiliki kitab musnad. Inilah terjemah lengkap dari  Musnad Imam Sy Syafii.

 

Membahas :
· Biografi Imam Syafi’i
· Bagian dari pembahasan tentang wudhu*
· Bagian dari pembahasan tentang menghadap kiblat saat shalat
· Bagian dari pembahasan tentang kewajiban Jum’at
· Pembahasan tentang Dua Hari Raya
· Bagian pembahasan tentang zakat dari pertaman kecuali yang dikembalikan
· Bagian dari pembahsan tentang hukum mubah talak
· Bagian dari pembahasan tentang puasa
· Bagian dari pembahasan tentang manasik
· Bagian dari pembahasan tentang jual beli
· Bagian dari pembahsan tentang gadai
· Bagian dari pembahasan tetntang sumpah dengan satu saksi
· Bagian dari Pembahasan tentang Perbedaan Hadits dan yang Ditinggalkan oleh Mu’adz
· Bagian dari Jus Ke Dua; Perbedaan Hadits dari Al Ashlul Atiq
· Bagian dari Pembahasan tentang Talak
· Bagian dari Pembahasan tentang Pembebasan Budak
· Bagian dari Pembahasan tentang Melukai Dengan Sengaja
· Bagian dari Pembahasan tentang Budak Mukatab
· Bagian dari Pembahasan tentang Jizyah
· Bagian dari Pembahasan tentang Perbedaan Malik dan Asy-Syafi’i 
· Bagian dari Pembahasan tentang Risalah Kecuali Riwayat dari Muadz
· Bagian dari Pembahasan tentang Mahar dan Ila‘
· Bagian dari Pembahasan tentang Penukaran
· Bagian dari Pembahasan tentang Rahn dan Ijarah
· Bagian dari Pembahasan tentang Syighar
· Bagian dari Pembahasan entang Zhihar dan Li’an
· Bagian dari Pembahasan tentang Khulu’ dan Nusyuz
· Bagian dari Pembahasan tentang Membatalkan Kebaikan
· Bagian dari Pembahasan tentang Hukum Al Qur`an
· Bagian dari Pembahasan tentang Minuman dan Keutamaan Quraisy dan yang Lainnya
· Bagian dari Pembahasan tentang Minuman
· Bagian dari Pembahasan tentang Menggauli Wanita
· Bagian dari Pembahasan tentang Mengungkapkan Redaksi Pelamaran
· Bagian dari Pembahasan tentang Talak dan Ruju’
· Bagian dari Pembahasan tentang Hitungan
· Bagian dari Pembahasan tentang Undian dan Nafkah Kerabat
· Bagian dari Pembahasan tentang Persesusuan
· Bagian dari Pembahasan tentang Dzikir Kepada Allah Tanpa Berwudhu dan Dalam Keadaan Haidh
· Bagian dari Pembahasan tentang Memerangi Pelaku Pemberontakan
· Bagian dari Pembahasan tentang Memerangi Kaum Musyrikin
· Bagian dari Pembahasan tentang Tawanan Curang Dalam Harta Rampasan Perang dan Lainnya
· Bagian dari Pembahasan tentang Pembagian Harta Rampasan Perang 
· Bagian dari Pembahasan tentang Sifat Karakteristik Larangan Nabi SAW dan Pembahasan tentang Budak Mudabbar
· Bagian dari Pembahasan tentang Bangkrut
· Bagian dari Pembahasan tentang Dakwaan dan Bukti-Bukti
· Bagian dari Pembahasan tentang Sifat Perintah Nabi, Perwalian Anak Kecil dan Kesalahan Thabib Serta yang Lainnya
· Bagian dari Pembahasan tentang Muzara’ah dan Al Kara’
· Bagian dari Pembahasan tentang Potong Tangan Karena Pencurian dan Bab-Bab yang Lainnya
· Bagian dari Pembahasan tentang Al Bbahirah dan As-Sa‘ibah
· Bagian dari Pembahasan tentang Berburu dan Menyembelih Hewan
· Bagian dari Pembahasan tentang Diyat dan Qishash
· Bagian dari Pembahasan tentang Jirah Al Khatha‘
· Bagian dari Pembahasan tentang Adu Cepat, Sumpah, Melempar Anak Panah dan Gerhana
· Bagian dari Pembahasan tentang Gerhana
· Bagian dari Pembahasan tentang Kafarat, Nadzar dan Sumpah
· Bagian dari Pembahasan tentang Perjalanan Perang
· Bagian dari Pembahasan tentang Kumpulan Ilmu
· Bagian dari Pembahasan tentang Jenazah dan Hudud
· Bagian dari Pembahasan tentang Haji
· Bagian dari Pembahasan tentang Ringkasan Haji Akbar
· Bagian dari Pembahasan tentang Nikah Karena Takut Miskin
· Bagian dari Pembahasan tentang Nikah
· Bagian dari Pembahasan tentang Wasiat yang Belum Pernah Didengar Darinya
· Bagian dari Pembahasan tentang Adab Seorang Hakim
· Bagian dari Pembahasan tentang Makanan, Minuman dan Memakmurkan Bumi
· Bagian dari Pembahasan tentang Wasiat yang Belum Pernah Didengar dari Imam Asy-Syafi’i

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
Judul Asli Musnad Al Imam Asy Syafii
Judul Buku Musnad Imam Syafii [1 Set 2 Jilid Lengkap ]
Jumlah Jilid Lengkap 2 Jilid Lengkap
Penerbit / Publisher Pustaka Azzam
Pentahqiq Said Muhammad Al Lihham, Hayat Syaiban Al Ladaqi
Penulis Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafii
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 15 x 23.5 cm