• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Hadits-Hadits Dha’if dan Maudhu [ Jilid 1 ] Penulis: ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat Fisik : Buku ukuran s edang, hardcover, 458 hal Penerbit: Pustaka Muawiyah

Harga: Rp 100.000  Rp 80.000

- +

Dalam beberapa hadits, Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- memberikan ancaman kepada siapa saja yang berdusta atas nama beliau, sebagian diataranya adalah hadits, yang artinya:
1. Dari Abi Hurairah, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Barangsiapa yang berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka. "
(Hadits shahih mutawatir riwayat Bukhari juz 1 hal 36 dan Muslim juz 1 hal 8 dan lain-lain).
2. Dari Abi Hurairah, dia berkata: Telah bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Barangsiapa yang membuat-buat/mengada-ada perkataan atas (nama)ku yang (sama sekali) tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka.”
( Hadits Shahih riwayat Imam Ahmad bin Hambal dalam Musnad beliau juz 1 hal 321 dan Ibnu majah no. 34)
3. Dari Salamah bin Al Akwa', dia berkata: Aku pernah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mengatakan atas (nama)ku, apa-apa (perka¬taan) yang tidak pernah aku ucapkan, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka. "
(Hadits shahih riwayat Bukhari juz 1 hal 35 dan lain-lain.)
Hadits ini juga di keluarkan oleh Imam Ahmad (juz 4 hal 47). Kemudian Imam Ahmad meriwayatkan lagi (juz 4 hal 50) dengan lafazh:
“Tidak seorangpun yang berkata atas (nama)ku dengan batil atau (dia mengucapkan) apa saja (perkataan) yang tidak pernah aku ucapkan, melainkan tempat tinggalnya di neraka.”
4. Dari Anas bin Malik, dia berkata: Sesungguhnya yang menghalangiku/mencegahku menceritakan/meriwayat-kan hadits yang banyak kepada kamu, (ialah) karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, "Barangsiapa yang sengaja berdusta atas (nama)ku, maka hendaklah ia mengambil tempat tinggalnya di neraka. "
(Hadits shahih riwayat Bukhari juz 1 hal 35 dan Muslim juz 1 hal 7 dan lain-lain).
5. Dari Amir bin Abdullah bin Zubair, dari bapaknya (yaitu Shahabat Abdullah bin Zubair), dia berkata: Aku pernah bertanya kepada Zubair bin 'Awwam ( bapak beliau), "Kenapakah aku tidak pernah mendengar engkau menceritakan (hadits yang banyak) dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana aku mendengar dari Ibnu Mas'ud dan si fulan dan si fulan?"
Beliau (Zubair bin Awwam) menjawab, "Adapun aku tidak pernah berpisah dari Rasulullah shallallahu 'alaihiwa sallam semenjak aku masuk Islam. Akan tetapi aku pernah mendengar dari beliau satu kalimat, yaitu beliau bersabda: Barangsiapa yang berdusta/ berbohong atas (nama) ku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka."
(Hadits shahih riwayat Bukhari juz 1 hal 35 dan Abu Dawud (no 3651) dan Ibnu Majah (no 36) dan lain-lain. Dan lafazh di atas dari riwayat Ibnu Majah.)
Dua riwayat di atas dari dua orang Shahabat besar yaitu Anas bin malik dan Zubair bin Awwam, menunjukan betapa sangat hati-hatinya para Shahabat di dalam meriwayatkan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan segala sesuatu yang disandarkan. kepada beliau.
Dan masih ada beberapa hadits shahih yang semakna dengan hadits diatas.

Apa Makna berdusta atas nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ?

Berdusta atas nama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ialah:
"Menyandarkan sesuatu kepada beliau baik berupa perkataan (qaul) atau perbuatan (fi'il) atau taqrir (yakni persetujuan beliau atas perkataan atau perbuatan Shahabat) dan segala sesuatu yang disandarkan kepada beliau dengan cara berbohong atas nama beliau shal-lallahu 'alaihi wa sallam. Sama saja, apakah untuk masalah-masalah hukum, targhib dan tarhib, keutamaan amal, nasehat, tafsir atau tarikh dan lain-lain. Semuanya adalah haram dan termasuk berbohong atas nama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam." Hadits atau (lebih tepat nya) riwayat dusta yang disandarkan atas nama Nabi , oleh para ulama Ahli hadits dikenal dengan hadits atau riwayat maudhu' atau palsu.
Yaitu:
"Hadits yang dibuat-buat/diada-adakan/diciptakan orang secara dusta atas nama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam baik dengan sengaja atau tidak sengaja. Dengan tidak sengaja itu maksudnya dengan sebab kebodohan atau kekeliruan atau kesalahannya. Meskipun dia tidak secara langsung berdusta, akan tetapi tetap saja kabarnya dinamakan kabar maudhu' atau palsu.
Oleh karena itu hadits tidak boleh diambil dari orang-orang yang jahil/bodoh atau yang bukan ahlinya dan lain-lain cacat sebagaimana telah diterangkan dengan luas oleh para Ulama ahli hadits seperti oleh Imam Muslim di mucjaddimah kitab Shahihnya.
(lihat: Muqaddimoh Ibnu Shalah hal 47. Syarah Nukhbatul Fikr hal 80 oleh Ibnu Hajar. Al Wadh'ufil Hadits juz 1 hal 107. Taujihun Nazhar ila Ushulil Atsar hal 252.) Kemudian untuk mengetahui bahwa satu hadits itu maudhu' atau palsu dan tidak ada asal usulnya tidaklah mudah dan bukan sembarang orang kecuali pa¬ra imam ahli hadits atau para ulama yang mahir dan ahli dan luas pengetahuannya tentang Sunnah. Mereka memiliki kemampuan yang khusus tentang Sunnah atau hadits, jarh dan ta'dil-nya, tarikh para rawi, thuruqul hadits (jalan-jalan hadits) dan lain-lain yang berhubungan dengan ilmu yang mulia ini.
Telah berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani di Muqaddimah kitab Silsilah Shahihah (jilid 4):
"Tashhih dan tadh'if adalah satu amal/perbuatan ilmiyyah yang sangat teliti sekali. Menuntut pengeta¬huan yang baik terhadap ilmu hadits dan ushulnya (yakni dasar-dasar atau asasnya), ini dari satu sisi. Dan pengetahuan yang sangat dalam terhadap thuruqul hadits (jalan-jalan hadits) dan sanad-sanadnya dari sisi yang lain."
Telah berkata Imam Adz Dzahabi Syaikhul Jarh wat Ta'dil di kitab Mushtalahul hadits-nya yaitu Al Muuqizhoh (hal: 22):
"Berbicara tentang rawi-rawi (hadits) membutuhkan ke-wara'an (kehati-hatian) yang sempurna serta terbebas dari hawa nafsu dan keberpihakkan. Dan memiliki pengetahuan yang sempurna terhadap hadits dan 'illat-'illatnya (penyakit-penyakit hadits) dan rijal nya (rawi-rawi hadits)."
(Baca juga kitab beliau Tazhkirutul Huffazh juz 1 hal 4. Dan kitab Ar Raddul Waafir (hal: 14) oleh Imam Ibnu Nashiruddin Ad Dimasyqy)
Adapun mereka yang tidak mempunyai bagian sama sekali di dalam ilmu yang mulia ini ( tidak ahli dalam ilmu mulia ini), mereka yang hanya melemahkan atau mengatakan bahwa hadits ini maudhu' karena hawa nafsu dan ra'yu atau fikiran-fikiran mereka yang batil yang menyalahi Al Kitab dan Sunnah, mereka yang pekerjaannya sehari-hari menggugat Sunnah yang shahih, maka mereka yang zhalim dari para penentang Sunnah shahihah ini, sama sekali perkataannya tidak boleh didengar bahkan wajib ditentang dan dibuka aurat kebodohan mereka dan umat diberi penjelasan akan tipu daya mereka yang sangat berbahaya bagi Agamanya kaurn muslimin.

Pemeliharaan terhadap Hadits/Sunnah

Meskipun hadits-hadits itu telah banyak di-palsu-kan orang dan sebaliknya tidak sedikit pula dari hadits-hadits yang shahih yang didustakan, ditolak, digugat dan dihujat, akan tetapi Allah 'Azza wa Jalla tetap memelihara dan menjaga kesempurnaannya terus menerus sampai hari kiamat. Karena Dia telah berfirman yang artinya:
" Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz Zikra (Al Qur'an) ini, dan sesungguhnya Kami jugalah yang akan (tetap) menjaganya." (Surat Al Hijr ayat 9.)
Di dalam ayat yang mulia ini Allah menegaskan bahwa Dia-lah yang menurunkan Al Qur'an dan Dia oigalah yang akan tetap memeliharanya. Yang dimaksud dengan pemeliharaan di atas ialah pemeliharaan dan penjagaan terhadap dua dasar hukum Islam yaitu Al Qur'an dan As Sunnah:
Pertama: Pemeliharaan terhadap lafazh-lafazh Al Qur'an dari awal sampai akhir surat, dari pertama kali dirurunkan sampai hari kiamat. Tidak ada satupun makluk yang akan sanggup merubah atau mengganti atau menghilangkan lafazh-lafazhnya.
Kedua: Pemeliharaan dan penjagaan terhadap tafsirnya yakni penjelasannya atau apa yang dimaksud oleh Al Qur'an. Dan ini adalah bagiannya Sunnah atau hadits sebagai pentafsir Al Qur'an. Karena Allah telah memerintahkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjelaskan Al Qur'an kepada manusia sebagaimana firman-Nya:
"Dan Kami turunkan kepadamu Adz dzikra (Al Qur'an ) ini, agar supaya engkau menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka (yakni dari Tuhan mereka), dan agar supaya mereka berfikir." (Surat An Nahl ayat 44)
Seperti contoh dalam amalan Ibadah Sholat.
Allah Jalla wa 'Alaa tidak menjelaskan di dalam Al Qur'an bagaimana cara mendirikan shalat dari takbir sampai salam. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskannya dari awal sampai akhir secara tafshil (terperinci) berdasarkan perintah Allah di atas.
Maka, apabila hadits tidak terpelihara, Al Qur'an pun tidak terjaga. Dengan demikian kita tidak bisa mengamalkan Al Qur'an karena yang menafsirkannya yaitu Sunnah atau hadits tidak dijaga.
Maka apabila Al Qur'an terpelihara, Sunnah atau hadits pun dengan
sendirinya terjaga. Karena Sunnah atau hadits adalah wahyu yang kedua setelah wahyu yang pertama yaitu Al Qur'an sebagaimana firman Allah 'Azza wa Jalla:
"Dan dia (Muhammad) tidak berbicara dengan hawa nafsunya. Melainkan wahyu yang di wahyukan (kepadanya)." (Surat An Najm ayat 3 & 4 ).
Ketika Imam Abdullah bin Mubarak -rahimahulloh- (seorang imam dan mujahid besar dari tabi'ut tabi'in wafat tahun 181 H) ditanya tentang beredarnya hadits-hadits maudhu' /palsu, beliau menjawab bahwa nanti akan hidup orang-orang yang ahlinya yang akan membelanya (yakni menjaga dan mempertahankan hadits). Kemudian beliau membaca firman Allah di atas (yaitu di dalam surat Al Hijr).
Inilah salah satu buku yang berusaha merujuk kepada buku-buku Ulama pakar/Ahli Hadits dalam upaya untuk mengungkap hadits-hadits lemah dan palsu yang beredar di masyarakat dengan lisan dan tulisan

 

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
Judul Buku Hadits-Hadits Dhaif dan Maudhu [ Jilid 1 ]
Jumlah Halaman 458 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka Muawiyah bin Abi Sufyan
Penulis ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 16 x 24.5 cm