• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Cinta Rasul :Antara Sikap Berlebihan Dan Menyepelekan, Penerbit Pustaka darul Haq

Harga: Rp 40.000  Rp 32.000

- +

       Suatu keniscayaan bahwa iman seorang Muslim itu tidak terwujud melainkan dengan mencintai Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- dan mengagungkannya. Sebab, beliau adalah Rasul Allah terakhir dan penutup para nabi. Allah berfirman,
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. " (Al-Ahzab: 40).

Beliau memiliki akhlak yang luhur, dengan kesaksian Rabb semesta alam,
"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung." (Al-Qalam: 4).

Lemah lembut, tidak keras, tidak berhati kasar:
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (AH Imran: 159).

Beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam- Sangat menginginkan agar manusia mendapatkan hidayah. Beliau nyaris mencelakakan dirinya karena bersedih karena sangat mengharapkan keimanan mereka.
"Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman." (Asy-Syu'ara: 3).
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi pe nyayang terhiadap orang-orang Mukmin." (At-Taubah: 128).

Tatkala kita paparkan hal-hal yang mengharuskan kita untuk mencintai dan mengagungkannya, maka kita tidak akan mampu memenuhi haknya. Al-Qur'an telah mengingatkan hak-hak tersebut. Di antara yang menunjukkan hak-haknya ialah Firman Alloh Subhanahu Wa Ta'ala ,
"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawat-lah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan RasulNya, Allah akan mclaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang mennghinakan." (AI-Ahzab: 56-57)

"Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan RasulNya, menguatkan (agama) Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepadaNya di waktu pagi dan petang." (Al-Fath: 8-9).
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari." (Al-Hujurat: 1-2).

Dan ayat-ayat lainnya yang menjelaskan kedudukan dan keagungan "penghulu anak keturunan Adam".

      Kita telah melihat contoh-contoh mengenai cinta dan pengagungan ini pada kalangan yang benar-benar mengetahui kedudukan beliau, orang-orang yang lebih dahulu beriman dan beramal shalih, yaitu para sahabatnya. Merekalah contoh-contoh dalam hal mencintai, mengagungkan, mengikuti dan berkorban untuk beliau. Semua orang sesudah mereka mendekati figur-figur ini atau semakin jauh.

Cukuplah kita menyebutkan dua contoh yang menjelaskan kecintaan dan pengagungan mereka kepada beliau. Adalah Urwah bin Mas'ud ats-Tsaqafi -rahimahulloh- ketika masih musyrik dan berunding dengan Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- dalam perjanjian Hudaibiyah, melihat dari para sahabat sesuatu yang pantas untuk direkam dan memberikan peringatan kepada kaumnya. Tatkala ia kembali kepada kaum Quraisy, ia berkata, "Wahai kaumku! Demi Allah, aku telah diutus menjadi delegasi kepada para raja. Aku telah diutus menjadi delegasi kepada Kaisar, Kisra dan Najasyi. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh para sahabatnya sebagaimana yang dilakukan para sahabat Muhammad kepada Muhammad. Demi Allah, tidaklah ia berdahak melainkan pasti jatuh ditelapak tangan seseorang dari mereka lalu mengusapkannya pada wajah dan kulitnya. Jika ia memerintahkan kepada mereka, maka mereka bersegera melaksanakan perintahnya. Jika ia berwudhu, maka mereka berebut bekas air wudhunya. Jika ia berbicara, maka mereka merendahkan suara mereka di sisinya, dan mereka tidak menatap tajam kepada beliau karena mengagungkannya." [AI-Bukhari, 3/ 178, no. 2731, 2732; al-Fath, 5/ 388]

Dan inilah Anas bin an-Nadhr -rahimahulloh- dalam perang Uhud, ketika kesedihan mulai reda, pada tubuhnya didapati lebih dari 80 luka, terkena panah dan tusukan. Tidak ada yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya, ar-Rubayyi' -Rodliallahu Anha- . Ia mengenalinya lewat jari telunjuknya. Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- , mengutus Zaid bin Tsabit setelah peperangan untuk mencarinya. Zaid mendapatinya dalam keadaan susah payah. la menjawab salam Rasulullah, kemudian berkata, "Aku telah mendapatkan aroma surga. Katakanlah kepada kaumku dari kalangan Anshar, Tidak ada alasan bagi kalian di sisi Allah untuk tidak tulus kepada Rasulullah sedang di tengah-tengah kalian ada kelopak mata yang berair." Kedua matanya pun mengeluarkan air mata [diriwayatkan Ibnu Ishak dengan sanad yang para perawinya terpercaya, sebagairnana disebutkan dalam al-Majmu', Lihat, as-Sirah an-Nabawiyyah fi Dhau' Mashadiriha al-Ashilah, Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad, hal. 387]

Tidak diragukan lagi bahwa contoh-contoh ini sendiri merupakan pengaruh kebesaran Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Tetapi, ketika cahaya kenabian melemah dalam kehidupan umat dan mereka kurang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi mereka, maka pengagungan tersebut juga melemah. Lalu sebagian kalangan yang terperdaya mencoba -baik karena kebodohan maupun kealpaan menutupi kelemahan tersebut dengan mengadakan beberapa sermonial/acara-acara dan perayaan-perayaan yang tidak pernah dikenal oleh "sebaik-baik umat yakni para sahabat nabi" yang mengagungkan Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- .

Demikian pula pemikiran Irja'i (yang dipengaruhi paham Murjiah) yang menyertai penyimpangan ini mendukung bahwa mencintai Rasul -Sholallahu Alaihi Wassalam- itu cukup sekedar kalimat-kalimat pujian yang dinyanyikan oleh para penyenandung (munsyidun) dalam perayaan Maulid dan berbagai momentum lainnya, tanpa memiliki pengaruh sedikit pun -baik amalan maupun ittiba- terhadap kalangan yang menyangka mencintai dan mengagungkan beliau. Apalagi setiap kali kebodohan dan kelalaian itu menguat, maka semakin bertambah pula sikap berlebih-lebihan dan penyimpangan yang pernah diperingatkan oleh Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam sendiri dalam banyak hadits.


      Tetapi kecintaan yang naif dan sikap berlebih-lebihan yang tersusun rapi telah menyebar di tengah-tengah komunitas umat ini, mengingat karena ia mengambil bentuk dan sarana kemasyarakatan. Senandung misalnya, yang memang disenangi jiwa, kum-pul-kumpul dan pesta-pesta yang dianggap momentum untuk bersenang-senang bagi kalangan yang hidup dalam kegersangan. Perayaan-perayaan itu juga merupakan masa-masa untuk meraup banyak rizki bagi sebagian kalangan yang mengambil keuntungan, dan kesempatan untuk menyebarkan bid'ah yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang. Di samping apa yang diklaim oleh sebagian orang yang baik-baik, bahwa itu menjadi peluang untuk memberikan peringatan dan dakwah agama.

      Karena itu dirasa perlu untuk menjelaskan hukum syar'i tentang semisal maulid ini. Harus pula dijelaskan mengenai muncul-nya pujian-pujian kepada Nabi dan perkembangannya sepanjang sejarah, serta memberikan perhatian kepada kasidah termasyhur dalam masalah ini, yaitu kasidah Burdah karya al-Bushairi.

Masalah ini harus dikembalikan kepada akar permasalahan-nya dan tidak cukup dengan mengatasi persoalan yang parsial. Akar penyimpangan ini bermula dari klaim, mengaku-ngaku cinta, dan al-Qur'an telah menegaskan dalil-dalil tentang mahabbah dalam ayat yang qath'i,
"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imran: 31).

Cinta itu berkonsekuensi kepada ittiba" (mengikuti), bukan mengada-ada atau bid'ah. Karena itu harus dijelaskan beberapa aspek mengenai masalah ittiba ini. Demikian pula penting sekali menjelaskan metode (manhaj} yang tidak bid'ah mengenai cinta dan pengagungan, yaitu manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Mencintai Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam termasuk di antara kewajiban fundamental bagi setiap Muslim, karena Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda "Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga aku lebih dia cintai daripada anaknya, bapaknya, dan semua manusia."

Di tengah kaum Muslimin, -daiam masalah mencintai Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam - terdapat dua kelompok ekstrim.

Kelompok pertama,

Mencintai Nabi secara berlebihan, sehingga secara tidak sadar mereka telah memposisikan beliau layaknya sederajat dengan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang mampu memberikan manfaat dan menghilangkan mudarat.
Perhatikanlah ulasan tentang al-Burdah di dalam buku ini; niscaya Anda akan mendapatkan bahwa kecintaan dan pujian berliebihan terhadap beliau, telah menjerumuskan sebagian kaum Muslimin ke lembah syirik.

Kelompok kedua adalah sebaliknya, bersikap lalai, meremehkan, dan asal-asalan dalam menjalankan kewajiban mencintai Nabi sehingga mereka hampir tidak mengenal beliau kecuali nama belaka.

Kedua titik ekstrim ini tidak memiliki tempat dalam Syariat dan as-Sunnah yang Nabi ajarkan,

Apa saja bentuk-bentuk penyimpangan dalam mencintai Nabi?
Apakah memperingati maulid termasuk bagian dari ungkapan rasa cinta kepada beliau ?
apa saja kewajiban seorang Muslim kepada beliau?
Bagaimana bentuk-bentuk kecintaan kepada Nabi yang sesuai dengan Syariat Islam?
Bagaimana sikap tengah Mengah Ahlus Sunnah yanq mesti kita ikuti?

Simak bahasan-nya dalam buku ini

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
ISBN 9789793407265
Judul Asli Huquq An nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- baina Al ijlal wa Al ikhlal
Judul Buku Cinta Rasul :Antara Sikap Berlebihan Dan Menyepelekan
Jumlah Halaman 236 hlm
Penerbit / Publisher Darul Haq
Penulis Syaikh Dr Shalih bin fauzan Al fauzan; Syaikh Dr Abdul Aziz bin Muhammad Alu Abdul lathif; Syaikh Abdul latif bin Muhammad Al Hasan; Syaikh Abduloh bin Shalih Al Khudhairi; Syaikh faishol bin Ali Al Ba'dani; Syaikh Abdul karim AL Hamdani; Syaikh Sulaiman
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 15.5 x 24 cm