• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka At-Taqwa Manhaj Ahlus Sunnah dalam Tazkiyatun Nufus Penulis : Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas; Penerbit : pustaka At Taqwa .. Product #: ATQ-0025 Regular price: Rp 30.000 Rp 30.000

Manhaj Ahlus Sunnah dalam Tazkiyatun Nufus

Harga: Rp 30.000  Rp 24.000

- +

Sesungguhnya diantara tugas para Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam yang terpenting adalah tazkiyatun nafs ( mensucikan jiwa).
Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
"Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur-an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. All 'Imran: 164)
Allah Ta'ala berfirman,
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf  seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As-Sunnah) Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Jumu'ah: 2)
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa yang kebaikannya membuat dia senang dan kesalahannya membuat dia susah (menyesal) maka dia seorang mukmin.” [Shahih: HR. Ahmad (V/251, 252, 256), Ibnu Hibban (no. 103-al-Mawaariid), al-Hakim (1/14,11/13), 'Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (no. 20104), dan ath-Thabrani dalam al-Mu'jamul Kabiir (no. 7539, 7540) dari Shahabat Abu Umamah radhiyallaahu 'anhu.]      Sesungguhnya tazkiyatun nufus (mensucikan jiwa), membersihkannya dari segala kotoran dan meningkat-kannya menuju kemuliaan akhlak merupakan salah satu tujuan penting diutusnya Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur-an dan As-Sunnah.
Allah Ta'ala berfirman,
Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, mensucikan kamu, dan mengajarkan kepada kamu Kitab (Al-Qur-an) dan Hikmah (As-Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah: 151)
Mengenai tafsir ayat di atas, Syaikh 'Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullaah mengatakan, "Allah Ta'ala berfirman, 'Sesungguhnya nikmat yang Kami berikan kepada kalian dengan menghadapnya kalian ke arah Ka'bah, menyempurnakannya dengan syari'at, dan nikmat-nikmat penyempurna, semua itu bukanlah kebaikan Kami yang baru dan yang pertama kali. Bahkan, Kami telah memberikan nikmat kepada kalian dengan pokok segala nikmat dan penyempurnanya, dan yang paling tinggi ialah Kami mengutus kepada kalian seorang Rasul yang mulia dari kalangan kalian sendiri, kalian mengenal nasabnya, kejujurannya, amanahnya, kesempurnaannya, dan nasihatnya.'
"Yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Kami." Ini mencakup ayat Al-Qur-an dan selainnya. Dia membacakan kepada kalian ayat-ayat yang men-jelaskan kebenaran atas kebathilan, petunjuk atas ke-sesatan, yang membimbing kalian, dan pertama kali adalah untuk mentauhidkan Allah dengan sempurna, membenarkan Rasul-Nya, kewajiban beriman kepada-nya, serta kewajiban beriman kepada seriap kabar yang beliau sampaikan berupa janji dan perkara-perkara ghaib sehingga kalian memperoleh hidayah yang sempurna dan ilmu yang yakin.
“Dan mensucikan kamu," maksudnya, mensucikan jiwa dan akhlak kalian dengan mendidik-nya di atas akhlak yang mulia dan mensucikannya dari akhlak yang tercela. Itu semua sebagaimana beliau membersihkan mereka dari syirik kepada tauhid dari riya' kepada ikhlas, dari dusta kepada kejujuran, dari khianat kepada amanat, dari sikap takabbur (sombong) kepada tawadhu', dari akhlak yang jelek kepada akhlak yang baik, dari sikap saling membenci, saling men-jauhi, dan saling memutuskan hubungan kepada sikap saling mencintai, saling menyambung hubungan, dan saling menyayangi, dan selain itu dari bentuk-bentuk pensucian jiwa.
“Dan mengajarkan kepada kamu Kitab' yakni Al-Qur-an, baik lafazh-lafazhnya maupun makna-maknanya.
"Dan Hikmah" Ada yang berpendapat: yaitu As-Sunnah. Ada juga yang berpendapat: hikmah ddalah pengetahuan serta pemahaman terhadap rahasia-rahasia syari'at serta menempatkan suatu perkara pada k'mpatnya. Dengan pengertian ini maka mengajarkan As-Sunnah masuk dalam pengertian mengajarkan Al-Qur-an, karena As-Sunnah menjelaskan, menafsir-kan, dan menerangkan Al-Qur-an.
"Serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui." Sebab, sebelum diutusnya beliau mereka dahulu berada dalam kesesatan yang nyata,
tanpa ilmu dan amal. Setiap ilmu dan amal yang di-peroleh umat ini adalah berkat usaha beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam dan dengan sebab beliau semua itu terwujud. Nikmat ini adalah pokok nikmat secara mutlak, ia merupakan nikmat terbesar yang diberikan kepada para hamba-Nya sehingga kewajiban dan tugas mereka ialah bersyukur kepada Allah Ta'ala dan melaksanakannya.” [ lihat : taisif karimir rahman]Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa salah satu tugas beliau adalah meletakkan kaidah tazkiyatun nufus (membersihkan hati manusia) dari berbagai macam kotoran dan penyakit.
Semua ini membuktikan bahwa tazkiyatun nufus mempunyai peran penting dalam membentuk sebuah masyarakat yang Islami di atas manhaj Nubuwwah dan sebuah upaya yang sungguh-sungguh dalam membangun kembali kehidupan yang Islami.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullaah berkata, "Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak mencipta-kan manusia dengan sia-sia dan diacuhkan, tetapi Dia membebani kewajiban kepada mereka, memberikan perintah dan larangan. Allah mewajibkan mereka untuk memahami petunjuk-Nya, baik secara global maupun terperinci. Allah membagi mereka kepada orang-orang yang celaka dan orang-orang yang bahagia. Bagi setiap dari kedua golongan ini ada tempatnya. Allah Sub-hanahu wa Ta'ala memberikan kepada mereka ilmu dan amal, berupa hati, pendengaran, penglihatan, dan ang-gota tubuh sebagai nikmat dari Allah dan keutamaan dari-Nya. Barangsiapa yang menggunakan semua ini untuk taat kepada Allah dan menempuh jalan untuk mengenal-Nya dengan apa yang Allah telah berikan bimbingan kepadanya dan ia tidak berpaling, maka sungguh ia telah bersyukur dengan apa yang Allah telah berikan kepadanya dan ia telah menempuh jalan menuju keridhaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Adapun barangsiapa yang menggunakannya untuk mengikuti keinginan (nafsu) dan syahwatnya, serta tidak menjaga hak-hak Allah, maka ia akan rugi apabila ia ditanyakan atas kesemuanya itu. Dia akan bersedih dengan ke-sedihan yang panjang, karena sungguh akan ada hisab (perhitungan) atas seluruh anggota tubuh ini. Sebagai-mana Allah Ta'ala telah berfirman,
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung-jawabannya." (QS. Al-!sraa': 36)
     Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan kepada manusia akal, hati, pendengaran, penglihatan, dan anggota tubuh yang lain untuk melaksanakan syari'at-Nya. Apabila mereka menggunakannya untuk taat kepada Allah, maka mereka adalah orang-orang yang hatinya sehat dan selamat, serta diberikan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Adapun orang-orang yang menolak, mengingkari, atau tidak menggunakan karunia tersebut dengan sebaik-baik-nya, maka mereka adalah orang-orang yang celaka dan sengsara di dunia dan di akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kedudukan dan tempat untuk masing-masing kelompok, bagi golongan orang yang bahagia maupun golongan orang yang celaka. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi¬kan bahan bagi mereka untuk ilmu dan amal, berupa hati, penglihatan, pendengaran, akal, dan anggota tubuh yang lainnya.
Allah Ta' ala berfirman,
"Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang apabila menampakkannya, demi malam apabila menutupinya (gelap gulita), demi langit serta pembinaannya (yang menakjubkan), demi bumi serta penghamparannya, demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia telah mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang mensucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 1-10)
Allah Subhanahu wa Ta'ala, setelah Dia bersumpah dengan makhluk-Nya agar memperhatikan alam se-mesta serta jiwa yang Allah ciptakan dan menyem-pumakannya, kemudian Allah mengilhamkan manusia kepada jalan yang baik dan kepada jalan yang buruk. Kemudian Allah berfirman, "Sungguh beruntung orang yang mensucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." Makna-nya adalah: beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya, yaitu dengan melakukan ketaatan kepada Allah dan membersihkannya dari akhlak-akhlak yang tercela dan hal-hal yang hina. Hal ini diriwayatkan dari Qatadah, Mujahid, 'Ikrimah, dan Sa'id bin Jubair. Dan seperti firman-Nya, "Sungguh beruntung orang yang mensucikan diri (dengan beriman), dan mengingat Rabb-nya lalu ia shalat." (QS. Al-A'laa: 14-15).
"Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya." Maksudnya, mengotorinya dengan berbuat maksiat dan meninggalkan ketaatan kepada Allah 'Azzawa Jalla*
    Buku  ini menjelaskan tentang pentingnya membersihkan hati serta hal-hal apa saja yang dapat mengotori hati dan bagaimana kiat-kiat dalam membersihkan hati menurut cara yang benar. Dan buku ini penulis beri judul:
'Manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam Tazkiyatun Nufus"
Penulis membahas dan memilih judul buku in| dikarenakan beberapa sebab:
1.   Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan manusia untuk membersihkan hati, agar hati bersih dan selamat. Dan yang bermanfaat di hari Kiamat adalah hati yang selamat.
2. Di antara tugas Rasulullah yang paling penting adalah tazkiyatun nufus, oleh karena itulah beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam  memulai dakwahnya dengan tazkiyah (tashfiyah) dan tarbiyah.
3.   Hati mempunyai pengaruh yang kuat dalam tubuh manusia, karena hati adalah rajanya. Apabila hati baik, maka seluruh tubuhnya akan baik; dan jika
hati jelek/buruk maka seluruh tubuhnya akan jelek/buruk.  
4. Kebanyakan manusia lalai terhadap hati mereka. Kebanyakan orang yang sibuk belajar, menuntut ilmu, dan memperhatikan Sunnah-sunnah Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam dan memperdalam ilmu ushul hadits, tafsir, ushul fiqih, dan lainnya -meskipun hal ini baik, penting dan bermanfaat-akan tetapi sebagian dari penuntut ilmu tersebut lalai untuk membahas amal-amal hati, penyakit dan obatnya. Padahal, membahas amal-amal hati, penyakit dan obatnya adalah lebih penting, lebih manfaat, dan mempunyai pengaruh besar terhadap amal lahir dan batin.
5. Kebanyakan musykilah (problem) yang terjadi di antara manusia -khususnya sebagian penuntut ilmu-disebabkan karena penyakit-penyakit hati, seperti: riya', hasad (dengki), iri, sombong, melecehkan orang lain, buruk sangka, tamak, rakus kepada dunia, dan lain sebagainya.
Sesungguhnya kebersihan dan keselamatan hati dari setiap kotoran merupakan faktor kebahagiaan. Bersih dan selamatnya hati dari syirik, riya', bid'ah, dengki, iri, permusuhan, dan penyakit-penyakit lain merupakan sebab kebahagiaan, ketenangan, ketentraman dunia dan akhirat.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
Judul Buku Manhaj Ahlus Sunnah dalam Tazkiyatun Nufus
Jumlah Halaman 144 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka At Taqwa
Penulis Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas
Penulis Buku Ukuran Sedang 13.5 x 20 cm