• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka Imam Syafii Manhaj Aqidah Imam Asy Syafii Penulis :Syaikh Dr Muhammad bin Abdul Wahab Al Aql, Penerbit : Pustaka Imam Syafii .. Product #: PIS-00028 Regular price: Rp 130.000 Rp 130.000

Manhaj Aqidah Imam Asy Syafii

Tidak diragukan bahwa Imam Syafi'i rahimahullah adalah salah seorang ulama besar yang karismatik yang namanya tidak asing lagi bagi kaum muslimin, beliau termasuk sosok ulama pembaharu agama yang mempunyai jasa besar dan memiliki usaha yang mulia lagi berkah dalam mengajak umat untuk kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah dan mendidik mereka di atas landasan Tashfiyah dan Tarbiyah.
Manhaj Imam Syafi'i dalam aqidah dan prinsip-prinsip beliau dalam beragama adalah manhaj dan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah, tidak ada perbedaan, mereka mengambil dari sumber yang sama, yaitu al-Qur'an dan Sunnah yang difahami sesuai pemahaman para Shahabat -Rodliallohu Anhum- . Oleh karena itu perkataan Imam Syafi'i dan perkataan imam-imam Ahlus Sunnah yang lain seperti Imam Ahmad bin Hambal, Malik, Abu Hanifah, al-Auza'i, ats-Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Abdullah bin Mubarak, dan yang lain tentang aqidah dan prinsip-prinsip beragama adalah sama, tidak ada kontradiksi dan perbedaan kecuali da¬lam redaksinya saja [Lihat Manazil al-Aimmah al-Arba'ah, Abu Zakaria Yahya bin Ibrahim as-Salmasi asy-Syafi'i (hlm. 54-55)-]
Betapa bagusnya ungkapan Imam Abu Muzhaffar as-Sam'ani—beliau adalah salah seorang ulama Syafi'iyyah—yang mengatakan, "Jika kamu memperhatikan/membaca seluruh kitab-kitab karya mereka (Ahlus Sunnah) dari pertama sampai terakhir, yang klasik dan kontemporer, sedang zaman mereka berbeda dan tempat tinggalnya berjauhan, masing-masing tinggal di tempat yang terpisah, niscaya kamu dapatkan mereka dalam menjelaskan aqidah (prinsip-prinsip dasar agama) dengan metode yang sama dan cara yang tidak berbeda, mereka mengikuti sebuah metode yang tidak akan melenceng dan condong darinya, perkataan mereka dalam hal tersebut satu, kamu tidak dapatkan kontradiksi dan perbedaan di antara mereka dalam suatu perkara sedikit pun, bahkan jika kamu kumpulkan apa yang keluar dari mulut mereka dan apa yang mereka nukilkan dari salaf (pendahulu) mereka, niscaya kamu dapati seolah-olah hal (perkataan) itu keluar dari satu hati dan muncul dari satu lisan.” [lihat ; Fushul Min Kitab al-Intishar li Ashhabil Hadits him. 46 dan lihat al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2/224-225]
Adakah bukti yang lebih nyata yang menjelaskan akan kebenaran daripada ini ? Nah, apakah rahasia dan penyebab yang menjadikan mereka bersatu dalam aqidah dan prinsip-prinsip beragama? Tiada lain adalah karena mereka semuanya mengambil agama dari sumber yang satu, yaitu al-Qur'an dan Sunnah yang Shahih yang difahami para Shahabat rosul dan pengikutnya. Adapun orang-orang yang mengambil aqidah dan agamanya dari selain al-Qur'an dan Sunnah, seperti akal, logika, dan mimpi, maka mereka selalu dalam perselisihan yang tajam dan kontra¬diksi yang dahsyat, habis umur mereka tetapi tidak pernah bersatu dalam aqidah dan prinsip-prinsip beragama, kamu menyangka mereka bersatu tetapi hati mereka bercerai-berai dan bermusuhan, tentu ini adalah bukti kebatilan yang nyata dan kesesatan yang jauh. Allah Ta'ala berfirman:
Kalau kiranya al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. an-Nisa' [4]: 82)
Inilah pertanda ahlul bid'ah dan seluruh sekte sesat yang menyimpang dari sunnah, mereka selalu dalam pertentangan yang berkepanjangan, adapun Ahlus Sunnah wal Jama'ah apa yang mereka tulis dan katakan semuanya sama tidak ada pertentangan dalam kandungan dan maknanya. Oleh karena itu, jika Anda membaca kitab yang menjelaskan aqidah Imam Syafi'i, atau kitab yang ditulis oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam aqidah, atau kitab yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tentang aqidah atau kitab yang ditulis oleh salah seorang ulama Ahlus Sunnah di zaman sekarang ini, niscaya Anda akan mendapatkan aqidah yang sama dan prinsip-prinsip agama yang tidak berbeda dan tidak berubah.
Aqidah Imam Syafi'i -rahimahulloh- dan prinsip-prinsip beragama beliau adalah aqi-dah dan prinsip beragama ulama Syafi'iyyah yang berjalan di atas manhaj imam mereka dan yang setia menelusuri jejak beliau yang selamat dari bermacam bentuk bid'ah dan syubhat.
Kemudian—sebagaimana yang dimaklumi, zaman Imam Syafi'i masih hidup adalah zaman awal munculnya bid'ah ilmu kalam/filsafat dan bid'ah Shufiyyah ( Sufi Sesat) . Keduanya ada¬lah bid'ah yang sangat berbahaya. Ilmu kalam merusak pemikiran dan keilmuan seseorang, sedang bid'ah Shufiyyah merusak akhlak dan ibadahnya.
Maka dengan penuh kecintaan kepada agama Allah yang mulia ini dan semangat untuk memperjuangkan sunnah Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam serta kesungguhan yang besar untuk memberikan nasihat kepa¬da kaum muslimin, Imam Syafi'I -rahimahulloh- bangkit dengan keilmuan yang beliau miliki untuk menghujat, membantah, dan melawan seluruh bid'ah yang muncul di zaman beliau, sehingga beliau dikenal di kalangan ulama Ahlus Sunnah sebagai seorang imam pembela/pejuang sunnah yang memiliki ketegasan dan kebencian yang dalam terhadap ilmu kalam, sampai beliau mengatakan, "Hukum-ku bagi ahli kalam/filsafat adalah dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan di atas unta kemudian dia dikelilingkan./diarak ke kampung seraya dikatakan kepada khalayak : “Inilah hukuman bagi orang-o¬rang yang berpaling dari al-Qur'an dan Sunnah lalu menuju ilmu kalam/filsafat." [lihat ; Manaqib Syafi'i karya imam al-Baihaqi 1/462]
Akan tetapi, yang sangat mengherankan, munculnya di tengah masyarakat yang menisbahkan diri ( mengaku-ngaku) kepada madzhab Imam Syafi'I ( bermadzab Syafii) , orang orang yang menekuni dan mempelajari ilmu kalam, bahkan mereka mendirikan lembaga-lembaga pendidikan yang berasaskan kepada aqidah ahlul kalam dan filsafat. Fenomena ini tidak khusus pada para pengikut madzhab Imam Syafi'i saja, tetapi juga para pengikut madzhab yang lain, sementara seluruh para imam tersebut telah sepakat dalam mencela dan mengingkari ilmu kalam dan filsafat.
Dan yang sangat aneh bin ajaib lagi, munculnya di kalangan Syafi'iyyah mutakhirin ( pengaku bermadzab Syafii masa sekarang ini) , orang orang yang menulis kitab berdasarkan aqidah ahlul kalam kemudian mereka menisbahkan hal itu kepada Imam Syafi'i seraya mengatakan "Ini adalah aqidah Imam Syafi'i", tentu ini adalah kebohongan yang sangat nyata. Inilah sebenarnya faktor utama yang menyebabkan munculnya kerancuan dan kebimbangan bagi para pemula dalam menuntut ilmu dalam mempelajari aqidah dan prinsip-prinsip beragama Imam Syafi'i, sementara aqidah beliau yang benar adalah aqidah dan prinsip-prinsip dasar para imam Ahlus Sunnah yang lain sebagaimana yang telah diutarakan di atas.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahulloh- pernah ditanya tentang dua orang—ke-duanya bermadzhab Syafi'i—yang berbeda pendapat dalam masalah aqidah; yang satu mengatakan "Barang siapa yang tidak meyakini bahwa Allah berada di langit, maka ia telah sesat", sedang yang kedua mengatakan "Sesungguhnya Allah tidak berada di suatu tempat." Ditanyakan: "Maka jelaskan kepada kami apa yang harus diikuti dari aqidah Imam Syafi'i dan yang benar dari perkataan di atas?" Beliau Ibnu taimiyah menjawab: "Aqidah Imam Syafi'i dan aqidah para (ulama) salaf seperti (Imam) Malik, ats-Tsauri, al-Auza'i, Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan ia adalah aqidah para masyayikh yang diikuti, seperti Fudhail bin lyadh, Abu Sulaiman ad-Darani, Sahl bin Abdullah at-Tasturi, dan yang lain, maka sesungguhnya tidak ada di antara para imam tersebut dan yang lainnya perbedaan/pertentangan da¬lam perkara ushuluddin (aqidah). Begitu juga Imam Abu Hanifah, maka aqidah yang tetap dari beliau dalam (permasalahan) tauhid dan takdir dan yang semisalnya sesuai dengan aqidah para imam tersebut. Dan aqidah mereka adalah apa yang diikuti/diamalkan oleh para sahabat dan tabi'in yang mengikuti mereka dengan baik, yaitu apa yang dikatakan oleh al-Qur'an dan Sunnah."
Kemudian Syaikhul Islam menukil perkataan Imam Syafi'i, Ahmad, dan Malik tentang aqidah, lalu beliau berkata, "Maka barang siapa yang berbicara tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan sesuatu yang menyelisihi al-Qur'an dan Sunnah, maka ia termasuk pada orang-orang yang berbicara tentang ayat-ayat Allah dengan batil, dan mayoritas dari mereka (ahlul bid'ah) menisbahkan kepada para imam kaum muslimin apa yang tidak mereka katakan. Mereka menisbahkan kepada Imam Syafi'i, Ahmad bin Hambal, Malik, dan Abu Hanifah aqidah-aqidah yang lidak mereka katakan/yakini, seraya berkata kepada para pengikut mereka, 'Ini adalah aqidah imam si fulan', tetapi jika mereka diminta untuk mendatangkan nukilan (perkataan) yang shahih dari para imam tersebut nyata-lah kebohongan mereka.” [lihat : Majmu'Fatawa 5/256-257]
Ini adalah sebuah kaidah yang harus digunakan untuk menghujat setiap orang yang menisbahkan kepada para imam Ahlus Sunnah—di antara-nya Imam Syafi'i—aqidah yang tidak mereka katakan dan yakini, kita menuntut mereka untuk mendatangkan nukilan/bukti ucapan yang shahih dari para imam tersebut, jika mereka tidak bisa mendatangkannya maka jelaslah kebatilan penisbahan tersebut dan kebohongan para pelakunya.
Oleh karena itu, pengikut sejati Imam Syafi'i -rahimahulloh- adalah orang-orang yang mengikuti madzhab beliau dalam permasalahan ushuluddin (pokok-pokok aqidah) dan permasalahan fiqih dan tidak membedakan antara keduanya, adapun orang yang menisbahkan diri kepada beliau dalam permasalah fiqih, tetapi menyelisihinya dalam masalah aqidah dan prinsip-prinsip beragama, atau mengadopsi prinsip gado-gado / campur aduk antara haq dan bathil, seperti ungkapan sebagian mereka: "Madzhab-ku adalah madzhab Syafi'i, Tarekat-ku adalah tarekat Qadiriyah atau Naqsyabandiyah dan Aqidah-ku adalah aqidah Asy'ariyah", tentu ini adalah pernyataan yang aneh dan kontradiksi yang nyata, dan Imam Syafi'i tentu berlepas diri dari orang yang seperti ini, sebab tidak pernah Imam Syafi'i beraqidah Asy'ariyah dan mengikuti tarekat shufiyyah, tarekat beliau adalah tarekat/jalan nya Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- , beliau tiada lain adalah seorang Sunni Salafi ( pengikut para Salaf ) dalam aqidah, ibadah, fiqih, dan akhlak.
Imam al-Karji (wafat 532 H)—beliau adalah salah seorang ulama Syafi'iyyah—telah mencela dan mengingkari dengan keras sikap warna-warni seseorang dalam beragama seraya mengatakan, "Maka mengikuti madzhab salah seorang imam (dalam fiqih) dan menyelisihinya dalam aqidah, demi Allah ini merupakan kemungkaran secara syari'at dan akal, maka barang siapa yang mengatakan: 'Saya bermadzhab Syafi'i dan beraqidah Asy'ari', maka kita katakan: Ini adalah sikap/pernyataan yang kontradiktif, bahkan merupakan penyimpangan dan kesesatan, karena tidak pernah Syafi'i beraqidah Asy'ari.” [Sebagaimana yang beliau katakan dalam kitabnya yang bagus, al-Fushulfil Ushul an al-Aimmah al-Fuhul Ilzaman li Dzawil Bida' wal Fudhul, dinukil oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa 4/177]
Imam Abu Muzhaffar as-Sam'ani juga berkata, "Tidak pantas bagi seorang pun memperjuangkan madzhab Syafi'i dalam perma-salahan furu'iyyah (fiqih) kemudian meninggalkan nianhajnya dalam aqidah.” [Fushul min Kitab al-Intishar Ashhabil Hadits him. 9]
Berangkat dari kenyataan dan fenomena di atas, maka merupakan kewajiban utama dan pertama bagi setiap individu muslim untuk mempelajari aqidah Ahlus Sunnah dan prinsip-prinsip beragama mereka, yang merupakan prinsip beragama seluruh imam Ahlus Sunnah, dan mewaspadai aqidah yang sesat dan prinsip-prinsip yang batil yang dinisbahkan kepada mereka. Inilah di antara faktor utama yang mendorong para ulama, masyayikh ( para Syaikh, Ulama Sunnah), dan thalabatul 'ilmi untuk menulis kitab-kitab yang mengumpulkan perkataan-perkataan para imam Ahlus Sunnah dalam aqidah dan prinsip-prinsip beragama mereka, termasuk dalam hal ini adalah Imam Syafi'i rahimahullah. Di antara kitab yang mengupas dan menjelaskan aqidah Imam Syafi'i sebagai berikut:
1. Manazilu Al Aimmah Arba’ah
karangan Imam Abu Zakaria Yahya bin Ibrahim as-Salmasi (wafat 505 H)—beliau salah seorang ulama Syafi'iyyah. Dalam kitab ini beliau menjelaskan biografi singkat setiap imam, kemudian menukil perkataan mereka tentang aqidah dan prinsip-prinsip beragama. Kitab ini telah dicetak dengan tahqiq Dr. Mahmud Kedah, cet. Universitas Islam Madinah.
2. Al Fushul Fil ushuli ‘anil Aimmatil Fuhuuli ilzaamaan Li dzawiil Bida’ wal Fudlul
karangan Imam Abtil Hasan al-Karji (wafat 532 H)—beliau salah seorang ulama Syafi'iyyah. Dalam kitab ini beliau menukil perkataan seba¬gian imam Ahlus Sunnah dalam aqidah, di antaranya: Imam Syafi'i, Ahmad, Malik, Bukhari, Ibnu Uyainah, ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Laits bin Sa'ad, Ishaq bin Rahawaih, dan yang lain. Tujuan beliau menukil dari para imam tersebut untuk membantah dan menghujat orang-orang yang menisbahkan diri kepada seorang imam dalam masalah fiqih dan menyelisihinya dalam masalah aqi¬dah, karena ini adalah kesesatan yang nyata dan kemungkaran yang besar. Kitab ini belum ditemukan, tetapi sebagian dari pem-bahasannya telah dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam sebagian kitabnya. (Lihat Majmu' Fatawa 4/175-177)
3. Aqidatusy Syafii
karangan al-Allamah Muhammad bin Rasul al-Barzanji (wafat 1103 H)—beliau adalah salah seorang ulama Syafi'iyyah. Kitab ini telah dicetak dengan tahqiq Syaikh Muhammad bin Abdurrahman al-Khumayyis.
4. I’tiqodul Aimmati Arba’ah
karangan Syaikh Dr. Muhammad bin Abdur¬rahman al-Khumayyis, kitab ini telah dicetak. Beliau juga menulis makalah berjudul: ,
5. Manhaj Imam Syafii fii Itsbaatul Aqiidah
karangan Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab al Aqil hafizhahullah, sebuah disertasi yang beliau tulis di Universitas Islam Madinah, dan telah dicetak dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Di antara kitab yang menjelaskan manhaj Imam Syafi'i dalam aqidah dan prinsip-prinsip beragama beliau adalah kitab ini, inilah edisi terjemahnya.

 

 

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover hardcover
ISBN 979-3536-22-5
Judul Asli Manhaj Imam Syafii fii Itsbaatul Aqiidah
Judul Buku Manhaj Aqidah Imam Asy Syafii
Jumlah Halaman 624 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka Imam Syafii
Penulis Dr Muhammad bin Abdul Wahhab al Aqil
Ukuran Fisik Buku buku ukuran sedang 17.5 x 24.5 cm