• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Media Tarbiyah Membela Hadits Nabi Penulis : Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi, Penerbit : Media Tarbiyah .. Product #: TAR-0005 Regular price: Rp 88.000 Rp 88.000

Membela Hadits Nabi

Harga: Rp 88.000  Rp 70.400

- +

Sesungguhnya pokok landasan agama kita yang mulia ini adalah Kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- .
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah berjanji akan menjaga kemurnian Al-Qur'an:
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9)
Jaminan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dalam ayat ini telah terbukti dan tak terbantahkan. Oleh karenanya, selama berabad-abad lamanya, tidak ada seorang pun yang mencoba untuk merubahnya, atau menambahinya, atau menguranginya, atau menggatinya kecualai Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- pasti membongkarnya {lihat kisah menarik tentang hal ini dalam kitab: Al jaami li Ahkaamil Quran ( X/6), Imam Al Qurthubi -rahimahulloh- }
Adapun Sunnah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- juga merupakan wahyu dari Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- yang berfungsi sebagai penjelas Al-Qur'an,
sebagaimana firman-Nya:
"Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran agar kamu (wahai Muham¬mad) menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. " (QS. An-Nahl: 44)
Sebagai seorang Muslim, wajib percaya bahwa setiap apa yang diucapkan oleh Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- pasti benar dan tidak ada kebohongan di dalamnya, karena kita telah mengetahui bersama bahwa apa yang beliau ucapkan adalah berdasarkan bimbingan wahyu dari Allah Rabbul 'aalamiin
"Dan tiadalah yang diucapkan (oleh Muhammad) itu adalah menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. " (QS. An-Najm: 3-4)
Dari 'Abdullah bin 'Amr -Rodliallohu Anhu- , ia berkata, "Dahulu aku menulis semua yang aku dengar dari Rasulullah - untuk kuhafalkan, namun kaum Quraisy melarangku seraya mengatakan: 'Apakah engkau menulis segala sesuatunya, padahal Rasulullah adalah seorang manusia yang juga berbicara ketika marah dan ridha?!
Aku pun menahan diri dari penulisan hingga aku mengadu-kannya kepada Rasullullah lantas beliau mengisyaratkan dengan jarinya ke mulutnya kemudian bersabda, 'Tulislah! Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah keluar darinya ( dari mulut Rosululloh ) kecuali Al Haqq ( kejujuran dan kebenaran). “ [ Hadits Riwayat Abu Daud (no 3646), Ad Darimi ( I/125), Al hakim (I/105-106), Ahmad (II/162) dan Dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah no 1532)
Kalau demikian keadaannya, maka merupakan kewajiban bagi setiap Muslim apabila mendapati sebuah hadits yang shahih adalah membenarkannya, mengamalkan isinya, dan mengagung-kannya.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman,
“ Apa yang diberikan Rasulullah, maka terimalah! Dan apa-apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah!"(QS.Al-Hasyr:7)
Namun bagaimana kenyataan yang kita saksikan bersama?! Fenomena yang kita saksikan di lapangan dimasa kita sekarang ini seakan menjawab, Alangkah derasnya hujatan terhadap Sunnah Nabawiyyah.

Tahukah Anda, apa sebenarnya alasan mereka?!
Mereka tiada memiliki alasan kecuali hanya alasan-alasan rapuh:
Hadits ini bertentangan dengan akal,
Hadits ini bertentangan dengan ilmu medis,
Hadits ini bertentangan dengan Al-Qur’an ( Al Quran yang difahami dengan kebodohan tanpa ilmu)
Hadits ini hanya berderajat Ahad,
Landasan kita hanyalah Al-Quran saja
Dan sederet alasan rapuh lainnya. Berbicara diatas kebodohon dirinya.

Sungguh benar apa yang disabdakan Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- semenjak beberapa abad yang lalu tentang orang-orang model mereka, kata beliau
“ Ketahuilah bahwa aku mendapatkan wahyu Al Quran dan juga yang semisalnya ( Al hadits).”
Beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam- melanjutkan:
“ Ketahuilah, hampir saja akan ada seseorang yang duduk bersandar di atas ranjang hiasnya dalam keadaan kenyang, seraya ia berkata, 'Berpeganglah kalian dengan Al-Quran. Apa-apa yang kalian jumpai di dalamnya berupa perkara halal, maka halalkanlah! Dan apa-apa yang kalian jumpai di dalamnya berupa perkara haram, maka haramkanlah.” [HR. Abu Dawud (no. 4604), Ahmad (IV/130-131), dll. Hadits ini dishahihkan oleh Al Albani dalam al-Misykah (no. 163)]
Hadits ini adalah satu tanda dari tanda-tanda Nubuwwah (Kenabian). Sebab, yang telah disabdakan oleh Rasulullah ini benar-benar telah terbukti nyata.
Imam Al-Baihaqi -rahimahulloh- berkata, "Inilah kabar Rasulullah tentang ingkarnya para Ahli Bid'ah terhadap hadits beliau. Sungguh, apa yang beliau sampaikan telah nyata terjadi!.” [ lihat : Dalaailun Nubuwwah (I/25)]
Maka, merupakan suatu kewajiban yang amat mendasar setiap Muslim yang cemburu terhadap Sunnah Nabi untuk mengadakan pembelaan terhadap hadits-hadits beliau dari hujatan para musuhnya, membongkar kebohongan mereka, dan membantah syubhat-syubhat mereka.
Maka marilah kita bersama menjadi Pembela Sunnah Nabawiyyah Marilah kita siapkan diri-diri kita dengan bekal ilmu dan kekuatan untuk menjadi pejuang Sunnah Nabi! Bukankah kita sangat ingin menjadi rombongan yang didoakan nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- dalam hadits beliau:
"Semoga Allah mencerahkan wajah seorang yang mendengar sebuah hadits dariku lalu dia menyampaikannya sebagaimana yang ia dengar.”
[hadits Mutawatir. Sebagaimana ditegaskan oleh Al Imam as-Suyuthi dalam al-Azhar al-Mutanatsiroh (hlm. 5), az-Zabidi dalam Luqathul alaa-il Mutanatsirah (hlm, 161-162), al-Kattani dalam Nadhamul Mutanatsir (hlm. 24), Syaikh 'Abdul Muhsin al-'Abbad dalam Dirasah Hadits Nadhdharallaah Imra'an Sami'a Maqalatiy: Riwayah wa Dirayah (hlm. 21). Lihat pula Faidhul Qadir (VI/284) al-Munawi dan Kif Dzah (him. 278-279) Salim al-Hilali]
Al Imam Al Khatib al-Baghdadi -rahimahulloh- berkata, "Allah menjadikan golongan selamat (Firqotun najiyah) sebagai penjaga agama dan penangkal tipu daya para penyimpang, disebabkan keteguhan mereka dalam menjalankan syari'at Islam dan meniti jejak para Shahabat -Rodliallohu Anhum- dan Tabi'in -rahimahumulloh- . Sungguh, betapa banyak para penyeleweng yang ingin mencampuradukkan syari'at dengan kotoran lainnya, lalu Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- membela agama-Nya melalui para Ahli Hadits yang siap membela dan menjaga pondasi-pondasi agama. Ahli hadits mereka itulah pasukan Allah, ketahuilah bahwa pasukan Allah pasti beruntung.” [ lihat : Syafaratu Ashaabul hadits ( hlm 31, Al Khatib Al baghdadi]
Sungguh, potret para ulama Sunnah dalam pembelaan terhadap hadits/sunnah Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- sangatlah mengagumkan.
Pernah ada seorang berkata kepada seorang Imam Ahli hadits Yahya bin Ma'in -rahimahulloh-:
"Apakah engkau tidak khawatir apabila orang-orang yang engkau kritik tersebut kelak menjadi musuhmu di hari Kiamat?" Beliau pun menjawab, "Bila mereka yang menjadi musuhku, itu jauh lebih aku sukai daripada Rosululloh - sholallahu Alaihi Wassalam- yang menjadi musuhku kelak , yaitu tatkala beliau bertanya kepadaku, 'Mengapa engkau tidak membela Sunnahku dari kedustaan?!' ( lihat : Al Kifayah fi ilmir Riwayah ( hlm 61), Al Khatib Al baghdadi)
Dan tatkala disampaikan kepada beliau sebuah hadits riwayat Suwaid al-Anbari, beliau berkata, "Seandainya aku memiliki kuda dan tombak, niscaya aku akan memerangi Suwaid!!”[ lihat : Mizaanul Itidaal (II/250), Adz DZahabi ]
Sesungguhnya ''Membela Hadits Nabi" merupakan suatu amalan yang amat mulia dan utama. Oleh karenanya, tidak heran apabila para ulama Sunnah menilainya sebagai jihaad fii sabiilillaah. Imam Yahya bin Yahya -rahimahulloh- pernah mengatakan,
"Membela sunnah lebih utama daripada jihad (peperangan) !” [ lihat : Dazmmul Kalaam (VI/254 no 1089) Al Harawi, Majmu fatawa Ibn Taimiyyah (IV/13]
Imam Al-Humaidi -rahimahulloh- berkata ,
"Aku berperang melawan orang-orang yang menolak hadits Rasulullah lebih aku sukai daripada aku berperang melawan pasukan kafir sejumlah mereka.” [ lihat : Dazmmul Kalaam (II/158 no.236) Al Harawi]
Syaikh Muhammad bin Murtadha al-Yamani -rahimahulloh- berkata, "Pembela Sunnah laksana seseorang yang berjihad di jalan Allah, yang mempersiapkan senjata, kekuatan, dan bekal semampunya, sebagaimana firman Allah
"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka, kekuatan apa saja yang kalian sanggupi!" (QS. Al-Anfaal: 60)
Telah shahih dalam Shahiih al-Bukhari bahwasanya Malaikat Jibril –Alaihissallam- mendukung Hassan bin Tsabit -Rodliallohu Anhu- tatkala ia melantunkan syair-syairnya dalam rangka pembelaannya terhadap Nabi. Demikian pula setiap orang yang membela agama dan Sunnah Nabi-nya didasari rasa cinta kepada beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam- .” [ lihat : Litsarul haq Alal Khalq (hlm 20].
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimahulloh- berkata ,” sungguh tidak mungkin seorang mukmin yang memiliki kemampuan, ketika ia mendengar hujatan terhadap syariat atau pribadi Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- , lantas ia diam begitu saja tanpa ada pembelaan …”
Inilah buku yang berupaya merujuk kepada kitab-kitab Ulama untuk turut berpartisipasi dalam mengadakan pembelaan terhadap Sunnah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- serta menjawab hujatan orang-orang rusak yang diarahkan kepadanya yang berkaitan dengan tema-tema tertentu.

termuat beberapa pembahasan menarik, di antara Urutannya sebagai berikut:
1. Dimana Allah ?
2. Turunnya Allah ke Langit Dunia
3. Kontroversi Kedatangan Imam Mahdi
4. Fitnah Dajjal, Imajinasi atau Fakta?
5. Turunnya 'Isa bin Maryam di Akhir Zaman
6. Ya'juj wa Majuj Siapakah mereka ?
7. Studi Kritis Hadits Tersihirnya Nabi
8. Sesatkah 'Aqidah/keyakinan bahwa kedua orangtua Rosululloh adalah Kafir?
9. Nabi Musa – alaihissalam- dan Malaikat Maut
10. Wanita di Saudi Arabia
11. Polemik Presiden Wanita
12. Nikah Tanpa Wali
13. Keajaiban Hadits Lalat
14. Penyakit Menular, Antara Ilmu Hadits dan Ilmu Medis
15. Matahari Juga Bersujud kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-
16. Adzab Kubur; Mutawatir atau Ahad ?
17. Orang Mati Bisa Mendengar ?!
18. Syafa'at Bagi Pelaku Dosa Besar
19. Telaga Al-Kautsar
20. Mengimani Mizan di Akhirat
21. Ketika Maut Disembelih
22. Perpecahan Ummat Islam

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
Judul Buku Membela Hadits Nabi
Jumlah Halaman 412 hlm
Penerbit / Publisher Media Tarbiyah
Penulis Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As Sidawi
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 16 x 24.5 cm