• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Darul Haq Mencintai Rosulullah : sebagaimana Para Shahabat Mencintai Beliau Penulis : Syaikh Dr Fahdl Ilahi, Penerbit : Darul Haq .. Product #: DHQ-0087 Regular price: Rp 19.000 Rp 19.000

Mencintai Rosulullah : sebagaimana Para Shahabat Mencintai Beliau

Harga: Rp 19.000

- +

Orang yang meyakini Islam sebagai agama-nya, pada hakikatnya ia telah menyatakan persaksian dan pengakuannya dengan dua kalimat syahadat:
"Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullaah. "
"Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak di-ibadahi dengan benar kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."
Demikian halnya dengan orang yang hendak masuk Islam, maka ia wajib mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut.

A. Makna Kalimat "Asyhadu an laa ilaaha illallaah"
"Aku bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah."
Kalimat ini mengandung makna yaitu:
"Laa ma'buuda bi haqqin illallaah"
"Tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah."

B. Makna Kalimat "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullaah"
"Aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah."
Kalimat ini mengandung makna, yaitu: "Tidak ada yang diikuti dengan benar kecuali hanya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Adapun mengikuti selain Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam tanpa dalil berarti telah mengikuti kesesatan/kebathilan."

Dalam hal ini Allah Ta'ala telah berfirman:
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya, amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)." (QS. Al-A'raaf: 3)
Alloh Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman,
"Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu(Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. " (QS. An-Nisaa': 65)
Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah ia telah sesat, sesat yang nyata. " (QS. Al-Ahzaab: 36)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman,
"Wahai orang-orang yang beriman! Jangtmlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui." (QS. Al-Hujurat: 1)
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullaah, dalam muqadimmah kitabnya Zaadul Ma'aad fii Hadyi Khairil 'Ibaad, beliau menjelaskan tentang makna dua kalimat syahadat:
"Asyhadu an laa ilaaha illallaah"
"Aku bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah."
Kalimat ini yang dengannya tegak bumi dan langit, yang dengannya Allah ciptakan seluruh makhluk dan mengutus seluruh Rasul, dengan kalimat ini Allah menurunkan Kitab-Kitab-Nya, Allah menetapkan syari'at-syari'at-Nya, dan dengan kalimat ini Allah tegakkan timbangan-Nya, Allah letakkan semua catatan amal, dan dengannya manusia digiring ke Surga atau ke Neraka. Dengan kalimat ini, manusia terbagi menjadi dua, yaitu mukminin (orang-orang yang beriman) dan kuffar (orang-orang yang kafir), orang-orang yang baik dan yang jahat. Kalimat ini merupakan sumber dari ciptaan dan perintah, ganjaran dan siksa, kalimat ini merupakan kalimat yang hak, yang dengannya Allah ciptakan seluruh makhluk, dan tentang kalimat ini dan hak-haknya terhadap kalimat ini, manusia akan ditanya dan dihisab. Dengan kalimat ini, Kiblat dan agama ini ditegakkan, dihunusnya pedang dan ditegakkannya jihad fii sabilillaah, dan ia merupakan hak Allah yang wajib dipenuhi oleh seluruh hamba-Nya.
Kalimat "Laa ilaaha illallaah" , merupakan kalimat Islam dan kunci untuk masuk ke dalam Surga. Dengan kalimat ini seluruh makhluk yang pertama dan terakhir akan ditanya oleh Allah, serta tidak akan bergeser kedua kaki hamba-Nya di Hari Kiamat di hadapan Allah, sehingga dia ditanya oleh Allah tentang dua masalah:
Pertama:Apa yang kalian sembah?'
Kedua: Bagaimana kalian meme-nuhi panggilan para utusan-Ku (Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam)?'

Jawaban yang pertama yaitu dengan mengimani kalimat "Laa ilaaha illallaah", dengan mengucapkannya, mengetahuinya dan mengamalkannya.
Adapun jawaban pertanyaan kedua adalah dengan mengimani bahwa Muhammad adalah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dengan mengucapkannya, menetapkannya, dengan mentaati dan tunduk kepada beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam.
"Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya."
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang amanah atas wahyu yang Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan kepadanya. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang terbimbing dari seluruh makhluk yang ada, dan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam sebagai utusan Allah kepada para hamba-Nya. Beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam diutus dengan membawa agama yang lurus, dengan manhaj yang lurus sebagai rahmat bagi sekalian alam, sebagai imam bagi orang-orang yang bertaqwa, sebagai hujjah/bukti kebenaran atas seluruh makhluk-Nya. Allah mengutus beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam ketika terjadi masa kekosongan para Rasul, Allah runjuki dengannya jalan yang paling lurus, dan jalan yang paling jelas.
Allah wajibkan atas seluruh hamba-Nya untuk mentaati, menolong, membantu, menghormati, mencintai beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam dan menegak-kan hak-hak atas beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam. Semua jalan akan ditutup oleh Allah, kecuali jalan yang ditempuh oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, dan tidak ada jalan yang dapat membawa sese-orang masuk ke dalam Surga kecuali dengan mengikuti jalannya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Allah jadikan kerendahan dan kehinaan bagi orang-orang yang menyelisihi jalannya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.
sebagaimana sabda beliau,
"Aku diutus dengan pedang di hadapan Kiamat, sehingga Allah disembah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan dijadikan rizkiku di bawah naungan panahku, dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi orang-orang yang menyalahi perintahku, barang-siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia ter-masuk golongan mereka." [Hasan: HR. Ahmad dalam Musnadnya (II/50, 92), dari Shahabat Ibnu 'Umar. Dihasankan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-'Asqalany dalam Fat-hul Baari (VI/98).
Di dalam muqadimmah kitabnya tersebut, Ibnul Qayyim rahimahullaah menjelaskan secara gamblang tentang makna dua kalimat syahadat. Beliau menegaskan bahwa setiap makhluk akan ditanya oleh Allah tentang dua masalah besar dan penting, yaitu: 'Apa yang kalian sembah?' dan 'Bagaimana kalian memenuhi panggilan para utusan-Ku (Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam)?'
Hal ini disebutkan dalam firman Allah Ta'ala:
"Maka sesungguhnya, Kami akan menanyai ummat-ummat yang telah diutus Rasul-Rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-Rasul (Kami)." (QS. Al-A'raaf: 6)
Firman Allah Ta'ala:
"Dan (ingatlah) hari (di waktu) Allah menyeru mereka, seraya berkata: 'Bagaimana jawabanmu terhadap seruan para Rasul?'" (QS. Al-Qashash: 65)
Ayat ini menjelaskan tentang bagaimana kita seharusnya beribadah kepada Allah. Apakah kita men-tauhidkan Allah dalam beribadah? Mengikhlaskan setiap amal ibadah kita karena-Nya? Hal ini merupakan pertanyaan besar yang akan ditanyakan oleh Allah kepada seluruh hamba-Nya.
Pertanyaan yang kedua, "Apakah kita ittiba' (mengikuti/meneladani) Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam atau tidak?" Hal inipun merupakan pertanyaan besar yang akan ditanyakan oleh Allah kepada seluruh hamba-Nya pada Hari Kiamat.
Orang-orang yang tidak ittiba' (mengikuti/meneladani) kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam akan menyesal di hari Kiamat. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan dalam Al-Qur-an tentang penyesalan orang-orang yang tidak ittiba' kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zhalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, 'Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku), sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur-an) ketika (Al-Qur-an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia. " (QS. Al-Furqaan: 27-29)
juga firman-Nya,
"Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata, 'Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. ' Dan mereka berkata, 'Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar. " (QS. Al-Ahzaab: 66-68)
Sebagian besar Muslimin saat ini, masih kurang tepat dalam memahami makna "mencintai" Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam, dengan hanya berdasar cinta kepada Nabi, mereka melakukan amalan-amalan sebagai bentuk kecintaan, namun justru pada hakekatnya amalan tersebut dibenci oleh nabi.
Bagaimana sebenarnya konsekuensi cinta kepada Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- ,sebagiamana para sahabat mencintai beliau simak bahasannya dalam buku ini.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
ISBN 978-979-9137-57-9
Judul Buku Mencintai Rosulullah : sebagaimana Para Shahabat Mencintai Beliau
Jumlah Halaman 120 hlm
Penerbit / Publisher Darul Haq
Penulis Syaikh Dr Fahdl Ilahi
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Kecil 12.5 x 17.5 cm