• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka Imam Syafii Mental Juara : 50 faktor Pendukung Mentalitas Muslim Juara Penulis : Syaikh Dr Muhammad bin Ibrahim Al Hamd ; Penerbit : Pustaka Imam Syafii .. Product #: PIS-0113 Regular price: Rp 60.000 Rp 60.000

Mental Juara : 50 faktor Pendukung mentalitas Muslim Juara

Islam adalah agama yang menganjurkan umatnya agar memiliki mentalitas yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Inilah barometer karakter Muslim sejati, sebagai tolok ukur tinggi-rendah kehormatan dan kedudukan hamba di sisi Allah. Dan sifat demikianlah yang mendorong kita agar bersikap sungguh-sungguh dalam mengerjakan kebaikan dan berjiwa besar dalam menyikapi segala hal yang terjadi, di samping memotivasi diri untuk meraih kesempurnaan, juga menggugah jiwa untuk menjauhi setiap hal yang hina dan rendah.

Pada permulaan dakwah Islam, Nabi diseru untuk bangkit dan bergegas menyampaikan risalah-Nya kepada manusia; Allah m berfirman:
Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lain berilah peringatanr (QS. Al-Muddatsir [74]: 1-2)

Turunnya wahyu tersebut mengisyaratkan bahwa tidak ada lagi waktu untuk beristirahat, karena tugas berat berupa jihad demi menegakkan panji-panji agama ini telah menanti di hadapan beliau untuk segera dilaksanakan. Maka kesungguhan pun dimulai dengan memupuk mentalitas yang tinggi dalam pribadi kaum Muslimin generasi awal, yaitu para Sahabat . Merekalah para penerus Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - yang tidak diragukan lagi memiliki keutamaan dan kemuliaan.

Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, Zaid bin Tsabit ketika mendapat amanah dari Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq untuk mengumpulkan al-Quran, dia kemudian mengatakan: "Demi Allah, jika dia menugaskanku memindahkan gunung, niscaya hal itu tidak lebih berat bagiku daripada perintahnya kepadaku untuk mengumpulkan al-Quran." [ HR. Al-Bukhari, Kitab "at-Tafsir" (XX/4679). Lihat penjelasannya dalam Fathul Bari (Vffl/344)]
Meskipun demikian, Sahabat ini mampu melaksanakannya dengan baik. Sungguh, tanpa mentalitas yang tinggi dan tekad yang kuat, mustahil tugas berat tersebut dapat diselesaikan secara sempurna. Begitu pula tatkala ditugaskan oleh Rasulullah untuk belajar bahasa Yahudi, hanya dalam waktu 15 hari saja dia dapat memahaminya.

Demikian sekelumit potret kehidupan generasi pilihan-Nya, yang dipenuhi orang-orang Mukmin bermentalitas tinggi dan bermental baja. Kejayaan Islam pun diraih dengan menerapkan sifat-sifat yang membuahkan kesungguhan dalam bersikap tersebut.

Sejarah menyaksikan bahwa mentalitas yang tinggi dapat mengangkat suatu kaum dari keterpurukan, mengganti ketertinggalan dengan keunggulan, mengubah kehinaan menjadi kemulian, menukar ketertindasan dengan kemerdekaan, serta memusnahkan kepatuhan buta dan menggantikannya dengan keberanian yang beradab. Kaum Muslimin adalah bukti konkretnya, meskipun saat ini mereka sedang berada dalam keterpurukan akibat tertimba musibah akut berupa mentalitas / cita-cita yang rendah.

Manusia memiliki kadar cita-cita, harapan, dan hasrat yang berbeda-beda. Ada yang tinggi, ada yang rendah, dan ada pula yang sedang.
Ada empat karakter manusia dilihat dari sisi cita-citanya.
Pertama: Orang yang sadar bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk meraih sesuatu yang besar, dan dia menjadikan sesuatu yang besar itu sebagai cita-citanya. Inilah yang disebut sebagai orang yang tinggi cita-cita atau tinggi kepribadian, atau yang berkepribadian atau berkeinginan besar.

Kedua: Orang yang memiliki kemampuan untuk meraih sesuatu yang besar, hanya saja dia tidak menghargai diri sendiri, tetapi malah mengarahkan semangatnya kepada hal-hal yang buruk dan tidak berguna. Inilah yang disebut dengan orang yang rendah cita-cita atau kecil kepribadiannya.

Ketiga: Orang yang tidak memiliki kemampuan untuk menggapai sesuatu yang besar serta merasa tidak sanggup meraihnya dan merasa tidak diciptakan untuk mendapatkannya, kemudian dia menjadikan keinginan dan cita-citanya sesuai dengan kemampuannya. Inilah orang yang mengenali diri sendiri dan memiliki sikap rendah hati dalam berperilaku.

Keempat: Orang yang tidak memiliki kemampuan untuk menggapai sesuatu yang besar, namun dia memperlihatkan seolah-olah sanggup meraihnya dan merasa diciptakan untuk menanggung beban tersebut. Seperti itulah orang yang sombong; atau jika mau, Anda boleh menyebutnya sebagai orang yang takabur.

Berikut contoh kadar cita-cita setiap manusia yang berbeda-beda,
Suatu ketika empat shahabat nabi yang ketika itu masih remaja, yakni : Ibnu Umar, Urwah bin az-Zubair, Mush'ab bin az-Zubair, dan Abdul Malik bin Marwan berkumpul di pekarangan Ka'bah. Lalu Mush'ab berseru kepada mereka: "Sebutkanlah cita-cita kalian!" "Sebutkan cita-citamu terlebih dahulu!" jawab mereka. Mush'ab pun memberi tahu: "(Cita-citaku) Menguasai negeri Irak, menikahi Sukainah putri al-Husain dan 'Aisyah binti Thalhah bin Ubaidillah." Ternyata semua cita-citanya ini terwujud. Dan dia memberikan mahar sebanyak 1500 dirham kepada setiap wanita tersebut, berikut perlengkapan pernikahan sebanyak itu pula.
Urwah bin az-Zubair - Rodliallahu Anhu - bercita-cita memiliki kefaqihan dalam agama dan menjadi perantara orang lain dalam meriwayatkan hadits Nabi lantas dia mendapatkan cita-citanya itu.
Cita-cita Abdul Malik bin Marwan - Rodliallahu Anhu - adalah menjadi khalifah, maka dia pun mendapatkan cita-citanya. Sedangkan Ibnu Umar - Rodliallahu Anhuma - memiliki cita-cita untuk masuk Surga—dan insya Allah- dia akan mendapatkan cita-citanya kelak.

Memiliki cita-cita yang tinggi adalah barometer karakter yang mulia, sifat yang terpuji, akhlak yang agung, dan etika yang luhur. Hal ini senantiasa didambakan oleh hati orang-orang yang mulia dan selalu berusaha diraih oleh jiwa para pahlawan. Sebab, tingginya kehormatan dan kedudukan manusia bergantung pada seberapa tinggi cita-cita dan seberapa mulia niat mereka. Siapa pun yang bercita-cita tinggi akan disifati dengan segala kebaikan; dan sebaliknya, siapa pun yang bercita-cita rendah akan disifati dengan berbagai keburukan. Jiwa yang mulia hanya akan menyukai hal-hal yang mulia, sedangkan jiwa yang hina hanya akan berkutat dan bergelut dengan hal-hal yang hina pula.

Cita-cita yang tinggi selalu terkait dengan kepribadian pemiliknya, memacu pemiliknya dengan cambuk kritikan dan teguran, serta memperingatkan pemiliknya dari tempat-tempat yang dipenuhi kenistaan, dari mengejar hal-hal yang rendah, dan dari meninggalkan apa saja yang bisa menghalanginya untuk menggapai keutamaan. Hingga pada akhirnya, cita-cita tinggi yang dimiliki ini akan mengangkat pemiliknya dari jurang kenistaan yang terdalam menuju takhta kemuliaan dan keagungan yang tertinggi.

Cita-cita yang tinggi dapat mengangkat suatu kaum dari keterpurukan, mengganti ketertinggalan mereka dengan keunggulan, mengubah kehinaan mereka menjadi kemuliaan, menukar ketertindasan mereka dengan kemerdekaan, dan memusnahkan kepatuhan buta mereka dengan keberanian yang beradab. Semua itu disebabkan cita-cita yang tinggi mendorong mereka agar bersikap sungguh-sungguh dan berjiwa besar, mendengungkan kemuliaan, memotivasi diri sendiri untuk meraih kesempurnaan, serta meninggalkan hal-hal yang hina, rendah, dan memalukan.
Di antara fenomena yang tampak dewasa ini adalah rendahnya cita-cita kaum Muslimin, puasnya diri mereka dengan sesuatu yang rendah, keengganan melakukan sesuatu yang besar, serta cenderung sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat dan memalukan. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada tataran individual, tetapi sudah merambah pada tataran komunal; terkecuali mereka yang dirahmati Allah ii, namun sayangnya jumlah mereka sedikit sekali.

Oleh karena itu, tidak heran jika umat Islam menjadi mangsa bagi musuh-musuhnya, yang secara global telah menguasai dan mengeksploitasi negeri mereka, sampai-sampai sebagiannya dapat menyiksa mereka dengan siksaan yang amat pedih. Padahal, dahulu mereka begitu perkasa dan disegani. Mereka jatuh dari kedudukan yang tinggi atau lengser dari takhta yang terhormat.

Mereka menjadi umat yang kerdil padahal sebelumnya begitu agung, menjadi umat yang hina padahal sebelumnya mulia, menjadi umat yang bodoh padahal sebelumnya sangat pintar, menjadi umat yang pemalas padahal sebelumnya amat giat, menjadi umat yang terpecah-belah padahal sebelumnya bersatu padu. Bahkan, ironisnya, hampir saja mereka menjadi umat yang hancur dan binasa.

Berdasarkan kenyataan tersebut, alangkah perlunya kita —umat Islam, baik secara individu maupun secara kolektif— kembali kepada agama kita dan meninggikan cita-cita kita, agar kemuliaan dan kebesaran yang telah terampas itu dapat direnggut kembali. Di antara sekian banyak cara yang dapat membantu mewujudkan cita-cita ini adalah memahami makna cita-cita, menjadikannya penggerak jiwa, dan menyadarkan para cerdik-cendekia supaya mau menumbuhkan cita-cita dan membangkitkan tekad kaum Muslimin.

Termasuk yang perlu diperhatikan dalam masalah ini, bahwa cita-cita yang tinggi tidak jauh berbeda dari akhlak mulia lainnya. Ada yang bersifat bawaan, namun ada pula yang diperoleh melalui latihan, praktik, dan eksperimen. Hal ini sebagaimana akan dikupas pada bab-bab yang terkait dengan pembahasan ini—insya Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - . Selain itu, perlu diperhatikan beberapa faktor penghambat dan pendukung dalam pencapaian cita-cita yang tinggi; faktor penghambat akan mempersulit kita untuk meraihnya, sedangkan faktor pendukung akan membangkitkan individu dan masyarakat untuk meraihnya sekaligus menjadikannya identitas diri. Atas dasar itulah, kitab ini diberi judul al-Himmah al-'Aliyah: Muawwiqatuha wa Muqawwimatuha (cita-cita yang tinggi: kendala dan faktor pendukungnya).

 

embahasan kitab ini disusun berdasarkan sistematika yang ringkas. Di luar mukadimah, dikemukakan empat bab lainnya: satu bab pendahuluan, dua bab pembahasan, dan satu bab penutup. Penjabaran isi keempat bab itu sebagai berikut.
Bab pertama, pendahuluan. Beberapa poin yang dibahas di sini antara lain 
(1) definisi al-himmah al-aliyah (cita-cita yang tinggi) berikut hal-hal yang berkaitan dengannya;
(2) beberapa karakter manusia dilihat dari sisi cita-citanya; dan
(3) bervariasinya kadar keinginan, hasrat, dan angan-angan.

Bab kedua, beberapa kendala dalam meraih cita-cita yang tinggi. 
Ada tiga pembahasan utama di sini:
(1) cita-cita yang rendah dan celaan terhadapnya, 
(2) manifestasi cita-cita yang rendah, dan
(3) penyebab cita-cita yang rendah.

Bab ketiga, beberapa faktor pendukung dalam meraih cita-cita yang tinggi. 
Tiga pembahasan utamanya adalah: 
(1) cita-cita yang tinggi, 
(2) beberapa sebab untuk meraih cita-cita yang tinggi, dan 
(3) beberapa teladan menakjubkan tentang cita-cita yang tinggi. Bahasan pertamanya mencakup empat poin: keutamaan cita-cita yang tinggi, pujian terhadapnya, dan motivasi untuk meraihnya; cita-cita yang tinggi d£n niat yang mulia; sikap Islam terhadap cita-cita yang tinggi; dan kata mutiara penggugah cita-cita.

Bab keempat: penutup. Pembahasannya mencakup kesimpulan terpenting yang dijelaskan pada bahasan-bahasan sebelumnya.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
ISBN 978-602-9183-740
Judul Asli al-Himmah al-'Aliyah: Muawwiqatuha wa Muqawwimatuha ( cita-cita yang tinggi: kendala dan faktor pendukungnya)
Judul Buku Mental Juara : 50 faktor Pendukung Mentalitas Muslim Juara
Judul Buku 448 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka Imam Syafii
Penulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al Hamd
Ukuran Fisik Buku Buku ukuran sedang 15 x 23 cm