• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Darussunnah Musibah Besar Tercabutnya Ilmu Syari Penulis : Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdullah Al-Imam; Penerbit Darus Sunnah .. Product #: DSN-0123 Regular price: Rp 37.000 Rp 37.000

Musibah Besar Tercabutnya Ilmu Syari

Brand: Darussunnah

Harga: Rp 37.000  Rp 29.600

- +

Pertarungan antara kebenaran dan kebatilan akan terus berlangsung hingga hari akhir. Masing-masing dari keduanya memiliki penyeru dan pembela. Penyeru kebenaran berusaha menyelamatkan umat dan membawanya ke jalan yang lurus agar mendapatkan kebahagiaan. Sebaliknya, penyeru kebatilan berusaha menyesatkan dan merusak umat agar mereka celaka.
Di antara senjata yang paling banyak digunakan para pembela kebatilan adalah talbis (pencampuradukan) antara haq dan batil. Itulah trik para pengusung kesesatan dari masa ke masa. Trik tersebut mereka lakukan karena kesesatan bila berupa kebatilan murni tidak mungkin akan diterima manusia. Orang-orang akan bersegera membantah dan mengingkarinya. Alhasil, kesesatan tersebar di kalangan manusia lantaran mengandung kebenaran dan kebatilan.
Sebab itu, sangat diperlukan adanya pengenalan yang jelas akan "jalan kebenaran" dan "jalan kebatilan" agar seorang muslim tidak salah jalan. Kesalahan dalam melangkahkan kaki bisa berakibat fatal, terjerumus ke dalam jurang kehancuran di dunia dan akhirat. Namun, segala puji bagi Alloh Subhanahu Wa Ta'ala yang telah menjelaskan di dalam kitab-Nya kedua jalan—kebenaran dan kebatilan—tersebut secara terperinci.
Diantara cara untuk mengetahui perbedaan antara haq dan batil, yaitu menuntut ilmu ( syar’i)
Sesungguhnya ilmu adalah agama, sebagaimana dikatakan oleh Muhammad bin Sirin -rahimahulloh- (Shahih Muslim 1/78), Abdullah bin Aun (al-Faqih wal
Mutafaqqih: 1134), dan al-Imam Malik (at-Tamhid 1/67}.
Adapun menuntut ilmu adalah kewajiban yang paling agung dari kewajiban-kewajiban agama. Ilmu yang wajib diketahui seorang muslim adalah ilmu yang bisa membenarkan (memperbaiki) aqidahnya, membenarkan ibadahnya, dan membenarkan amalan kesehariannya. Menuntut ilmu wajib atas orang-orang yang bodoh dan atas para penuntut ilmu pemula dan senior, bahkan wajib pula atas ulama. Maka yang wajib atas seorang muslim adalah hendaknya dia menjadi penuntut ilmu, dan tetap dalam keadaan menuntut ilmu sampai ajal menjemput. (lihat : Nubdzah Ilmiyyah fi Manhajis Salaf fil Ilmi wal Ulama terbitan Markaz Al Imam Al-Albani tahun 1422 H)
Ilmu memiliki keutamaan yang agung, dan sungguh Allah telah meninggikan derajat para ulama yang mengamalkan agamanya, Allah berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.(QS. al-Mujadilah [58]: 11)
Dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
“ Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui de¬ngan orang-orang yang tidak mengetahui?" (QS. az-Zumar [33]: 9)
dan Alloh Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
“Allah bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak di-sembah) melainkan Dia, para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga bersaksi yang demikian itu).” {QS. Ali Imran (3]: 18)

Kelezatan dan kebahagiaan sejati tidaklah terletak pada makan, mltium, tidur dan bersenggama. Karena syahwat dan kelezatan jenis ini hanyalah kelezatan fisik yang sama dirasakan oleh binatang dan lainnya. Sesungguhnya kelezatan sejati ialah kelezatan taat dan ibadah, kelezatan jiwa dan had dan belajar ilmu Syar'i. Karena kelezatan ini hanya dirasakan oleh orang-orang mukmin, bukan oleh makhluk-makhluk lainnya.
Hal ini telah disadari oleh para ulama Salaf kita yang mulia. Mereka merasakan kelezatan belajar ilmu Syar'i, menikmati membolak balikkan lembaran-lembaran kitab dan menikmati penderitaan dalam upaya meraihnya. Bahkan kelezatan dan kebahagiaan mereka dalam menghafal hadis Nabi atau memecahkan satu permasalahan ilmiah atau begadang untuk menulis makalah ilmiah atau mengarang kitab yang bermanfaat untuk umat, melebihi kelezatar atH-ahli maksiat dengan kemaksiatan mereka, lebih agung dari kenikmatan ahli dunia dengan dunia mereka, isteri dan harta mereka.
Ibnul Qayyim -rahimahulloh- berkata, "Barangsiapa yang kelezatan belajar ilmu dan semangatnya tidak bisa mengalahkan kelezatan badan dan syahwatnya, maka dia tidak akan mencapai derajat orang yang berilmu selamanya. Apabila syahwatnya ada dalam belajar ilmu dan merasakan kelezatan dalam meraihnya, maka ia diharapkan bisa termasuk orang-orang yang berilmu." [Miftah DarusSa 'adah, Ibnul Qayyim, 1 /142]
Ibnul Jauzi -rahimahulloh- menceritakan pengalamannya. Beliau berkata, "Saya pernah merasakan manisnya menuntut ilmu. Juga mengalami banyak penderitaan, tapi bagi saya manisnya melebihi manis madu. Karena semuanya itu derm mendapatkan apa yang saya can dan harapkan dari ilmu. Ketika masih muda. dengan membawa roti kering saya keluar untuk belajar hadis. Saya duduk di sungai Isa (salah satu sungai di Baghdad), karena roti itu tidak bisa dimakan kecuali bersama air. Setiap kali saya makan sedikit, saya langsung minum air dari sungai tersebut (agar mudah tertelan). Pandangan cita-cita saya tidak melihat kecuali nikmatnya meraih pengetahuan. Hal tersebut berbuah pada diri saya. Saya dikenal dengan banyaknya mendengar hadis Rasulullah H, sejarah dan adabnya, sejarah SahabatdanTabi'in." [Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi]
Imam An-Nawawi -rahimahulloh- pada awal belajarnya, setiap hari membaca dua belas pelajaran kepada para gurunya lengkap dengan penjelasan dan koreksiannya. Yaitu dua pelajaran dalam kitab Al-Wasith, tiga pelajaran dalam kitab Al-Muhadzdzab, satu pelajaran pada kitab Al- Luma’ Ibnu Janny, satu pelajaran dalam kitab Ishlahul-Mantiq (ilmu bahasa), satu pelajaran dalam ilmu Sorof ,satu pelajaran dalam UshulFiqhy satu pelajaran dalam Asmaur Rijal , dan satu pelajaran dalam ilmu Ushuluddin (Aqidah).
An-Nawawi -rahimahulloh- berkata, "Saya mengomentari semua yang berkaitan dengan penjelasan-penjelasan kitab yang sulit, atau kalimat-kalimat yang sulit dan tata bahasanya. Allah memberikan barakah pada waktu saya dan kesibukan saya serta membantu saya untuknya."
Imam An-Nawawi tidak pernah menyia-nyiakan waktunya, baik di waktu malam atau siang, kecuali menyibukkan dirinya dengan ilmu. Hingga ketika beliau berjalan di jalanan, beliau mengulang-ulang ilmu yang telah dihafalnya, atau membaca buku yang ditelaahnya sambil berjalan. Beliau melakukan hal ini selama enam tahun. Beliau tidak makan dalam sehari senialam kecuali satu kali, yaitu setelah shalat Isya' di waktu akhir. Dan beliau minum sekali di waktu sahur. (Semuanya beliau lakukan karena kesibukannya dalam belajar).’ [Tadzkiratul Hufazh Adz-Dzahabi, 4/1472]
Ibnu Rajab Al-Hanbali -rahimahulloh- berkata, "Imam Majduddin bin Taimiyah -rahimahulloh- apabila beliau masuk WC untuk membuang hajat, beliau berkata kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. ,’ Bacalah kitab ini dan angkatlah (keraskanlah) suaramu! (agar aku bisa mendengarmu dari dalam WC )!.'
Ibnu Rajab -rahimahulloh- berkata, "Hal itu menunjukkan kuatnya semangat dalam belajar ilmu dan meraihnya serta dalam menjaga waktunya."[ Dzailul Thabaqatil Hanabilah, Ibnu Rajab, 1/145]
Abu Bakar Khayyath An-Nahwi -rahimahulloh- (seorang pakar Nahwu) , menggunakan seluruh waktunya untuk membaca, bahkan ketika ia berjalan. Terkadang beliau terperosok jatuh di lubang jalanan atau ditabrak binatang/kendaraan di jalan (karena tenggelam dalam bacaannya)."
Kalau bukan dengan niat yang Ikhlas, cita-cita yang tinggi dan semangat membara dalam menuntut ilmu, maka tidak mungkin akan kita dengarkan kisah-kisah luar biasa dari para ulama Salaf dalam menuntut ilmu.
Sesunnguhnya menuntut ilmu Syari, membutuhkan : tahapan, manhaj/metode, Adab dan Motivasi/dorongan semangat dengan mengambil pelajaran dari kisah-kisah para ulama dalam menuntut ilmu.

berbeda dengan buku-buku tentang motivasi dalam menuntut ilmu, Buku ini menjelaskan tentang dicabutnya ilmu, sebab-sebab tercabutnya ilmu, bahaya yang akan timbul terhadap kaum muslimin, serta ancaman dan dampak yang akan dirasakan secara agama maupun duniawi. Semua itu disusun berdasarkan dalil-dalil yang shahih dan juga perkataan ulama salaf tentang masalah ini.

Semoga kehadiran buku ini mampu untuk mengingatkan kembali kepada kaum muslimin untuk senantiasa berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, berjalan di atas manhajnya, dan berusaha untuk mengamalkannya.


Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
ISBN 978-602-7965-027
Judul Buku Musibah Besar Tercabutnya Ilmu Syari
Jumlah Halaman 268 hlm
Penerbit / Publisher Darus Sunnah
Penulis Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdullah Al-Imam
Ukuran Fisik Buku Buku ukuran Sedang 13.5 x 20.5