• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Darussunnah Penjatuhan Vonis Kafir dan Aturannya Penulis : Dr Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili, Penerbit ; Pustaka Darus Sunnah .. Product #: DSN-0097 Regular price: Rp 85.000 Rp 85.000

Penjatuhan Vonis Kafir dan Aturannya

Harga: Rp 85.000  Rp 68.000

- +

Alloh Azza wa Jalla telah mengutus Rasul-Nya Sholallahu Alaihi Wassalam untuk menyampaikan agama Islam. Dia juga telah menjelaskan di dalam Al-Qur'an dan Sunnah prinsip-prinsip Islam serta tingkatan-tingkatannya. Al-Qur'an dan Sunnah menerangkan bahwa agama ini dibangun di atas tiga tingkatan agung, yang darinyalah bercabang seluruh syariat Islam. Tiga tingkatan tersebut adalah: Islam, Iman dan Ihsan.Al-Qur'an dan Sunnah juga telah menjelaskan hakikat masing-masing tingkatan di atas/ rukun-rukunnya serta kedudukannya, juga hubungan antara ketiganya.
Kesimpulannya: Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah telah mencakup penjelasan tentang: hakikat Islam/ serta rukun dan kewajibannya. Demikian pula menjelaskan hal-hal yang membatalkan dan bertentangan dengannya. Juga mencakup penjelasan tentang: hakikat Iman, rukunnya/ cabangnya, faktor yang menambah Iman atau yang menurunkannya/ juga hal yang dapat menghancurkan Iman atau yang menghalangi kesempurnaannya. Termasuk mencakup penjelasan tentang: definisi Ihsan, serta hakikat dan rukunnya.
Dalil-dalil AI-Qur'an dan hadits juga sudah menjelaskan tentang penamaan hukum-hukum agama berdasarkan pengamalan tingkatan-tingkatan diatas. Telah dijelaskan siapa itu muslim, mukmin, dan muhsin. Sebagaimana juga dijelaskan siapa itu fasik, kafir dan munafik.
Maka, seharusnya yang dijadikan rujukan dalam penjatuhan vonis-vonis tersebut, atas individu tertentu, adalah dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Penjatuhan vonis tersebut adalah hak Allah dan Rasul-Nya. Tidak boleh seorangpun berpendapat dalam masalah ini semata-mata dengan rasionya atau menjatuhkan vonis berdasarkan hawa nafsuya. Sebagaimana tidak boleh seorangpun menyatakan bahwa perbuatan si fulan adalah ibadah atau maksiat, hukumnya halal atau haram; kecuali dengan dalil syar'i.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menerangkan, "Sesungguhnya pe-wajiban dan pengharaman, penentuan pahala dan sangsi, penjatuhan vonis kafir dan fasik adalah hak Allah dan RasuI-Nya, bukan hak siapapun. Kewajiban umat manusia hanyalah mewajibkan apa yang telah diwajibkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya". [ lihat : majmu fatwa V/544]
Penyimpangan dalam masalah takfir sudah ada sejak awal permulaan sejarah umat ini. Hal itu ditandai dengan munculnya sekte Khawarij yang memberontak terhadap Amirul Mukmintn Ali bin Abi Thalib -rodliallohu anhu- pada tahun 37 H, pasca perundingan antara dua juru damai pada perang Shiffin. Orang-orang Khawarij mengingkari perundingan tersebut, kemudian mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, dua juru damai dan siapa saja yang menerima hasil perundingan tersebut. [lihat : Al farq baina Al Firaq Imam Al Khatib Al Baghdadi 74-76, dan majmu fatawa XIII/208]
Ibnu Katsir mengisahkan, "Ketika Ali mengutus Abu Musa beserta pasukannya ke Daumatul Jandal, orang-orang Khawarij semakin menjadi-jadi dan mengingkari dengan keras tindakan Ali, serta terang-terangan mengkafirkan beliau" [ lihat : Al Bidayah Wa An Nihayah X/577]
Para peneliti ahli sekte-sekte Islam menyatakan, bahwa para pengikut sekte Khawarij telah satu kata dalam mengkafirkan Ali, Utsman, orang-orang yang ikut dalam perang Jamal, dua juru damai, semua yang menerima hasil perundingan dan siapa saja yang mendukung salah satu dari dua juru damai atau keduanya."
Oleh karena itu, para ulama menganggap bahwa bid'ah takfir tanpa dalil dan sikap berlebihan dalam hal ini, merupakan bid'ah yang pertama kali muncul dalam sejarah kaum muslimin.
Syaikhul Islam .Ibnu Taimiyyah menegaskan, "Kita harus menghindari pengkafiran kaum muslimin hanya karena dosa atau kesalahan mereka. Karena hal itu merupakan bid'ah yang pertama kali muncul dalam Islam. Orang-orang yang memiliki pemikiran ini (dengan mudah) mengkafirkan kaum muslimin, lalu menghalalkan nyawa serta harta mereka" [ lihat : majmu fatwa XIII/31]
Kemudian, wabah pemikiran rusak ini menular dari Khawarij ke seluruh sekte ahlul bid'ah yang melenceng dari sunnah Rasul Sholallahu Alaihi Wassalam . Seperti sekte Rafidhah, Qadariyyah, Jahmiyyah dan sekte-sekte sesat lainnya. Hingga akhirnya, pemikiran rusak ini menjadi ciri utama mayoritas sekte-sekte ahlul bid'ah.
Al-Baghdadi -rahimahullah- menjelaskan, "Seluruh sekte-sekte ahlul bid'ah saling mengkafirkan sesama mereka dan berlepas diri dari yang lain. Sebagaimana yang terjadi dalam tubuh sekte Khawarij, Rafidhah, dan Qadariyah. Sampai-sampai ada tujuh orang dari mereka yang bertemu di suatu kesempatan, lalu mereka berpisah dalam keadaan saling mengkafirkan sesama mereka sendiri" [ Al farq baina Firaq hal 361]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- memaparkan, "Kebanyakan ahlul bid'ah seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Jahmiyyah dan Mumatsilah (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), menganut suatu keyakinan yang mereka sangka benar, padahal itu sesat, lalu mereka mengkafirkan siapa saja yang tidak sejalan dengannya" [ lihat : majmu Al fatawa XII/466-467]
Takfir tanpa dalil dan landasan syar'i, merupakan salah satu bid'ah yang paling berbahaya atas umat ini. Karena mereka yang menganut pemikiran rusak ini, akan menghalalkan nyawa, harta dan kehormatan kaum muslimin. Parahnya, tatkala melakukan semua tindak kejahatan tersebut, mereka meyakini bahwa perbuatan itu adalah ibadah yang sangat agung pahalanya di sisi Allah dan merupakan salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Umat Islam dewasa ini, masih terus menghadapi problema akut itu. Pemikiran rusak tersebut mengotori banyak otak kaum muslimin, terutama generasi muda yang telah terpengaruh ahlul bid'ah dan kerasukan pemikiran-pemikiran mereka. Oleh karena itulah, kita dapati mereka mengkafirkan pemerintah kaum muslimin dan para pegawai yang bekerja dalam pemerintahan, keyakinan tumbuh subur dalam otak banyak generasi muda. Bahkan mereka pun berani mengkafirkan para ulama yang telah berjuang menegakkan agama ini dengan ilmu mereka, amal, farwa, amar ma'ruf nahi mungkar, nasehat serta wejangan bagi pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya. Lebih parah lagi, mereka juga mengkafirkan seluruh masyarakat kaum muslimin di zaman ini tanpa terkecuali. Mereka menganggap bahwa ajaran Islam dan keimanan tidak tersisa lagi dalam diri umat manusia saat ini.
Penyebab timbulnya penyimpangan di atas adalah: ketidaktahuan akan hakikat agama Islam, ketidakpahaman atas prinsip maupun dasar agama, serta jauhnya kebanyakan orang dari metode ulama salaf (generasi awal umat ini) dalam akidah dan akhlak-
Karena itulah,buku berusaha turut bersumbangsih membahas masalah ini, dengan menjelaskan definisi kekafiranan dan hakikatnya, berlandaskan dalil-dalil syar'i, serta kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah dalam masalah pengkafiran.

. A. MUQADDIMAH:
Berisi : penjelasan bahwa takftr merupakan hukum syari dan itu adalah hak Allah serta Rasul-Nya Sholallahu Alaihi Wassalam , bahaya penyimpangan dalam perkara ini,
B. PENDAHULUAN:
Secara garis besar, pendahuluan ini berisi: penjelasan singkat tentang hakikat iman dalam pandangan Ahlus Sunnah, juga pandangan sekte-sekte yang berseberangan dengan mereka, serta awal mula munculnya takfir tanpa dalil plus motif-motif pendorongnya.
Jadi, pendahuluan ini mencakup dua pokok pembahasan:
B.I. Pokok pembahasan pertama: Penjelasan singkat tentang hakikat iman dalam pandangan Ahlus Sunnah dan pandangan sekte-sekte yang berseberangan dengan mereka
B.2. Pokok pembahasan kedua: Awal mula munculnya ideologi takfir tanpa dalil, plus motif-motif pendorongnya.
C. BAB PERTAMA:
Secara garis besar, bab ini berisi: penjelasan tentang hakikat kufur, macam-macam dan hukum-hukumnya.
Bab pertama ini terbagi menjadi tiga pasal:
C.I. Pasal pertama: Definisi kufur, pemakaiannya, serta perbedaaan antara kufur dengan syirik dan nifaq.
Pasal ini mencakup tiga pokok pembahasan:
C.1.1. Pokok pembahasan pertama: Definisi kufur menurut bahasa dan istilah syariat
C.1.2. Pokok pembahasan kedua: Pemakaian kata kufur danpemakaian kata-kata lain sebagai ungkapan dari kufur:
C.l.2.1. Sub pembahasan pertama: Pemakaian kata kufur dengan arti kufur besar, dan pemakaian kata kufur dengan arti kufur kecil dan maksiat
C.1.2.2. Sub pembahasan kedua: Kata-kata lain yang dipakai dalam syariat sebagai ungkapan dari kufur, yakni; syirk, zhulm dan fisq
C.1.3. Pokok pembahasan ketiga: Perbedaan antara kufur dengan syirik dan nifaq:
C.1.3.1. Sub pembahasan pertama: Perbedaan antara kufur dengan syirik
C.l.3.2, Sub pembahasan kedua: Perbedaan antara kufur dengan nifaq
C.2. Pasal kedua: Macam-macam kufur dan cabang-cabangnya. Pasal ini mencakup enam pokok pembahasan:
C.2.1. Pokok pembahasan pertama: Macam-macam kufur dipandang dari sisi hukumnya:
a. Kufur besar
b. Kufur kecil .
C.2.2- Pokok pembahasan kedua: Macam-macam kufur dipandang dari faktor penyebabnya:
a, Kufur inkar (ketidaktahuan) dan takdzib (pendustaan)
b. Kufur juhud (pengingkaran)
c. Kufur 'inad (keangkuhan) dan istikbar (kesombongan) 
d. Kufur nifaq (kemunafikan)
e. Kufur i'radh (ketidakpedulian)
f. Kufur syak (keraguan)
C.2.3. Pokok Pembahasan Ketiga: Macam-macam kufur dipandang dari anggota badan yang melakukannya:
a. Kufur hati (qalbi)
b. Kufur ucapan (qauli)
c. Kufur perbuatan ('amali]
C.2.4. Pokok pembahasan keempat: Macam-macam kufur dipandang dari sisi kapan terjadinya:
a. Kufur asli (sejak lahir)
b. Kufur karena murtad
C.2.5. Pokok pembahasan kelima: Macam-macam kufur dipandang dari sisi hukum muthlaq dan penjatuhan vonis kafir atas individu:
a. Kufur tnuthlaq (jenis perbuatan)
b. b. Kufur mu'ayyan (individu)
C.2.6. Pokok pembahasan keenam: Cabang-cabang kufur beserta dalilnya:
a. Cabang kufur yang menghancurkan ashl (substansi) iman
b. Cabang kufur yang mengurangi kesempurnaan iman yang wajib
C.3. Pasal ketiga: Hukum-hukum yang berkaitan dengan kufur dan pelakunya, baik itu di dunia maupun di akhirat.
Pasal ini terbagi menjadi dua pokok pembahasan:
C.3.1. Pokok pembahasan pertama: Hukum kufur besar dan pelakunya:
C.3.1.1. Sub pembahasan pertama: Hukum kufur besar dan pelakunya di dunia:
a. Hukum kufur asli (sejak lahir):
b Ahlul Kitab
c. Golongan masih diperselisihkan apakah termasuK Ahlul Kitab atau tidak
m. Non Ahlul Kitab
Kafir mu'ahad dan kafir harbi
b. Hukum kafir murtad (Pembahasan seputar penjatuhan hukum mati atasnya, penawaran taubat padanya, hubungan sosial dengannya dan tentang hukum warisannya)
C.3.1.2. Sub pembahasan kedua: Hukum kufur besar dan pelakunya di akhirat:
a. Kekalnya pelaku kufur besar di dalam neraka
b. Bertingkat-tingkatnya azab atas mereka
C.3.2. Pokok pembahasan kedua: Hukum kufur kecil dan pelakunya:
C.3.2.1. Sub pembahasan pertama: Hukum kufur kecil dan pelakunya di dunia
C.3.2.2. Sub pembahasan kedua: Hukum kufur kecil dan pelakunya di akhirat
D. BAB KEDUA:
Secara garis besar, bab ini berisi penjelasan tentang: asas-asas takfir dan aturan-aturannya menurut keyakinan Ahlus Stmnah, serta pandangan sekte-sekte yang berseberangan dengan mereka.
Bab kedua ini dibagi menjadi tiga pasal:
D.I. Pasal pertama: Sikap tengah Ahlus Sunnah dalam masalah takftr, antara sikap sekte Murji'ah dengan sekte Wa'idiyyah. Pasal ini terbagi menjadi empat pokok pembahasan:
D.I.I. Pokok pembahasan pertama: Keyakinan sekte Khawarij tentang pelaku dosa besar:
a. Definisi dosa besar menurut mereka
b. Hukum pelaku dosa besar di dunia
c. Hukum pelaku dosa besar di akhirat
d. Pokok pikiran yang mendasari keyakinan tersebut, serta sikap mereka terhadap dalil-dalil wa'd dan wa'id
D.1.2. Pokok pembahasan kedua: Keyakinan sekte Mu'tazilah tentang pelaku dosa besar:
a. Definisi dosa besar menurut mereka
b. Hukum pelaku dosa besar di dunia
c. Hukum pelaku dosa besar di akhirat
d. Pokok pikiran yang mendasari keyakinan tersebut/ serta sikap mereka terhadap dalil-dalil wa'd dan wa'id
D.I. 3. Pokok pembahasan ketiga: Keyakinan sekte Murji'ah tentang pelaku dosa besar:
a. Definisi dosa besar menurut mereka 
b. Hukum pelaku dosa besar di dunia
c. Hukum pelaku dosa besar di akhirat
d. Pokok pikiran yang mendasari keyakinan tersebut, serta sikap mereka terhadap dalil-dalil wa'd dan wa'id
D.1.4. Pokok pembahasan keempat: Keyakinan kaum Ahlus Sunnah tentang pelaku dosa besar :
a. Definisi dosa besar menurut mereka
b. Hukum pelaku dosa besar di dunia
c. Hukum pelaku dosa besar di akhirat
d. Dasar pijakan yang menjadi acuan keyakinan tersebut, serta sikap mereka terhadap dalil-dalil wa'd dan wa'id
e. Sikap tengah Ahlus Sunnah antara sekte-sekte yang berseberangan dengan mereka, dalam menghukumi pelaku dosa besar, serta dalam menyikapi dalil-dalil wa'd dan wa'id
D.2. Pasal kedua: Kaidah-kaidah takftr muthlaq
Pasal ini terbagi menjadi dua pokok pembahasan:
D.2.1. Pokok pembahasan pertama: Kaidah yang benar dalam menentukan suatu perbuatan ;apakah perbuatan tersebut perbuatan kufur atau bukan
D.2.2. Pokok pembahasan kedua: Hukum meninggalkan rukun-rukun Islam selain dua kalimat syahadat
D.3. Pasal ketiga: Kaidah-kaidah takfir mu'ayyan
Pasal ini terbagi menjadi empat pokok pembahasan:
D.3.1. Pokok pembahasan pertama: Penjelasan bahwa takfir tidak serta merta berkonsekuensi takfir mu'ayyan
D.3.2. Pokok pembahasan kedua: Syarat-syarat takfir dan faktor penghalangnya
D.3.3. Pokok pembahasan ketiga: Beberapa contoh sejarah para ulama Ahlus Sunnah, yang tidak mengkafirkan sebagian individu; dikarenakan tidak terpenuhinya syarat-syarat takfir
D.3.4. Pokok pembahasan keempat: Siapakah yang berhak menilai dan menjatuhkan vonis kafir

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
ISBN 978-602-8406-420
Judul Asli At takfir Wa Dhawabithuh
Judul Buku Penjatuhan Vonis Kafir dan Aturannya
Penerbit / Publisher Darus Sunnah
Penulis Dr Ibrahim bin Amir Ar Ruhaili
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 16 x 24.5 cm