• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka Imam Syafii Syarah Adab dan Manfaat Menuntut Ilmu Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin ; Penerbit : Pustaka Imam Syafii .. Product #: PIS-00042 Regular price: Rp 40.000 Rp 40.000

Syarah Adab dan Manfaat Menuntut Ilmu

ilmu adalah ibadah. Sebagian ulama berkata: "Ilmu adalah shalat secara rahasia dan ibadah hati." [Imam al-Munawi menambahkan: "Dan amalan bathin," lihat Faidhul Qadiir (VI/184)]
Tidak diragukan lagi bahwa ilmu adalah ibadah, bahkan merupakan ibadah yang paling agung dan paling utama sehingga Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  menjadikannya sebagai bagian dari jihad fii sabiilillah.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  berfirman: "Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. " (OS At-Taubah: 122) '
Yakni,  adalah hendaknya ada sebagian kelompok orang yang benar-benar melaksanakan tugas untuk belajar ( ilmu agama). Rasulullah juga bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi baik, maka akan diberi kefahaman dalam perkara agama." [Shahih, riwayat al-Bukhari (71) dan Muslim (1037) dari hadits Mu'awiyah]
Apabila Allah menganugerahkan kefahaman dalam masalah agama ini yang meliputi segenap ilmu syar'i, baik ilmu tauhid, 'aqidah atau lainnya, maka berbahagialah karena berarti Allah menginginkan kebaikan baginya.
Imam Ahmad berkata: "Ilmu itu sesuatu yang tiada bandingnya bagi orang yang niatnya benar." "Bagaimanakah benarnya niat itu wahai Abu Abdillah?" tanya orang-orang kepada beliau. Maka beliau menjawab: "Yaitu, berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain."
    Dari sini, maka syarat diterimanya suatu ibadah :
1.    Niat yang ikhlas hanya karena Allah Ta'ala, sebagaimana firman Nya:
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus ..." (QS. Al-Bayyinah: 5)
Juga berdasarkan sebuah hadits populer yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab bahwa Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda: "Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niatnya.’[Shahih, riwayat al-Bukhari (1) dari hadits 'Urnar bin al-Khaththab],  Apabila ilmu tidak didasari dengan keikhlasan  niat, dia bcrubah dari ibadah yang paling mulia menjadi kemaksiatan yang paling hina. Dan tidak ada sesuatupun yang paling bisa menghancurkan ilmu semisal riya', baik riya' yang menjerumuskan pada kesyirikan ataupun riya' yang menghilangkan keikhlasan. Termasuk juga sum'ah, seperti kalau dia berkata: "Saya mengetahui... saya hafal..."
   Apabila ada yang bertanya: "Bagaimana caranya agar bisa ikhlas dalam menuntut ilmu?"
Jawabnya: "Ikhlas dalam menuntut ilmu itu bisa dicapai dengan beberapa cara, yaitu:
Pertamay engkau harus berniat bahwa menuntut ilmu itu untuk menjalankan perintah Allah. Karena, memang Allah memerintahkannya, sebagaimana firman Nya:
"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah (Yang Haq) melainkan Allah... (QS. Muhammad: 19)
Dalam ayat ini Allah menganjurkan untuk menuntut ilmu, dan anjuran untuk melakukan sebuah perbuatan, berarti perbuatan tersebut dicintai, diridhai, dan diperintahkan oleh-Nya.
Kedua, engkau juga harus berniat untuk menjaga syari'at Allah. Karena menjaga syari'at Allah itu bisa dilakukan dengan belajar; baik dengan cara menghafal, menulis, juga mengarang kitab.
Ketiga, engkau berniat untuk membela syari'at Allah. Karena seandainya tidak ada ulama maka syari'at ini tidak akan terjamin kebenarannya, juga tidak ada seorang pun yang akan membelanya.
Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahulloh-  dan para ulama lainnya yang membantah ahli bid'ah dan menjelaskan kesesatannya, kita dapati mereka mendapatkan banyak kebaikan.
Keempaty engkau berniat untuk mengikuti ajaran Rasulullah. Karena engkau tidak mungkin bisa mengikuti ajaran beliau kecuali jika engkau mengetahuinya terlebih dahulu.

2.    Karakter yang mampu menggabungkan antara kebahagiaan dunia dan akhirat adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya. Yang realisasinya hanya dengan jalan meneladani dan mengikuti Sunnah beliau. Sebagaimana firman Allah:
"Katakanlah: fjika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah akuy niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu..." (QS. Ali 'Imran: 31)
Tidak diragukan lagi bahwa cinta mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam mendorong maupun mencegah perbuatan seseorang. Karena, orang yang sedang jatuh cinta akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa bertemu dengan kekasihnya serta berbuat apa saja yang membuatnya senang dan semakin dekat, juga menghindari segala yang dibenci kekasihnya. Oleh karena itu. Imam Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitab Raudhatul Muhibbiin bahwa semua aktivitas manusia itu didasari dengan rasa cinta. Memang benar apa yang dikatakan beliau. Orang yang masih sehat akalnya tidak akan berniat untuk berbuat sesuatu, kecuali yang memberikan manfaat atau menghilangkan mudharat pada dirinya. Karena semua orang menginginkan berbuat sesuatu yang bisa memberinya manfaat dan membenci sesuatu yang membahayakannya. Cinta sejatinya adalah kendali yang mengarahkan manusia menuju Allah. Lihatlah orang-orang yang benci terhadap apa yang diturunkan oleh Allah, mereka disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:
“Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka bend kepada apa yang diturunkan Allah (al-Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka."(QS. Muhammad: 9)
Kebencian terhadap apa yang difirmankan oleh Allah Ta'ala ber-ujung pada kekufuran. Maka, cinta adalah karakter yang mampu menggabungkan kebaikan dunia-akhirat.
Adapun cinta kepada Rasulullah akan membuatmu mengikuti beliau secara lahir maupun bathin. Karena orang yang sedang jatuh cinta akan mengikuti kekasihnya. Sampai pun pada urusan dunia engkau melihatnya mengikuti kekasihnya dalam cara berpakaian, bicara, sampai pada bentuk tulisan. Siapa pun juga kalau mencintai seseorang akan berusaha mengikutinya dalam segala tindak-tanduknya. Oleh karena itu, kalau engkau benar-benar men¬cintai Rasulullah, maka engkau akan mengikuti Sunnah beliau.
Karena ada sebagian orang yang mengaku mencintai Allah, maka Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  pun berfirman: "Katakan (wahai Muhammad): "Kalau memang engkau mencintai Allah ikutilah aku." , Mana jawaban dari syarat ini? Maka Jawaban sebenar-nya adalah: "Ikutilah aku baru engkaju benar-benar jujur dalam pengakuanmu." Sekarang jadilah syarat dan yang disyaratkan itu adalah "jika kalian mencintai Allah ikutilah aku, baru kalian jujur dalam pengakuan kalian". Namun ternyata jawaban dalam ayat tersebut adalah: "Ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian." Ini sebagai sebuah isyarat bahwa inti permasalahan ini adalah agar Allah mencintaimu, bukan bagaimana engkau mencintai-Nya. Karena semua orang mengaku mencintai Allah. Mungkin yang
terlihat bahwa engkau mencintai Allah, padahal sebenarnya tidak. Hal ini tidak akan membuat Allah mencintaimu, maka tetaplah engkau tidak mendapatkan hasilnya.
    Wahai para penuntut ilmu, kalian yang duduk bersila untuk belajar dan selalu terikat dengan sebaik-baik ikatan, yaitu menuntut ilmu, bertakwalah kepada Allah Ta'ala, baik dalam keadaan sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan. Sebab, takwa adalah sebaik-baik bekal, landasan setiap amal yang terpuji. Takwa itulah pembangkit kekuatan, tangga menuju puncak keluhuran serta ikatan hati yang kokoh dari berbagai ujian dan cobaan. Oleh karena itu, janganlah kalian remehkan.
Benarlah apa yang dikatakan oleh beliau berdasarkan firman Allah Ta'ala:
"Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan..." (QS. Al-Anfaal: 29)
Dengannya kalian mampu membedakan antara yang haq dan bathil, yang bermanfaat dan berbahaya, ketaatan dan kemaksiatan, kekasih Allah dan musuh-musuh-Nya, dan lain sebagainya. Kemampuan membedakan ini bisa juga lewat ilmu; Allah Ta'ala membukakan serta memudahkan orang yang mempelajari ilmu tersebut lebih banyak dari orang-orang yang tidak bertakwa kepada Allah. Kadang juga lewat firasat yang Allah curahkan dalam hatinya. Rasulullah bersabda: "Kalau ada di antara kalian orang yang memperoleh firasat, maka 'Umarlah orangnya." Allah Ta'ala menjadikan firasat orang-orang yang bertakwa sesuai dengan kebenaran.

Inilah nasehat Syaikh Muhammad bin Sholih Al utsaimin -rahimahulloh- kepada  para penuntut ilmu agama, bagiamaana adab terhadap diri, akhlak terhadap guru, manfaat, tahapan, dalama menunutut ilmu.

 

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Softcover
ISBN 979-3536-36-5
Judul Asli Syarah Hilyah Thulabul ilmi
Judul Buku Syarah Adab dan Manfaat Menuntut Ilmu
Jumlah Halaman 297 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka Imam Syafii
Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al utsaimin
Ukuran Fisik Buku buku ukuran sedang 15.5 x 23.5 cm