• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka Muawiyah Wasiat dan Prinsip Imam Syafii : tentang taqlid Buta dan Fanatisme Madzab Penulis : ust. Ibnu Saini , Penerbit : Pustaka Muawiyah .. Product #: MUA-0019 Regular price: Rp 45.000 Rp 45.000

Wasiat dan Prinsip Imam Syafii : tentang taqlid Buta dan Fanatisme Madzab

Harga: Rp 45.000  Rp 36.000

- +

Taqlid adalah seperti yang tela dikatakan oleh para ulama Ushul Fikih dari kalangan Syafi'iyyah, Imam Ghazali . Beliau -rahimahulloh- berkata,
(Taqlid itu adalah:) Menerima sebuah pendapat tanpa berdasarkan dalil dan hujjah [ lihat kitab Al Ghozali : al Mustashfa (II: 387), lihat pula : Al Ihkam fii ushul Al Ahkam (IV:221) oleh Al Amidi]
Imam Ash Shon’ani -rahimahulloh- , beliau juga berkata
taqlid itu adalah Mengambil dan mengikuti pendapat orang lain, tanpa berdasarkan dalil dan hujjah. [lihat : Irsyadun Nuqaad ila Taisiril Ijtihad hal. 1 55, oleh ash Shan'ani.]
Pengertian taqlid di atas menunjukkan maksud yang sebenarnya, dan itulah hakekat taqlid. Dari sini dapatlah kita bedakan mana yang disebut "taqlid" dan mana yang disebut dengan "ittiba", karena hakekat ittiba itu adalah mengikuti pendapat orang lain dengan mengetahui dalil dan hujjah serta dasar pengambilannya.
Apakah hukum taqlid?
Keterangan para ulama dalam masalah ini cukup panjang. Akan tetapi dapat disimpulkan di sini bahwa hukum taqlid itu dirincikan pada tiga rincian berikut:

PERTAMA: Hukumnya haram.

Dan hal itu berlaku pada tiga keadaan:

Pertama, bagi mereka yang jelas-jelas mengikuti (taqlid) orang lain yang bukan hujjah, dalam kebatilan, seperti seseorang yang mengikuti orang lain dalam kesyirikan atau kebid’ahan atau kemaksiatan.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman:
Artinya: Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah" mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?". [QS. Al Baqarah (2): 170]

Kedua, bagi mereka yang mengikuti (taqlid) kepada seorang ulama, padahal mereka telah mengetahui bahwa ulama yang mereka ikuti itu tersalah dan telah menyelisihi ketegasan dalil-dalil al Qur'an dan Sunnah Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- Larangan itu berdasarkan ayat di atas.
Jadi, tidak salah ketika seseorang mengikuti ulama tertentu dalam menjalankan Agama Islam ini, karena Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berf irman:
Artinya: Maka bertanyalah kepada ahli dzikr (ulama yang memahami al Qur'an dan Sunnah) bila kamu tidak mengetahui. [QS.AnNahl(16):43]
Tapi tatkala dia telah mengetahui bahwa ternyata ulama itu menyalahi ketegasan dalil al Qur'an dan Sunnah, maka pada saat itulah dia wajib untuk kembali kepada dalil al-Qur'an dan Sunnah. Karena Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah berfirman:
Artinya: " . . .kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. " [QS. An Nisa (4): 59]

Ketiga, bagi para ulama yang telah mampu berijtihad atau telah mencapai derajat mujtahid (para ahli ijtihad). Mereka diharamkan untuk taqlid kepada ulama lain, sebab mereka telah mampu berijtihad, maka mereka wajib untuk berijtihad sendiri berdasarkan ilmu yang ada pada mereka dan dengan segenap kemampuan yang ada pada mereka, bila mereka benar dalam ijtihadnya, maka mereka mendapatkan dua ganjaran, dan bila mereka salah dalam ijtihadnya, maka mereka mendapatkan satu ganjaran.
Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- telah bersabda:
Artinya: “Apabila seorang hakim (mujtahid) menetapkan hukum, dan ia berijtihad, kemudian benar dalam ijtihadnya tcrsebut, maka ia mendapatkan dua ganjaran. Dan bila ternyata in salah dalam ijtihadnya tersebut, maka ia mendapatkan satu ganjaran. [Muttafaq 'alaihi: Bukhari no: 2676 &. Muslim no: 1716]

KEDUA: Hukumnya mubah (boleh).
Dan hal itu berlaku bagi para ulama yang belum mampu beiijtihad dalam permasalahan tertentu, atau dalam permasalahan yang bukan bidangnya, untuk bertaqlid kepada ulama yang lainnya, seperti dalam ilmu hadits atau ilmu faraa-idh atau yang lainnya.

KETIGA: Hukumnya wajib.
Dan hal itu berlaku bagi orang-orang awam yang tidak memiliki ilmu, bagi mereka ini diwajibkan untuk bertanya kepada ahli ilmu.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman:
Artinya: “Maka bertanyalah kepada ahli dzikr (ulama yang memahami al Quran dan Sunnah) bila kamu tidak mengetahui. [QS.AnNahl(16):43]

Tapi kemudian muncul pertanyaan:
Kepada siapakah orang-orang awam itu bertanya?
Jawab:
Kepada orang-orang yang berilmu yang mereka yakini keilmuan dan ketaqwaannya, yang mana mereka merasa tenang bila mendapatkan jawaban dari orang yang berilmu tersebut.
Bila ada yang bertanya: Bagaimana bila seseorang telah bertanya kepada seorang yang dia yakini keilmuan dan ketaqwaannya, tapi ternyata di kemudian hari dia tahu bahwa prang yang dia ikuti itu salah dan telah menyalahi ketegasan dalil-dalil al-Qur'an atau Sunnah; Apakah dia berdosa atau tidak?
Jawab: Bagi orang awam yang bertanya tadi tidak ada dosa baginya, karena dia telah mengamalkan firman Allah dalam surat an Nahl di atas, dengan catatan bahwa setelah dia mengetahui kebenaran itu, maka ia ruju' dan kembali kepada kebenaran dan meninggalkan fatwa yang salah dan sesat dari orang tersebut. Tapi bila dia tetap berada dalam kesalahan tersebut setelah jelas baginya kebenaran, maka berarti dia berada dalam kebatilan, dan baginya dosa. Wallahu a'lam.

Bagaimana dengan keadaan orang yang ditanya?
Jawab:
Sedangkan bagi yang ditanya, maka ada tiga kemungkinan:

Pertama, kalau dia seorang yang berilmu, dan dia menjawab dengan dasar ilmu yang bersumber dari dalil al Qur'an dan Sunnah sebatas kemampuan yang ada padanya, maka dia mendapatkan ganjaran (pahala). Kalau benar jawabannya, maka dia mendapatkan dua ganjaran dan bila salah, maka dia mendapatkan satu ganjaran, dan tidak ada dosa sama sekali baginya.
Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:
Artinya: Apabila seorang hakim (mujtahid) menetapkan hukum, dan ia berijtihad, kemudian benar dalam ijtihadnya tersebut, maka ia mendapatkan dua ganjaran. Dan bila ternyata ia salah dalam ijtihadnya tersebut, maka ia mendapatkan satu ganjaran. [Muttafaq 'alaihi: Bukhari no: 2676 & Muslim no: 1716]
Keadaan Imam Syafi'i atau para ulama yang lain yang diikuti oleh manusia adalah seperti keadaan yang pertama ini. Maksudnya, bahwa kalaupun Imam Syafi'i atau ulama yang lain itu berijtihad dalam suatu masalah, tapi ternyata ijtihad mereka tersalah, maka tidak ada dosa atau aib bagi mereka dalam hal ini, karena — walaupun tersalah — mereka tetap mendapatkan satu ganjaran ijtihadnya tersebut.
Akan tetapi bagi orang yang mengetahui kesalahan itu, maka dia harus ruju' dan kembali kepada kebenaran. Dan meninggalkan ijtihad yang tersalah tersebut.

Kedua, kalau dia seorang yang berilmu, tetapi dia menjawab tidak berdasarkan ilmu yang bersumber dari dalil al-Qur'an dan Sunnah, dan ia justru menjawab dengan hawa nafsunya. Maka ia akan mendapatkan dosa.
Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- telah bersabda:
Artinya: “Qadhi (hakim) itu ada tiga macam, yang satu di surga dan yang dua di neraka. Adapun qadhi yang berada di surga, ialah seorang qadhi yang mengetahui kebenaran (berilmu), lalu dia memutuskan dengan ilmunya. Adapun seorang (qadhi) yang mengetahui kebenaran tetapi dia berbuat zhalim di dalam memutuskan hukum, maka dia berada di neraka. Dan seorang (qadhi) yang memutuskan hukum kepada manusia atas dasar kebodohan, maka dia berada di neraka.”
[Shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud no: 3573 dan ini lafadzh-nya, at Tirmidzi no: 1322, Ibnu Majah no: 2315, ath Thabrani di kitabnya al Mu'jamul Kabir (II/5), al Hakim (IV/90) dan al Baihaqi (X/116-117), dari beberapa jalan dari Ibnu Buraidah (namanya: Abdullah), dari bapaknya (seperti lafazh hadits di atas.) Dan hadits ini telah dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah disetujui oleh Imam adz Dzahabi. Dan juga telah dishahihkan oleh al-Albani di dalam kitab Irwaa-ul Ghalil no: 2628 ]

Ketiga, bila dia bukan seorang yang berilmu, dan pastinya ia akan menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanyn dengan dasar kebodohan, maka baginya dosa — walaupun jawabannya benar —. Berdasarkan hadits atas dan hadits-hadits berikut:
Hadits pertama:
Dan' Abdullah bin 'Amr bin al 'Ash, ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda: “Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu dari para hamba-hamba-Nya, akan tetapi Dia akan mengangkat ilmu dengan mematikan para ulama, sehingga bila tidak tersisa (dalam salah satu riwayat: Tidak meninggalkan) seorangpun ulama, maka manusia menjadikan pemimpin-pemimpin yang bodoh, maka mereka pun ditanya (dimintai fatwa), sehingga mereka berfatwa dengan tanpa ilmu, maka mereka pun sesat dan menyesatkan. [Muttafaq 'alaihi: Bukhari no: 100, Muslim no: 2673.]
Hadits kedua:
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- telah bersabda: Barangsiapa yang dimintai fatwa (dalam salah satu riwayat: Berfatwa dengan sebuah fatwa), dengan tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh yang memberi fatwa. (Dan bukan atas orang yang diberi fatwa sesat tersebut.)
[hadits Hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud no: 3657, Ibnu Majah no: 53, Ahmad (II: 321), ad Darimi di Mukaddimah kitab Sunannya. Dan telah dishahihkan oleh al Albani di dalam tahqiq beliau atas kitab :Misykah Al Mashabih no: 242 dan Shahih Jami'ush Shaghir 6068 dan 6069]
Jadi, kesimpulannya tidak ada kesalahan dan dosa bagi seseorang untuk mengikuti para ulama yang terpercaya, baik itu Imam Syafi'i ataupun ulama yang lainnya, dengan catatan dia mengikuti para ulama itu dalam rangka mengikuti al Qur'an dan Sunnah, kemudian dia tidak menjadikan ulama itu sebagai panutan untuk seumur hidupnya dalam menjalankan agama Islam ini. karena bisa jadi pendapat ulama tsb menyelisihi sunnah Rosul yang shahih, dan para ulama tidaklah ma'shum. Tiidak ada yang boleh diikuti sepanjang hayatnya dalam menjalankan Agama Islam ini kecuali Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- sebab tidak ada yang ma'shum (terpelihara dari kesalahan) selain Rasulullah.

Apakah yang dimaksud dengan sikap fanatisme madzhab?
sikap fanatisme madzhab ( dalam hal ini madzab syafii- red] adalah sikap sebagian orang yang mana bila disampaikan kepada mereka hadits shahih dari Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- yang menetapkan suatu masalah , justru mereka mengatakan: "Bahwa hal itu tidak sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh kiyai atau ustadz atau yang telah ditetapkan dalam madzhab Imam Syafi'i -rahimahulloh- "?!, Padahal Imam Syafi'i sendiri tidak pernah mengajarkan hal yang demikian itu
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah menetapkan ketaatan mutlak hanya kepada Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- , Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah berfirman:
Artinya: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (yakni Rasulullah) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [QS. an Nisa (4): 65]
Dalil-dalil al Qur'an dan Sunnah yang lain dan se-makna dengan ayat di atas sangat banyak sekali.
Imam Abul Qasim al Lalakaa’I -rahimahulloh- [Beliau adalah Hibatullah bin Hasan bin Manshur ath Thabari ar Razi, Abul Qasim (w. 418 H = 1027 M). Beliau adalah seorang pemuka ahli hadits bergelar al Hafizh, dan juga dikenal sebagai seorang ulama Syafi'iyyah, Beliau berasal dari wilayah Thabaristan, dan pernah tinggal lama di kota Baghdad. Sebutan "al Lalaka-i" adalah bentuk penisbatan kepada penjual gelang yang biasa dipakai di kaki. Diantara karya tulisnya udalah: Kitab Syarah Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah wal Jama'ah, dan Karamatul Auliya]
Beliau -rahimahulloh- meriwayatkan di dalam kitabnya Syarah Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah wal Jama' ah (1: 138) bahwa Ibnu Mas'ud -Rodliallohu Anhu- mengatakan:
Artinya: “Ketahuilah, janganlah sekali-kali kamu ber-taqlid kepada seseorang dalam menjalankan agamanya, kalau orang yang dikutinya (taqlid) itu beriman, maka dia ikut beriman, dan sebaliknya kalau orang yang diikutinya itu kafir, maka dia ikut kafir. Kalau kamu harus mengikuti seseorang dalam menjalankan agama, maka ikutilah orang yang telah wafat, karena orang yang masih hidup tidak selamat dari fitnah.”
Namun sungguh menyedihkan, setelah munculnya madzab-madzab dalam Islam setiap pengikut madzhab mengagungkan imam dan madzhab mereka masing-masing setinggi langit, dan berusaha untuk menjatuhkan yang lainnya serendah-rendahnya. ( hal ini bisa dilihat di sebagian buku-buku madzab –red), Persis seperti yang Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- firman-kan dalam al Qur'an:
Artinya: “ Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rosul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing). [al Mukminun (23): 53]
Bahkan kerusakan fanatisme madzhab itu sampai pada sikap saling mengkafirkan dan penetapan ke-tidaksah-an shalat di belakang imam selain rnadzhabnya.
Sebagai contoh, Lihatlah apa yang telah disebutkan oleh Ibn Humam bahwa Abul Yasar berkata:
“ Tidak diperbolehkan bagi seorang pengikut madzhab Hanafi untuk shalat bermakmum di belakang imam yang bermadzhab Syafi'i.”
Kemudian lihat pula apa yang diperbuat oleh para pengikut Syafi'iyyah dalam rangka rnembantah apa yang telah diperbuat oleh pengikut Hanafiyyah, seperti apa yang telah dikatakan oleh pengarang kitab Kifayatul Akhyar (1:133), yang arti-nya:
“ Bahkan Imam Abu Ishaq mengatakan: Bahwasanya shalat sendirian itu lebih afdhol daripada shalat bermakmum di belakang imam dari madzhab Hanafi.”
Itulah gambaran ringkas tapi jelas tentang begitu besarnya bahaya sikap fanatisme madzhab, bagaimana hal ini menimbulkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin. Bahkan sampai-sampai masing-masing pengikut madzhab menentukan hakim mereka sendiri, tidak hanya sampai di situ, bahkan mereka sampai membuat mimbar masing-masing di Masjidil Haram [ Hal ini terus berlangsung sampai pada masa pemerintahan raja 'Abdul 'A:iz Alu Su'ud, kemudian pada masa itu disatukan menjadi satu imam shalat, walhamdulillah]. Sehingga seakan-akan masing-masing pengikut madzhab itu adalah pengikut agama tersendiri yang berbeda dengan pengikut agama yang lainnya.
wallahul musta'an.
Inilah buku yang akan menajak kita berilmu, bagaimana sebenarnya wasiat dan prinsip dari Imam Syafii -rahimahulloh- tentang taqlid buta dan fanatisme madzab. Dan bagaimana pula perkataan ulama-ulama Syafiiyah , dirujuk pada kitab-kitab pokok madzab syafii dan ulama nya (yakni : Ulama Syafiiyah yang sesungguhnya, bukan orang yg diulamakan dan mengaku-ngaku bermadzab syafiiyah namun pendapat nya justru menyimpang dari madzab syafii, bahkan menyesatkan]

Detail Info Buku
Format Cover softcover
Judul Buku Wasiat dan Prinsip Imam Syafii : tentang taqlid Buta dan Fanatisme Madzab
Jumlah Halaman 179 hlm
Kata Pengantar Ust. Abdul hakim bin Amir Abdat
Penerbit / Publisher Pustaka Muawiyah bin Abi Sufyan
Penulis Ust. Ibnu Saini
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran sedang 14.5 x 21 cm