• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Darul Haq Rahasia Qiyamul Lail penulis ; Syaikh Dr Sa'id bin Ali bin Wahf Al Qohthoni, Penerbit: Darul Haq .. Product #: DHQ-0069 Regular price: Rp 19.000 Rp 19.000

Rahasia Qiyamul Lail

Harga: Rp 19.000

- +

Seorang mukmin harus menjadi seorang pribadi yang berkualitas. la harus menjadi seorang yang kuat, karena mukmin yang kuat Jebih baik dan lebih dicintai oleh Alloh Tabarraka Wa Ta'ala daripada mukmin yang lemah. Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda:
"Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.' [Di-hasankan oleh al-Albani dalam Shahiih wa Dha 'iif Sunan Ibni Majah (1/151)]
Setiap mukmin harus kuat dari segi spiritual, sosial, intelektual dan finansial. Empat tolak ukur inilah yang akan menentukan kualitas seorang mukmin pada sisi Alloh Azza wa Jalla , Dan orang yang memiliki empat kriteria kekuatan ini lebih baik dan lebih dicintai di sisi-Nya, meskipun pada tiap-tiap mukmin pasti ada kebaikan.
Empat kekuatan ini sudah selayaknya diusahakan dan dimiliki oleh setiap mukmin, sebagaimana yang ditanyakan oleh Nabi Musa- alaihissaam- kepada Rabb-nya. Tentang kualitas spiritual, Musa -Alaihissalam- bertanya tentang siapakah hamba Alloh Tabarraka Wa Ta'ala yang paling bertakwa, dan siapa pula yang paling mendapat petunjuk. Tentang kualitas sosial, Nabi Musa -Alaihissalam- bertanya tentang siapakah hamba Allah Tabbaraka wa Ta'ala yang paling bijak dan paling gagah di antara ma-nusia. Tentang kualitas intelektual, Nabi Musa bertanya kepada Allah, siapakah di antara hamba-hamba-Nya yang paling alim. Dan tentang kualitas finansial, Nabi Musa bertanya kepada Allah Tabbaraka wa Ta'ala tentang siapakah di antara hamba-Nya yang paling kaya.
Mari kita lihat pertanyaan-pertanyaan tersebut selengkapnya, berikut jawaban-jawabannya, sebagaimana dikisahkan oleh Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam .
Rasulullah bersabda:
"Nabi Musa bertanya kepada Rabb-nya tentang enam perkara. Beliau menyangka bahwa keenam perkara tersebut telah menjadi miliknya secara murni. Adapun pertanyaan yang ketujuh, Nabi Musa -Alaihissalam- tidak menyukainya.
1. Nabi Musa -Alaihissalam- bertanya, 'Wahai Rabb-ku, siapakah hamba-Mu yang paling takwa? ' Allah Tabbaraka wa Ta'ala menjawab, 'Yang selalu ingat dan tidak lupa.'
2. Nabi Musa -Alaihissalam- bertanya, 'Wahai Rabb-ku, siapakah hamba-Mu yang paling mendapat petunjuk? ' Allah Tabbaraka wa Ta'ala menjawab, 'Yang mengikuti hidayah.'
3. Nabi Musa -Alaihissalam- bertanya, 'Wahai Rabb-ku, siapakah hamba-Mu yang paling bijak?' Allah Tabbaraka wa Ta'ala menjawab, 'Yang menghukumi manusia sebagaimana ia menghukumi dirinya sendiri.'
4. Nabi Musa -Alaihissalam- bertanya, 'Wahai Rabb-ku, siapakah hamba-Mu yang paling alim?' Allah Tabbaraka wa Ta'ala menjawab, 'Seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan, tapi tidak pernah kenyang dengan ilmu. la selalu menghimpun ilmu manusia ke dalam ilmunya.'
5. Nabi Musa -Alaihissalam- bertanya, 'Wahai Rabb-ku, siapakah hamba-Mu yang paling gagah (mulia) ?' Allah Tabbaraka wa Ta'ala menjawab, 'Yang mampu membalas (kejahatan orang terhadapnya), tetapi ia menawarkan ampunan.'
6. Nabi Musa -Alaihissalam- bertanya, 'Wahai Rabb-ku, siapakah hamba-Mu yang paling kaya?' Allah Tabbaraka wa Ta'ala menjawab, 'Yang menerima (rela) terhadap apa yang diberikan kepadanya.'
7. Nabi Musa -Alaihissalam- bertanya, 'Wahai Rabb-ku, siapakah hamba-Mu yang paling fakir?' Allah Tabbaraka wa Ta'ala menjawab, 'Orang yang senantiasa merasa kurang.'"
Lalu Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, "Kaya itu bukan yang terlihat secara zhahir. Akan tetapi kaya itu bersumber dari kckayaan hati. Apabila Allah Tabbaraka wa Ta'ala berkehendak menjadikan hamba-Nya seorang yang baik, maka Alloh Azza wa Jalla akan menjadikan kekayaannya dalam jiwanya, dan ketakwaan dii hatinya. Dan apabila Allah tabb hendak menjadikan seorang hamba-Nya buruk, maka Allah Tabbaraka wa Ta'ala akan menjadikan kefakiran di antara dua matanya." [Silsilah ash-Shahiihah (no. 3350) ]
Shalat Lail/ sholat malam mengajarkan kita untuk kuat secara spiritual. Hal ini karena akan membawa kita kepada mengingat kepada Alloh Azza wa Jalla
Seringnya seseorang mengingat Allah Tabbaraka wa Ta'ala akan membuat kualitas ketakwaannya meningkat, sebagaimana jawaban dari Allah Tabbaraka wa Ta'ala ketika ditanya oleh Nabi Musa -Alaihissalam- tentang siapakah orang yang paling bertakwa. Ternyata ia adalah orang yang sering mengingat-Nya, dan tidak melupakan-Nya, di saat kebanyakan manusia melupakan-Nya.
Shalat lail juga akan membuat seseorang menjadi kaya secara bathin. Hal ini sangat penting, karena kekayaan lahir seseorang akan hampa dan kering ketika jiwanya miskin dan kerdil. Kekayaan lahir akan menjadi penuh makna dan dapat dinikmati di dunia dan akhirat, ketika ia memiliki jiwa yang kaya. Orang-orang kaya (harta) yang tidak kaya (jiwa) banyak yang mengukir sejarah kepedihan, sedangkan orang-orang yang kaya (harta) sekaligus berjiwa kaya telah mengukir sejarah emas yang selalu dikenang orang.

Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam mendorong umatnya untuk mendahulukan kaya secara bathin. Ketika beliau menerangkan keutamaan Witir, beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah Tabbaraka wa Ta'ala telah menjadikan bagi kalian shalat tambahan, dan shalat itu lebih baik dari unta merah. Shalat itu adalah Witir. Alloh Azza wa Jalla menetapkan waktunya di antara 'Isya dan terbit fajar." [Abu Dawud, kitab al-Witr, bab Istihbaabul Witr (no. 1418). Sunan at-Tirmidzi, kitab al-Witr, bab Maa jaa-a fil Witr (no. 452). Ibnu Majah, kitab Iqaamatush shalaah, bab Maa jaa-a fil Witr (no. 1168). Al-Hakim, dan ia menshahihkannya, dan disepakati oleh adz-Dzahabi (1/306). Hadits ini memiliki penguat yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (1/148). Dishahihkan oleh al-Albani, dalam Irwaa-ul Ghaliil (II/ 156).]
Mengapa Rasulullah membandingkannya dengan unta merah? Karena unta merah adalah kekayaan yang menjadi kebanggaan bangsa Arab kala itu.. Unta merah lebih bernilai dibanding dengan unta-unta jenis lainnya. Namun kekayaan dengan unta merah ini pun ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekayaan jiwa yang akan didapatkan seseorang ketika ia melaksanakan Witir.
Demikian pula ketika menerangkan keutamaan shalat Tahajjud, Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam membandingkan pula dengan unta hamil lagi gemuk, satu kekayaan yang sangat disukai bangsa Arab. Diriwayatkan dari Abu Hurairah -rodliallohu anhu- ia mengatakan: "Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda:
'Maukah salah seorang dari kalian ketika kembali kepada keluarganya mendapatkan tiga unta hamil yang besar lagi gemuk?' Kami menjawab, 'Ya (kami mau),' lalu Nabi bersabda, 'Tiga ayat yang dibaca oleh salah seorang dari kalian dalam shalat malamnya itu lebih baik baginya daripada tiga unta hamil yang besar lagi gemuk.' [ HR Muslim, kitab Shalaatul Musaafirin, bab fadhlu qiraa'atil qur'an fish sholaati wa ta'allumihi (no 802) ]
Maka dapat dibayangkan ketika seseorang di setiap malam dan disepanjang usianya senantiasa mengerjakan Tahajjud.. Kekayaan bathin yang tiada tara.
Bahkan lebih jelas lagi ketika beliau Sholallahu Alaihi Wassalam menjelaskan keutamaan shalat Dhuha. Diriwayatkan dari Abud Darda' dan Abu Dzarr -rodliallhu anhuma- dari Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam -dari Allah Tabbaraka wa Ta'ala , Dia berfirman,:
" Wahai anak Adam, shalatlah karena Aku empat raka'at di awal siang, niscaya Aku cukupi kamu di akhir siang." [At-Tirmidzi, kitab al-Witr, bab Maa jaa-a fii shalaatidh dhuhaa (no. 475). Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahiih at-Tirmidzi (\/47),al-Irwaa' (II/219)
Kekayaan lahir mana lagi yang lebih besar daripada berkecukupan? Cukup untuk itu, dan cukup untuk ini. Dan Alloh Tabarraka Wa Ta'ala yang menjamin kecukupan itu, bukan manusia. Dia Yang Mahakaya dan Maha Mencukupi, bukan makhluk yang serba lemah dan kekurangan. Seseorang akan memiliki 'kebebasan finansial' yang sebenar-benar-nya ketika semua keperluannya dicukupi oleh Alloh Azza wa Jalla .
Inilah buku yang akan menguak rahasia Qiyamul Lail.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
ISBN 9789793407005
Judul Buku Rahasia Qiyamul Lail
Jumlah Halaman 152 hlm
Penerbit / Publisher Darul Haq
Penulis Syaikh Dr Sa'id bin Ali bin Wahf Al Qohthoni
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 14.5 x 20.5 cm