• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Darussunnah Benang Tipis antara Hadiah dan Suap penulis : Syaikh Ahmad bin Ahmad Muhammad Abdulloh Ath Thawil, Penerbit: Darus Sunnah .. Product #: DSN-0024 Regular price: Rp 26.000 Rp 26.000

Benang Tipis antara Hadiah dan Suap

Harga: Rp 26.000  Rp 20.800

- +

"Sungguh akan datang pada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak peduli dengan cara apa dia mengambil harta, apakah dari yang halal atau dari yang haram. " [ HR Bukhari 2083]
Setiap karyawan dan pegawai wajib menjaga kehormatan dan harga dirinya, bahkan harus berjiwa mulia dan kaya hati. Seorang karyawan tak boleh gampang terbeli atau tergadai oleh uang sogokan dan hadiah suap. Sebab, di samping menjatuhkan kredibilitas, itu juga merusak masa depan perusahan atau lembaga, juga mencederai profesionalisme dan kinerja.
Di antara dalil yang memerintahkan agar setiap muslim tidak memakan harta dengan cara bathil, adalah hadits yang telah diriwayatkan Al-Bukhari, dari Jundab bin Abdullah bahwa Nabi Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda:
"Sesungguhnya yang pertama busuk dari manusia adalah perutnya. Maka barang siapa yang sanggup untuk tidak memakan melainkan yang baik maka lakukanlah. Dan barang siapa yang bisa untuk tidak dihalangi antara dia dan surga walaupun dengan segenggam darah yang ditumpahkannya, maka lakukanlah ." [ HR Bukhari 7152]
Tradisi korupsi, suap, sogok, money politics, pungli dan kelompok turunannya telah mengakar kuat dan menjalar secara sistemik pada tubuh birokrasi setiap lembaga baik negeri maupun swasta. Fakta ini merupakan salah satu tantangan paling fenomenal bagi agama Islam, yang secara tegas mengutuknya.
"Rasulullah mengutuk orang yang menyuap dan orang yang disuap" [Shahih diriwayatkan Imam Abu Daud dalam Sunannya (3580), Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya (1337) dan Imam Ibnu Majah dalam Sunannya (2313) ]
Demikian sebuah hadits memperingatkan. Ketika salah seorang sahabat bernama Abdullah bin Lutbiyah terbukti menerima pemberian, Rasulullah yang memberikan perhatian khusus terhadap masalah ini, segera memberhentikannya.
Dalam bahasa agama, korupsi, suap, sogok, uang pelicin, money politics, pungli dan kelompok turunannya digolongkan sebagai risywah, yakni tindakan atau perbuatan seseorang yang memberikan atau menjanjikan sesuatu kepada orang lain dengan tujuan memengaruhi keputusan pihak penerima agar menguntungkan pihak pemberi secara melawan hukum.
Umumnya, risywah terjadi melalui kesepakatan antara dua pihak-pemberi (raaisy) dan penerima (murtasyii) suap. Namun, kadang ia juga melibatan pihak ketiga sebagai perantara.
      Praktik risywah yang semula berakar dan tumbuh di dalam ruang pengadilan, dalam perkembangannya menjalar dan merasuk hampir ke semua lini kehidupan masyarakat. Dan tak hanya subur di negara kita, praktik ini juga terjadi di negara lain, termasuk di negara maju sekalipun. Padahal, Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam menegaskan, risywah merupakan tindakan yang sangat tercela, dibenci agama, dan dilaknat Alloh Azza wa Jalla.
Risywah terus terjadi tanpa mengenal henti. la menjamur, mengakar, menabur benih baru korupsi. Kasus suap yang melibatkan seorang pejabat semakin memberi impresi tentang parahnya fenomena risywah di negara kita, sekaligus seakan mementahkan komitmen pemerintah dalam memberantas korupsi, suap, sogok dan sebangsanya.
Namun, memelihara dan menjalankan amanah pada koridor yang benar adalah suatu yang niscaya. Sebab, amanah adalah inti dari tugas mulia yang Allah berikan kepada hamba-Nya di dunia. Menghamba secara tulus kepada Allah berarti menjalankan amanah. Ulama dan ahli agama menjalankan amanah dengan menyebarkan risalah agama, presiden menjalankan amanah melalui jabatannya. Demikian pula semua pejabat publik. Dan kita sebagai rakyat, wajib menjalankan amanah kita dengan menjadi warga negara yang baik. Dengan kata lain, semua harus sama-sama taat, patuh, dan tunduk dengan posisi masing-masing.
Bermodal kesadaran di atas, seharusnya kita mampu keluar dari kebiasaan buruk risywah dan mengubur dalam-dalam tradisi korupsi. Harus kita insyafi, korban risywah bukan si penyuap, orang yang disuap atau si perantara, melainkan orang lain. Risywah membuat orang lain kehilangan hak, negara kehabisan cadangan harta, dan rakyat secara umum terancam masa depannya.
Risywah yang dilakukan oleh perorangan itu, pada akhirnya membawa kerusakan yang konkret dan menyeluruh. Moral bangsa rusak secara sistematis. Kredibilitas bangsa rusak. Karakter anak bangsa tercemar. Dan kita kehilangan pegangan dalam menentukan masa depan bangsa.
         Banyak sekali istilah yang digunakan ketika seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain, seperti hadiah, bonus, kado, bingkisan, tip, parcel atau yang lainnya sesuai kondisi, situasi, momen dan even-nya.
Islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk saling memberi hadiah kepada sesamanya. hal ini dimaskudkan untuk menumbuhkan rasa kasih sayang, menambah keakraban, dan menghilangkan rasa permusuhan.
namun dalam realitas sekarang, motif pemberian telah mengalami pergeseran dari tujuan luhur yang diajarkan oleh Islam. hadiah diberikan bukan untuk menolong orang lain yang membutuhkan, bukan menyenangkan hati orang lain, menanyabung kasih sayang dan silaturahmi d engan mengharap pahala dari Alloh Azza wa Jalla , namun hadiah diberikan demi tercapainya maksud dan tujuan yang diinginkan. Inilah yang dikenal dengan Risywah/suap.
Memang sulit bagi kita untuk membedakan suatu pemberian itu bermakna hadiah atau suap, atau bahkan secara tidak sadar kita telah melakukan suap kepada orang lain saat memberikan hadiah kepadanya.
Inilah buku yang menjelaskan benag tipis antara hadiah dan suap. apa itu hadiah, bagaimana hukumnya, kapan hadiah diperbolehkan dan dilarang, bagamanan hukum hadiah kepada non muslim, kapan suatu hadiah dianggap suap dan pembahasan lainnya.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
ISBN 979-3772-34-4
Judul Buku Benang Tipis antara Hadiah dan Suap
Jumlah Halaman 172 hlm
Penerbit / Publisher Darus Sunnah
Penulis Syaikh Ahmad bin Ahmad Muhammad Abdulloh Ath Thawil
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 13.5 x 20.5 cm