• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka Imam Syafii Ensiklopedi Larangan [1 set 3 jilid Lengkap] Penulis ; Syaikh Salim bin Ied Al hilali ; Penerbit : pustaka Imam Syafii .. Product #: PIS-00012-SET Regular price: Rp 420.000 Rp 420.000

Ensiklopedi Larangan [1 set 3 jilid Lengkap]

Sudah merupakan hikmah Ilahi al-'Aliyyil 'Azhiim yang sangat dalam maknanya, bahwa manusia harus dibebani tanggung jawab dan diberi hak pilih.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  berfirman:
“ Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit bumi dan gunung-gunung, maka semuannya enggan untuk memikul amanat itu, dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.” [ QS Al Adzaab : 72)
Berhubung setiap beban dan tanggung jawab harus melalui dua cara agar hak pilih benar-benar sempurna, maka dari itu Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  menurunkan perintah dan larangan kepada para hamba-Nya. Perintah dalam bentuk perkataan: "Lakukan ini, lakukan itu!" Dan larangan dalam bentuk perkataan: "Jangan lakukan ini, jangan lakukan itu!"
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman:
"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. " (QS. Al-Balad (90): 10).
Hal ini sangat jelas terlihat pada kisah Adam dan Hawa. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah memerintahkan mereka berdua untuk menetap di dalam Jannah (Surga). Bebas menikmati apa saja yang mereka suka, dan melarang keduanya mendekati pohon terlarang.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman:
"Dan Kami berfirman: 'Hai Adam, diamilah olehmu dan isterimu Jannah ini dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zhalim. " (QS. Al-Baqarah (2): 35).
    Itulah Sunnatullah yang telah digariskan atas anak keturunan Adam –-Alaihissalam- , mereka dicoba dengan perintah dan larangan.
Sungguh, Menjauhi larangan lebih berat daripada mengerjakan perintah, sebab tidak ada dispensasi untuk melanggar larangan, sedangkan perintah dikerjakan sesuai kemampuan. Seperti disebutkan dalam hadits Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu-  ia mendengar Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:
"Tinggalkanlah sesuatu yang aku tidak anjurkan (aku larang)  kepadamu. Kebinasaan ummat terdahulu ialah karena mereka banyak bertanya dan selalu menyelisihi Nabi mereka. Jadi, apabila aku melarangmu dari sesuatu, tinggalkanlah, dan apabila aku perintahkan sesuatu kepadamu, lakukanlah semampumu! " [HR. Al-Bukhari (7288) dan Muslim (1337)]
Dahulu, ulama Salaf mengatakan: "Amal-amal kebajikan bisa dilakukan oleh setiap orang, yang shalih maupun yang jahat. Sementara maksiat, hanya orang-orang shiddiq sajalah yang mampu meninggalkannya."
Perkataan tersebut didukung pula oleh hadits Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- , ia berkata, Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam-  bersabda:
"'Siapakah yang berkenan mengambil kalimat-kalimat ini dariku lalu mengamalkannya atau mengajarkannya kepada siapa saja yang mau mengamalkannya?' “Saya wahai Rasulullah,” sahutku. Beliau pun meraih tanganku lalu menyebutkan lima perkara, beliau bersabda: 'Jauhilah perkara-perkara haram, niscaya engkau akan menjadi manusia yang paling sempurna ibadahnya. Terimalah dengan ridha apa yang telah diberikan Allah kepadamu, niscaya engkau akan menjadi manusia yang paling kaya. Berbuat baiklah kepada tetanggamu, niscaya engkau men¬jadi Mukmin sejati. Sukailah bagi manusia apa yang engkau sukai bagi dirimu, niscaya engkau menjadi Muslim sejati. Jangan banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati.'"
      Dari uraian di atas, jelaslah bahwa kesempurnaan 'Ubudiyyah (penghambaan diri kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- ) dapat diraih dengan meninggalkan larangan-larangan syari'at. Inilah buku yang mengumpulkan larangan-larangan syar'i yang shahih, yang disebutkan dalam as-Sunnah an-Nabawiyyah, agar muslimin dapat menjauhinya dan menjauhi keburukan dan mudharatnya. Sebab, apabila keburukan-nya telah tersebar dan banyak orang yang terjerumus ke dalamnya, niscaya akan rusaklah dunia dan akhirat mereka. Setiap pelanggaran syari'at pasti me-nimbulkan mudharat.
      Seperti penuturan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah -rahimahulloh-  berikut ini dalam kitabnya yang menakjubkan dan sarat dengan ilmu yang berguna berjudul cAd-Daa-u wadDawaa1 (halaman 65-67): "Satu hal yang mesti diketahui; Perbuatan dosa pasti menimbulkan mudharat. Bahayanya terhadap hati sama seperti bahaya racun terhadap tubuh hanya saja tingkatannya berbeda-beda sesuai mudharat yang ditimbulkannya.
     Bukankah setiap keburukan dan penyakit di dunia dan di akhirat penyebabnya adalah dosa dan maksiat?
    Bukankah dosa dan maksiat yang membuat Iblis diusir dari kerajaan langit ?, dia  dicampakkan, dilaknat, dikutuk lahir bathin, dirubah bentuknya menjadi seburuk-buruk dan sekeji-keji bentuk, bathinnya lebih buruk dan lebih keji daripada bentuk lahiriyahnya, dijauhkan dari Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  padahal sebelumnya ia didekatkan kepada-Nya, rahmat berganti menjadi laknat, rupanya yang elok berganti menjadi rupa yang buruk, Jannah berganti menjadi Neraka yang me-nyala-nyala, keimanan berganti menjadi kekufuran, menjadi musuh turun-temurun dan paling menentang padahal sebelumnya ia adalah loyal kepada al-Waliy al-Hamiid tit, gemuruh tasbih, taqdis dan tahlil berganti menjadi gemuruh kekufuran, syirik, kebohongan, kepalsuan dan kekejian, pakaian keimanan berubah menjadi pakaian kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Menjadi hina dina kedudukannya di sisi Allah dan menjadi rendah serendah-rendahnya dalam pandangan Allah. Iblis pun berhak menerima kemarahan Allah dan melempar-kannya ke tempat yang hina. Memurkainya semurka-murkanya dan menghina-kannya. Jadilah Iblis pemimpin bagi setiap orang fasik lagi berdosa. la merasa puas dengan kedudukan itu, padahal sebelumnya ia menduduki kursi 'Ubudiyyah (ketaatan) dan Siyaadah (kepemimpinan). Berlindunglah kepada Allah dan mohonlah kepada-Nya agar engkau tidak menyelisihi perintah-Nya dan tidak mengerjakan larangan-Nya.
      Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan penduduk bumi di tenggelamkan seluruhnya oleh banjir besar hingga air bah naik mencapai puncak-puncak gunung?
      Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan kaum Aad diluluh-lantakkan oleh angin sehingga mayat-mayat mereka bergelimpangan di atas muka bumi bagaikan tanggul-tanggul pohon kurma yang telah lapuk? Menghancur leburkan segala sesuatu yang dilewatinya, mulai bangunan, sawah, ladang sampai hewan ternak mereka? Jadilah tragedi mereka sebagai pelajaran bagi generasi mendatang sampai hari Kiamat!
      Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan kaum 'Aad dihancurkan oleh gelegar halilintar sampai memutus urat-urat jantung mereka hingga semua-nya binasa?
     Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan negeri kaum Luth diangkat, sampai-sampai para Malaikat mendengar lolongan anjing mereka.
kemudian negeri itu dibalikkan bersama-sama mereka sehingga bagian atas menjadi di bawah lalu Allah membinasakan mereka semua? Kemudian mereka dihujani batu dari langit. Terkumpullah pada mereka berbagai jenis adzab yang tidak pernah dirasakan oleh ummat selain mereka. Dan siapa saja yang mengikuti perbuatan dosa mereka akan merasakan adzab yang serupa. Hukuman seperti itu tidaklah jauh dari orang-orang yang zhalim.
    Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan dikirimnya awan yang mengandung adzab atas kaum Syu'aib, seperti bayangan yang memayungi me¬reka, dan ketika tepat di atas kepala mereka awan tersebut menghujani mereka dengan api yang menyala-nyala?
    Bukankah dosa dan maksiat yang telah menenggelamkan Fir'aun dan pengikutnya di laut lalu memindahkan arwah mereka ke Neraka Jahannam. Jasad mereka karam tenggelam di lautan sementara arwah mereka hangus ter-bakar dalam Neraka Jahannam!?
    Bukankah dosa dan maksiat yang telah menelan Qarun beserta istana, harta dan keluarganya ke dasar bumi?! Bukankah dosa dan maksiat yang telah membinasakan orang-orang yang diceritakan kisahnya dalam surat Yaasiin dengan gelegar halilintar hingga mereka semua binasa?! Bukankah dosa dan maksiat yang menyebabkan (bangsa) Bani Israil dikuasai oleh hamba-hamba Allah yang mempunyai kekuatan besar lalu mereka merajalela di seantero negeri, membunuh kaum pria, menawan anak-anak dan kaum wanita, membakar rumah-rumah dan menjarah harta. Kemudian akan dikirim untuk yang kedua kalinya atas mereka (Bani Israil), lalu membinasakan seluruh bangsa Bani Israil yang sanggup dibinasakan. Dan membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai?
      Bukankah dosa dan maksiat yang membuat mereka ditimpa berbagai jenis hukuman; mulai dari pembunuhan, penawanan, penghancuran negeri, kezhaliman penguasa, kutukan menjadi kera dan babi, dan untuk hukuman yang terakhir, Allah telah bersumpah dalam al-Qur-an:
'Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari Kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka adzab yang seburuk-buruknya.”(QS. Al-A'raaf (7): 167)."
Kemudian, Ibnul Qayyim melanjutkan (halaman 84-85): "Ada satu per-kara tentang dosa yang banyak membuat manusia keliru dalam menyikapinya.
Yaitu, mereka tidak melihat pengaruh dosa itu langsung pada waktu itu juga, kadang kala pengaruhnya terjadi jauh setelah itu namun mereka sudah lupa, lantas mereka mengira perkaranya sudah selesai.
      Risalah ini Ensiklopedi larangan ini  bisa  menjadi tuntunan kaum Muslimin untuk lebih memahami berbagai larangan-larangan syar'i yang shahih di atas  Sunnah an-Nabawiyyah, yang dengan pemahaman tersebut kita dapati jauhi keburukan serta kemudharatan yang ditimbulkannya.
Sebab, setiap pelanggaran syari'at pasti menimbulkan mudharat, menurut Ibnul Qayyim -rahimahulloh-  bahayanya terhadap hati sama seperti bahaya bagi tubuh menurut tingkatan mudharat yang ditimbulkannya.
      Adapun bahaya yang lebih besar lainnya adalah tercabutnya nikmat sebelumnya Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  telah limpahkan, merajalelanya kejahatan, malapetaka dan kerugian lainnya yang terjadi di dunia, belum lagi kerugian-kerugian yang Allah sediakan di akhirat. Hal yang sama juga telah dialami oleh ummat sebelum kita, dengan sebab mereka mendustakan ayat-ayat Allah, tidak mentaati perintah dan tidak menjauhi larangan-Nya, maka Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  binasakan mereka dan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-  cabut kembali nikmat yang telah dianugerahkan kepada mereka, seperti kebun-kebun, mata air, hasil pertanian, simpanan harta benda dan kedudukan mulia serta nikmat lain yang sedang mereka rasakan. Dalam hal ini Allah tidak menzhalimi mereka, tetapi justru merekalah orang-orang yang zhalim.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-berfirman:"Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaumy hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Mahamendengar lagi Mahamengetahui (QS. Al-Anfaal (8): 53).

      Agar kita selamat dari berbagai kebinasaan dan kerugian, baik di dunia maupun di akhirat, maka tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- , beribadah kepada-Nya, meninggalkan larangan-Nya, dan mengikuti petunjuk Nabi Muhammad  -Sholallahu Alaihi Wassalam- , agar tercapai kesempurnaan 'Ubudiyyah.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
ISBN 979-3536-03-9
Judul Asli Mausuuah Al manaahisy Syar’iyyah fi Shahiihis Sunnah An Nabawiyyah
Judul Buku Ensiklopedi Larangan
Jumlah Jilid Lengkap 3 Jilid Lengkap
Penerbit / Publisher Pustaka Imam Syafii
Penulis Syaikh Salim bin Ied Al Hilali
Ukuran Fisik Buku Buku ukuran Sedang 17 x 24 cm