• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka At-Taqwa Hukum Lagu, Musik, dan Nasyid : Menurut Syariat Islam Penulis : Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Penerbit: Pustaka At taqwa .. Product #: ATQ-0008 Regular price: Rp 30.000 Rp 30.000

Hukum Lagu, Musik, dan Nasyid : Menurut Syariat Islam

Harga: Rp 30.000  Rp 24.000

- +

Islam adalah agama fitrah yang sesuai dengan fitrah manusia. Islam tidak menafikan (menia-dakan) fitrah dan insting manusia, seperti suka bergembira, bersenang-senang, tertawa, dan bermain sebagaimana mereka diciptakan suka terhadap makan dan minum. Manusia tidak sama dengan malaikat yang seluruh waktunya diguna-kan hanya untuk melaksanakan ketaatan dan bertasbih kepada Allah Ta'ala tanpa henti.
"Dan milik-Nya siapa yang di langit dan di bumi. Dan (malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya, tidak mempunyai rasa angkuh untuk beribadah kepada-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka (malaikat-malaikat) bertasbih tidak henti-hentinya malam dan siang. " (QS. Al-Anbiyaa': 19-20)
Pernah suatu hari Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam menegur Hanzhalah radhiyallaahu 'anhu yang khawatir berbuat nifaq jika bergaul dan bermain-main dengan keluarga. Beliau menjelaskan Kepada Hanzhalah bahwa perbuatan yang dilakukannya, yaitu bersenda gurau bersama keluarga tidaklah mengapa jika dilakukan tidak berlebihan.
Diriwayatkan dari Hanzhalah al-Usayyidi -rodliallohu anhu- ia berkata, "Abu Bakar menemuiku dan berkata, 'Bagaimana kabarmu, wahai handzalah ?,"Aku berkata, 'Hanzhalah telah berbuat nifak.' Dia berkata, ' Subhaanallaah, apa yang telah engkau katakan?' Aku menjawab, 'Kami bersama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, beliau mengingatkan kami akan surga dan neraka sehingga kami seolah-olahbenar-benar melihatnya. Namun bila kami telah keluar dari sisi Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, kami bercanda serta sibuk bersama istri, anak-anak, dan pekerjaan sehingga kami banyak lupa (apa yang beliau ingat-kan).' Abu Bakar berkata, 'Demi Allah, sungguh, kami pun mendapati hal yang sama.' Maka aku dan Abu Bakar beranjak hingga kami menemui Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Aku berkata, 'Hanzhalah telah berbuat nifaq, wahai Rasulullah!' Maka Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda, ' Apa itu?' Aku jawab, 'Wahai Rasulullah! Kami bersamu, engkau mengingatkan kami akan surga dan neraka sehingga kami seolah-olah melihatnya, Namun bila kami telah keluar dari sisimu, kami bercanda dan sibuk dengan isteri, anak-anak, dan pekerjaan. Kami pun banyak lupa (apa yang engkau ingatkan). Maka Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, sungguh, bila kalian senantiasa seperti keadaan kalian bersamaku dan dalam keadaan berdzikir, para malaikat akan mengucapkan salam kepada kalian di tempat-tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi, wahai Hanzhalah, sejenak (begini dan), sejenak (begitu).'Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali." [HR. Muslim (no. 2750 (12)), at-Tirmidzi (no. 2514), ihn Ibnu Majah (no. 4239)]
Ada beberapa permainan dan hiburan yang mebolehkan oleh syari'at Islam untuk kaum Muslimin guna memberikan kegembiraan dan hiburan bagi mereka, seperti lomba lari cepat, gulat, memanah, bermain tombak (pendek), pacuan kuda, berburu, dan berenang. Pada beberapa bentuk permainan di atas seperti menunggang kuda, memanah, dan main tombak pendek, disamping mengandung unsur hiburan, pada hakikatnya terdapat latihan bagi kemampuan dan fisik sebagai persiapan meng-hadapi jihad fii sabiilillaah. Disamping adanya beberapa permainan yang dibolehkan dalam syiri'at Islam, ada juga beberapa permainan dan hiburan yang dilarang dan diharamkan karena bertentangan dengan fitrah manusia dan merusak.

Di antaranya adalah mendengarkan dan menyanyi-kan lagu dan memainkan musik.
Untuk meluruskan dan meletakkan masalah ini secara proporsional, kita harus melihat berbagai keterangan dari Al-Qur-an dan As-Sunnah serta penjelasan para ulama Salaf dalam hal ini. Bagi orang yang mau membaca dan menelaah kitab-kitab para ulama Salaf, maka hal ini tidak asing lagi bahwasanya mereka (para ulama Salaf) ber-sepakat mengenai haramnya lagu dan musik. Akan tetapi, lantaran keadaan manusia sudah banyak berubah, mereka sudah merasa asyik memainkan dan mendengarkan musik seakan-akan lagu dan musik itu sudah menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari, baik mereka mendengarkan di rumah, sekolah, kantor, mobil, dan lainnya. Dan sangat disayangkan, banyak pula ustadz, kyai, dan ulama yang masih hobi mendengarkan lagu dan musik sehingga kaum muslimin menganggap bahwa perbuatan ini merupakan sebagai satu hiburan yang halal dan mengasyikkan?!
Di antara faktor yang mendorong untuk membahas masalah lagu dan musik antara lain:
1. Sudah banyaknya terjadi perubahan dalam kehidupan beragama. Kebanyakan manusia sudah semakin jauh dari syari'at Allah Ta'ala, mereka hidup dalam perselisihan sehingga yang haq dikatakan bathil dan yang bathil dikatakan haq, yang haram dikatakan halal dan yang halal dikatakan haram, yang ma'ruf dikatakan mungkar dan yang mungkar dikatakan ma'ruf, serta yang Sunnah dikatakan bid'ah dan yang bid'ah dikatakan Sunnah.
Diriwayatkan dari al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallaahu 'anhu ia berkata, "Pada suatu hari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami lalu memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati takut, maka seseorang berkata, 'Wahai Rasulullah! Seakan-akan ini adalah nasehat dari orang yang akan berpisah, make berilah kami wasiat!' Maka Rasulullah menjawab, 'Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertakwa kepada Allah, tetap-ih mendengar dan taat (kepada penguasa) meskipun yang memerintah kalian adalah budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup diantara kalian sepeninggalku, dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berepegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.Peganglah erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian, dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru karena setiap perkara yang baru adalah bid'ah, dan setiap bid'ah adalah sesat.'
[Shahih: HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607), At Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimi (I/44), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (1/205), al-Hakim (1/95-96) beliau menshahih-kannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Lihat Irwaa-ul Ghaliil (no. 2455).]

2. Dalam beragama, kebanyakan kaum muslimin tidak mengikuti cara beragamanya para Shahabat radhiyallaahu 'anhum. Dalam beragama, umumnya kaum muslimin hanya mengikuti ustadz, tokoh, dan idola mereka. Bila ustadz, lokoh, dan idolanya itu senang mendengarkan lagu dan musik, maka kaum muslimin pun mengikuti mereka. Bahkan ada da'i yang men-jadikan lagu dan musik sebagai sarana ber-dakwah?! Allaahul Musta'aan.

3. Pementasan olah raga dan seni musik memiliki dampak negatif yang amat besar. Contohnya seni olah suara dan musik dengan segala atributnya jelas terlihat sebagai upaya untuk mengalihkan manusia dari dzikrullaah (mengingat Allah) kepada hawa nafsu dan syahwat. Pementasan seni apa pun (lagu, musik, fotografi, theater, dan yang sejenisnya) selalu dijadikan alat untuk mengeksploitir kecabulan, kebathilan, kerusakan 'aqidah, dan melalaikan manusia dari mengingat Allah. 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu (wafat th. 32 H) mengatakan,
"Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan di dalam hati."
[ Atsar shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dun-ya dalam Dzammul Malaahii (no. 12), al-Baihaqi dalam Sunannya (X/223), Ibnul Jauzi dalam Talbiis Ibliis (him. 240). Lihat al-Muntaqan Nafiis min Talbiis Ibliis (him. 305). Dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul Lahfaan (l/444-Takhrij Syaikh al-Albani) dan lihat juga Tahriim Aalaatith Tharb (him. 145-146) ]
Imam adh-Dhahhak rahimahullaah (wafat th. 102 H) mengatakan, "Nyanyian itu merusak hati mondatangkan kemurkaan Allah" [Talbiis Ibliis (hlm. 241) dan al-Muntaqan Nafiis min Talbiis Ibliis (him. 307).]
Imam Fudhail bin lyadh rahimahullaah (wafat th 187 H) mengatakan, "Nyanyian adalah ruqyah ( mantra -mantra) zina." [Talbiis Ibliis (hlm. 241) dan al-Muntaqan Nafiis min Talbiis Ibliis (him. 307).]

4. Musibah ini telah merata, yakni lagu dan musik setiap hari diperdengarkan, dimainkan, dan discnandungkan oleh hampir setiap orang, mulai. dari anak-anak (balita) sampai nenek-nenek dan kakek-kakek (para manula), bahkan ustadz, kyai, dan da'i terkena fitnah ini. Selain itu, ada juga di antara mereka yang berdakwah dengan lagu dan musik, mereka tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa hal lersebut adalah perbuatan dosa. Wallaahul Musta'aan.


Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
Judul Buku Hukum Lagu, Musik, dan Nasyid : Menurut Syariat Islam
Jumlah Halaman 182 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka At Taqwa
Penulis Ust.Yazid bin Abdul Qodir Jawas
Ukuran Fisik Buku Buku UKuran Sedang 13.5 x 20 cm