• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka Azzam Lathaiful Maarif : Keistimewaan dan Amalan di Bulan islam ( jilid 2) Penulis ; Imam Ibnu Rajab Al hambali, Penerbit : Pustaka Azzam .. Product #: AZ-000776-2 Regular price: Rp 199.000 Rp 199.000

toko buku islam muslim jual buku Lathaiful Maarif : Keistimewaan dan Amalan di Bulan islam ( jilid 2)

Brand: Pustaka Azzam

Harga: Rp 199.000

- +

Sesungguhnya Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, menganugerahkan kekhususan pada beberapa hari dan bulan berupa keutamaan untuk beribadah di dalamnya, yang tidak diberikan pada waktu-waktu lainnya. Hanyalah Allah yang mengetahui hikmahnya. Allah Ta'ala berftrman,
"Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Mahasuci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Al-Qashshas: 68)
Jika memperhatikan dengan seksama seluruh ciptaan Allah, niscaya engkau akan menyaksikan di dalam keutamaan dan pengkhususan tersebut terdapat sebuah petunjuk yang mengarah kepada rububiyah (ketuhanan) Allah Ta'ala, kesempumaan hikmah, ilmu, dan kekuasaan-Nya, dan hanyalah Allah yang berhak disembah. Sehingga, tidak ada sekutu bagi-Nya yang mampu menciptakan sebagaimana ciptaan-Nya, yang mampu memilih sebagaimana pilihan-Nya, yang mampu mengatur sebagaimana pengaturan-Nya.
Oleh karena itu, pada pilihan-Nya.pengaturan-Nya, dan pengkhususan-Nya yang bisa disaksikan pengaruhnya pada alam ini, merupakan tanda-tanda yang paling agung akan rububiyah-Nya ,kesempumaan Sifat-Nya, dan kebenaran para Rasul-Nya.
Di antara hal tersebut adalah bahwasanya Allah menciptakan tujuh lapis langit lalu mengutamakan yang tertinggi darinya, dan menjadikannya sebagai tempat menetap bagi para malaikat yang dekat dengan-Nya. Langit yang tertinggi juga berada dekat dengan Arsy dan Kursi-Nya, serta menempatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya di sana. Oleh karena itu, langit tersebut memiliki keistimewaan dan keutamaan dibandingkan langit yang lainnya. Dekatnya langit tersebut dengan Allah Ta'ala dan adanya pengkhususan baginya, padahal ada kesetaraan jenis dengan langit-langit yang lain dan dengan bumi, maka ini merupakan salah satu dalil yang paling jelas dan menunjukkan akan kesempurnaan kekuasaan dan hikmah Allah Ta'ala, dan bahwasanya Allah Maha Menciptakan dan memilih apa saja vang dikehendaki-Nya. Allah Ta'ala juga lebih mengutamakan Surga Firdaus daripada surga lainnya, serta memberinya keutamaan dengan menjadikan Arsy sebagai atapnya.
Allah Ta'ala menentukan para malaikat pilihan dari seluruh malaikat vang ada, seperti Jibril, Mika'il, dan Israfil. Allah Ta'ala juga telah memilih bagi para Nabi dan Rasul, lalu Allah Ta'ala memberi keutamaan kepada para nabi Ulul Azmi yang berjumlah lima orang di antara mereka, sebagaimana rang disebutkan dalam surat Al-Ahzab dan Asy-Syuraa. Kemudian, Allah Ta'ala memberi keutamaan bagi dua orang kekasih-Nya, yakni Ibrahim dan Muhammad Alahimashashalatu was Salam.
Allah Ta'ala memberikan keutamaan kepada keturunan Isma'il dari seluruh jenis anak keturunan Adam, kemudian dari keturunan Isma'il, Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memilih Bani Kinanah kabilah Khuzaimah, kemudian dari keturunan Mnanah, Allah Ta'ala mengutamakan kaum Quraisy, kemudian dari Quraisy, Allah Ta'ala mengutamakan Bani Hasyim, kemudian dari Bani Hasyim, Allah Ta'ala mengutamakan sang penghulu anak cucu Adam, yaitu Muhammad -Sholallahu Alaihi Wassalam- 
Demikian halnya, Allah Ta'ala telah mengutamakan para shahabat Nabi dibandingkan sebagian manusia yang ada di alam semesta. Dari mereka, Allah Ta'ala mengutamakan para Saabiqunal Awwaliin (kaum yang pertama-isna masuk Islam), lalu Allah Ta'ala mengutamakan Ahlul Badr (orang-:rang 'yang ikut dalam perang Badar) dan pengikut Bai'atur Ridwan. Alloh Subhanahu Wa Ta'ala memberikan keutamaan bagi para shahabat nabi, berupa agama yang sempurna, syariat yang paling istimewa, akhlak yang paling bersih, dan ummat yang terbaik. Allah Ta'ala mengutamakan umat Muhammad Shallallahu wa Sallam dibandingkan umat lainnya, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab Musnad Imam Ahmad, riwayat Bahzi bin Hakim bin Mu'awiyah bin Haidah, dari kakeknya, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Sesungguhnya kalian adalah kaum yang menyempurnakan tujuh puluh umat, kalian yang terbaik dan yang paling mulia bagi Allah. "
Allah Ta'ala juga memilih beberapa tempat dan negeri sebagai yang terbaik dan yang mulia, di antaranya tanah suci Mekah. Allah Ta'ala juga memberikan keutamaan bagi sebagian hari dan bulan terhadap yang lainnya, yaitu sebaik-baiknya hari adalah hari raya qurban, yakni hari untuk melaksanakan ibadah haji. Sebuah pendapat mengatakan bahwa hari yang terbaik dalam setahun adalah hari Arafah (9 Dzulhijjah). Allah Ta'ala juga memberikan keutamaan bagi sepuluh hari di bulan Dzulhijjah, karena itu adalah hari-hari terbaik di sisi Allah Ta'ala.
Allah Ta'ala juga memberikan keutamaan bagi bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lainnya, dan memberi keutamaan pada sepuluh hari terakhir di bulan tersebut daripada malam yang lainnya, serta memberikan keutamaan bagi malam Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan.
Maksud dari itu semua adalah bahwasanya Allah Azza wa Jalla telah memberikan kekhususan bagi hari dan bulan dalam setahun berupa keutamaan yang tidak dimiliki oleh hari dan bulan lainnya. Dia menjadikan ibadah padanya lebih utama dibandingkan dengan ibadah yang dilakukan pada waktu yang lain. Oleh karena itu, ahli ibadah yang selalu mengerjakan ibadahnya tanpa ikatan waktu, sebagaimana yang disebutkan Syaikhul Islam Ibnu Al'Qayyim dalam kitabnya Madarij As-Salikin, mereka adalah orang yang mengatakan, "Ibadah yang paling utama adalah beramal berdasarkan keridhaan Allah pada setiap waktu sesuai dengan tuntutan dan posisinya ketika itu. Ibadah yang paling utama pada saat jihad adalah jihad itu sendiri, sekalipun harus meninggalkan beberapa wirid yang biasa dilakukan, shalat malam, puasa sunnah di siang hari, bahkan tidak melakukan shalat fardhu secara sempuma seperti yang dilakukan dalam keadaan aman.
Ibadah yang paling utama pada saat kedatangan tamu adalah memenuhi haknya dan meninggalkan wirid yang sunnah untuk menghormatinya. Demikian pula halnya dengan hak istri dan keluarga. Ibadah yang paling utama ketika penuntut ilmu membutuhkan bimbingan dan mengajari orang yang bodoh adalah kepedulian untuk mengajarinya dan menyibukkan diri dengannya. Ibadah yang paling utama saat dikumandangkan adzan adalah meninggalkan wirid yang sedang dilakukannya dan menyibukkan diri dengan
menjawab seruan muadzin.
Ibadah yang paling utama pada waktu shalat lima waktu adalah bersungguh-sungguh dan tulus ketika melaksanakannya dengan cara yang paling , bersegera melaksanakannya pada awal waktu, dan keluar menuju untuk berjamaah. Apabila jaraknya jauh dari rumah, maka hal tersebut akan lebih utama lagi. Ibadah yang paling utama pada waktu-waktu darurat, yang seseorang sangat membutuhkan bantuan jiwa atau raga adalah menyibukkan diri dengan membantu dan menolong kesedihannya, serta lebih mementingkan hal tersebut daripada wirid atau ibadah yang dilakukan lalam keadaan sunyi.
Ibadah yang paling utama pada saat membaca Al-Quran adalah menghmpun hati dan keinginan untuk menghayati dan memahami isinya hingga seolah-olah Allah Ta'ala berbicara kepadamu dengan perantaraannya. Upaya Anda dalam menghimpun hati untuk menghayati dan memahami Al-Quran serta tekad untuk melaksanakan segala perintah Allah yang ada di dalamnya, nerupakan hal yang lebih mulia daripada orang yang menghimpun hatinya untuk melaksanakan perintah dari seorang penguasa di dunia.
Ibadah yang paling utama pada waktu wuquf di Arafah adalah bersungguh-saigguh dalam merendahkan diri, berdzikir, dan berdoa, bukan berpuasa yang rapat menghalangi diri untuk melakukan hal tersebut. Ibadah yang paling utama pada sepuluh hari di bulan Dzulhijah adalah memperbanyak ibadah, terutama takbir, tahlil, dan tahmid, yang merupakan amalan yang lebih utama daripada jihad yang bukan fardhu 'ain. Ibadah yang paling utama di sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan adalah menetap di dalam masjid, menjauhi manusia, dan beri'tikaf, bukan berinteraksi dengan manusia dan menyibukkan diri di tengah-tengah mereka. Bahkan, menurut sebagian besar ulama, hal tersebut lebih utama daripada mempelajari ilmu dan membaca Al-Quran. Ibadah yang paling utama pada saat saudara sesama muslim mengalami sakit atau meninggal dunia adalah mengunjunginya, menghadiri jenazahnya, dan ikut mengantarnya.
Ibadah yang paling utama di kala musibah datang dan ketika ada seseorang menyakitimu adalah bersabar dengan tetap berinteraksi dengan mereka bukan menjauhi mereka.
Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Rajab Al-Hanbali -rahimahulloh- telah menyusun sebuah kitab yang berjudul Lathaa-if Al'Ma arif Fiimaa Limawasim Al-Aam min Al-Wadza-if. Kitab ini menuntun kami untuk menyelami betapa dalamnya lautan pemikiran dan membawa kami berjalan-jalan di dalam taman-taman ilmu pengetahuan seputar kedudukan setiap bulan yang ada dalam setahun, yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk mengetahuinya pada saat ini.

lanjutan Amalan Bulan ramadhan
Amalan di Bulan Syawal
Amalan di Bulan Dzulqodah
Amalan di Bulan dzulhijjah

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Judul Asli Lathaa-if Al'Ma’arif Fiimaa Limawasim Al-Aam min Al-Wadza-if
Judul Buku Lathaiful Maarif : Keistimewaan dan Amalan di Bulan islam ( jilid 2)
Penerbit / Publisher Pustaka Azzam
Pentahqiq Amir bin Ali Yasin
Penulis Imam Ibnu Rajab Al hambali
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 15 x 23.5 cm