• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka At-Taqwa Sedekah Sebagai bukti Keimanan dan Penghapus Dosa Penulis : ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas;Penerbit : Pustaka At Taqwa .. Product #: ATQ-0020 Regular price: Rp 37.000 Rp 37.000

Sedekah Sebagai bukti Keimanan dan Penghapus Dosa

Harga: Rp 37.000  Rp 29.600

- +

Dari Abu Hurairah rodhiyollohu 'anhu ia mengatakan bahwa Rasulullah shollallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Tidak ada hari dimana hamba berada di dalamnya kecuali ada dua Malaikatyangturun. Salah satu dari keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak., ' Sedang Malaikat yang satunya lagi berkata, ' Ya Allah, berikanlah kehancuran kepada  orang-orang yang tidak mau berinfak.'" [ Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1442) dan Muslim (no. 1010).]
     Tidak ada yang bermanfaat bagi seorang hamba dalam kehidupan akhiratnya kelak selain amal shalih yang pernah ia lakukan dengan ikhlas karena Allah Ta'ala. Orang-orang yang beramal shalih dijanjikan Allah dengan Surga. Berbahagialah orang-orang der-mawan, yang memelihara hak-hak orang miskin, anak yatim, dan orang-orang fakir. Beruntunglah orang-orang yang menginfakkan hartanya dengan ikhlas karena Allah Ta'ala. Dan merugilah orang-orang yang bakhil, kikir, pelit, dan kedekut yang menahan harta¬nya dari orang-orang yang berhak ia berikan.
Allah Ta'ala berfirman,
" Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (Surga), maka akan Kami mudahkan bagi-nya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan). Dan ada-pun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah), serta mendustakan (pahala) yang terbaik, maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan). Dan harta tidak bermanfaat baginya apabila telah binasa." (QS. Al-Lail 5-11)
   Seorang mukmin tujuan hidupnya adalah akhirat. Karena itu, ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk melaksanakan amal-amal shalih agar ia dimasuk-kan ke Surga. Bagi seorang mukmin, hidup sepenuh-nya adalah untuk beribadah kepada Allah 'Azza wa Jalla dan mencari harta (mata pencaharian) dalam rangka ibadah kepada-Nya, untuk menunaikan kewajiban, dan memenuhi kebutuhan anak, istri, orang tua, dan orang-orang yang menjadi tanggungannya. Orang yang tujuannya akhirat akan dimudahkan urusannya oleh Allah dan diberikan kekayaan hati.
Rasulullah shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa tujuannya hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di ha tiny a, dan dunia akan mendatangi-nya dalam keadaan hina." [Shahih: HR. Ahmad (V/183), Ibnu Majah (no. 4105), Ibnu Hibban (no. 72-Mawaariduzh Zham'aan) , dan al-Baihaqi (VII/288) dari Shahabat Zaid bin Tsabit radhiyallaahu 'anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 950).]
     Tidak diragukan lagi, bahwa jika manusia tidak menjadikan dunia sebagai tujuannya yang terbesar, maka Allah akan memberikannya taufiq dan menolong-nya serta memberikan kekayaan di hatinya.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
 "Rabb kalian Yang Mahasuci dan MahaTinggi ber-firman,
'Wahai anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk ber-ibadah kepada-Ku, niscaya akan Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rezeki. Wahai anak Adam! Janganlah engkau menjauh dari-Ku sehingga Aku mengisi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan ke-sibukan.'[Shahih: HR. Al-Hakim (IV/326) dari Shahabat Ma'qil bin Yasar radhiyal¬laahu 'anhu. Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Dishahihkan juga oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (111/347) dan Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (no. 3165).]
         Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam juga ber¬sabda, 'Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman,
'Wahai anak Adam! Luangkanlah waktumu untuk ber-ibadah kepada-Ku, niscaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan kefakiranmu tidak akan ditutup.'[Shahih: HR. Ahmad (11/358), at-Tirmidzi (no. 2466), Ibnu Majah (no. 4107), dan al-Hakim (11/443) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (111/346) dan Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib (no. 3166)]
        Sungguh, Allah Ta'ala telah menghina dunia jika tidak digunakan untuk ketaatan kepada Allah Ta'ala.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, dan orang yang mempelajari ilmu.' [Hasan: HR. At-Tirmidzi (no. 2322), Ibnu Majah (no. 4112), dan Ibnu 'Abdil Barr dalam Jaami' Bayaanil 'llmi wa Fadhlih (1/135, no. 135), dari Sha¬habat Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu. Lihat Shahiih at-Targhib wat Tarhiib (no. 74). Lafazh ini milik at-Tirmidzi.]
      Di antara amal shalih yang besar ganjarannya dan mulia di sisi Allah Ta'ala adalah sedekah. Sedekah memiliki rahasia yang mengagumkan dalam menolak bencana. Dengan sedekah, Allah akan menolak berbagai macam bencana. Hal ini sudah diketahui di kalangan manusia, baik kalangan terpelajar maupun masyarakat umum. Penduduk bumi mengakuinya karena pernah mencobanya.
Pada hakikatnya harta yang kita miliki adalah harta yang telah kita habiskan dan kita sedekahkan, sedangkan harta yang kita tinggalkan dan kita simpan adalah milik ahli waris kita.
     Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Siapakah di antara kalian yang mencintai harta ahli warisnya lebih daripada mencintai hartanya sendiri? Mereka menjawab, "Ya Rasulullah! Tidak ada seorang pun diantara kami melainkan lebih mencintai hartanya sendiri." Lalu beliau bersabda, "Sesungguhnya hartanya sendiri itu ialah apa yang telah dipergunakannya (disedekahkannya) dan harta ahli warisnya ialah apa yang ditinggalkan-nya" [Shahih: HR. Muslim (no. 2958).]
      Seorang yang beriman kepada Allah Ta'ala dan hari Akhir hendaknya berlomba-lomba bersedekah karena sedekah merupakan bukti keimanan, mengha-puskan dosa, memudahkan jalan menuju surga, dan menghindarkan seseorang dari api neraka. Seorang mukmin harus yakin seyakin-yakinnya bahwa apa saja yang kita miliki pasti habis dan apa yang ada di sisi Allah pasti kekal.
Allah Ta'ala berfirman,
"Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal..." (QS. An-Nahl: 96)
 Seorang mukmin harus yakin bahwa apa yang ia sedekahkan dan infakkan pasti akan diganti oleh Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman,
"Katakanlah, 'Sungguh, Rabb-ku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.' Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Saba': 39)
Sedekah dalam Islam memiliki kedudukan yang tinggi dan agung. Sedekah memiliki kedudukan yang penting dalam menyebarkan dakwah Islam. Sedekah memiliki nilai tinggi dalam kehidupan sosial kemasya-rakatan. Apabila seorang muslim dan muslimah setiap hari bersedekah kepada orang-orang yang susah, orang yang kelaparan, fakir miskin, dan orang-orang yang mengalami kesulitan, dan memenuhi kebutuhan me-reka sambil mendakwahkan mereka ke jalan yang benar dan dilakukan ikhlas semata-mata karena Allah 'Azza wa Jalla dan mengharap ganjaran dari Allah Ta'ala semata, maka insya Allah akan membantu tersebarnya
dakwah Islam dan juga dapat meningkatkan kesejah-teraan sosial masyarakat.
     Yang wajib diingat oleh seluruh kaum muslimin bahwa harta adalah fitnah.
Allah Ta'ala berfirman,
hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (cobaan bagimu), dan di sisiAllah pahala yang besar." (QS. At-Taghaabun: 15)
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Setiap ummat memiliki fitnah (ujian), dan fitnah (ujian) ummatku adalah harta."[ Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2336), Ahmad (1V/160), Ibnu Hibban (no. 247Q-al-Mawaarid), dan al-Hakim (IV/318), lafazh ini milik at-Tirmidzi, beliau berkata, "Hadits ini hasan shahih." Dari Shahabat Ka'ab bin 'lyadh radhiyallaahu 'anhu. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 592).
     Kita wajib berjihad dengan harta kita dengan mem-bantu dakwah Ahlus Sunnah, menyebarkan dakwah Islam, membantu para da'i dan para ustadz, sekolah-sekolah Islam dan pondok pesantren-pondok pesantren Ahlus Sunnah, agar dakwah berkembang. Kaum mus¬limin harus berinfak dan bersedekah agar dakwah Islam, dakwah Ahlus Sunnah wal Jama'ah tegak di muka bumi. Kaum muslimin wajib mengetahui bahwa orang-orang kafir pun berinfak dan bersedekah untuk menutup, mencegah, serta memporak-porandakan dakwah Islam.
Allah Ta'ala berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang kafir itu menginfakkan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan (terus) menginfakkan harta itu kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhir-nya mereka akan dikalahkan. Ke dalam neraka Jahannam-lah orang-orang kafir itu akan dikumpulkan." (QS. Al-Anfaal: 36)
    Ingatlah bahwa harta yang kita sedekahkan dan infakkan tidak akan berkurang, bahkan tetap Allah akan tambah dan suburkan. Allah Ta'ala berfirman,
"Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. . . " (QS. Al-Baqarah: 276)
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Sedekah tidak mengurangi harta. Allah tidak menambah kepada seorang hamba karena sifat maafnya, kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri (tawadhu') karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." [Shahih: HR. Muslim (no. 2588) dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu.]
        Dan yang wajib diperhatikan oleh setiap muslim dan muslimah bahwa kita bersedekah dan berinfak serta mengerjakan ibadah-ibadah yang lainnya wajib ikhlas karena Allah dan dengan tujuan agar masuk surga. Tujuan bersedekah itu bukan karena ingin kaya, lulus ujian, naik jabatan, diganti sekarang di dunia, dan lainnya. Tujuan kita sedekah harus semata-mata karena Allah dan tujuannya adalah mengharap balasan di negeri akhirat, bukan tujuan duniawi.
Mudah-mudahan Allah Ta'ala memberikan taufiq kepada kita semua sehingga kita menjadi orang-orang yang senang membaritu sesama muslim yang mem-butuhkan, baik dengan zakat, infak, sedekah, hadiah, hibah, dan bentuk derma yang lainnya.
        Buku ini membahas tentang sedekah dan juga keutamaannya yang sangat banyak. Penulis menulis buku ini sebagai seruan dan ajakan kepada penulis khususnya, kepada para pembaca sekalian, dan seluruh kaum muslimin agar gemar bersedekah, baik sedekah yang wajib berupa zakat maupun sedekah yang sunnah. Sebab, kita semua mengetahui bahwa harta yang kita miliki pada hakikatnya adalah milik Allah; Allah-lah yang memberikan seluruh nikmat dan harta kepada makhluk-Nya. Dan harta merupakan amanah dari Allah yang kita harus cari dengan jalan yang halal dan kita sedekahkan atau kita habiskan untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
Judul Buku Sedekah Sebagai bukti Keimanan dan Penghapus Dosa
Jumlah Halaman 204 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka At Taqwa
Penulis Ust.Yazid bin Abdul Qodir Jawas
Ukuran Fisik Buku Buku UKuran Sedang 13.5 x 20 cm