• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Darul Haq Sungguh Merugi Siapa Yang Mendapati Orang Tuanya Masih Hidup Tetapi Tidak Meraih Surga Penulis : Ghalib bin Sulaiman Al Harbi; Penerbit : darul haq .. Product #: DHQ-0076 Regular price: Rp 13.000 Rp 13.000

Sungguh Merugi Siapa Yang Mendapati Orang Tuanya Masih Hidup Tetapi Tidak Meraih Surga

Harga: Rp 13.000

- +

Dalam Islam, terdapat karakteristik nilai keluhuran yang tidak dimiliki oleh agama lain, inilah yang menempatkan Islam pada derajat yang tinggi. Seperti berbakti kepda orang tua, semua agama menganjurkannya. Tapi tidak seintens dalam Islam. Islam mengajarkan anak agar berbakti kepada orang tua dalam ruang lingkup yang lebih luas, pada saat mereka masih hidup, setelah mereka meninggal dunia, membayarkan hutang kedua orang tua, mendoakan keduanya, melaksanakan wasiat dan bersedekah untuk keduanya.
Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, " Sungguh merugi orang yang mendapati ibu bapaknya ( masih hidup) di usia tua, namun dia tidak mampu meraih surga (dengan berbakti kepada keduanya)."
Rosullulloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,
"Sesungguhnya sebaik-baik tabi'in adalah seorang laki-laki yang bernama Uwais, dia memiliki seorang ibu yang dia berbakti kepadanya. Sekiranya dia bersumpah atas Nama Allah, niscaya Allah akan mengabulkannya. Dia memiliki tanda putih di badannya. (Jika kalian bertemu dengannya) mintalah kepadanya agar memohonkan ampunan kepada Allah untuk kalian." [hadits Riwayat Muslim no 2542]
Diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, dia berkata, "Tatkala Abu Musa al-Asy'ari dan Abu Amir datang kepada Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- untuk berbai'at dan masuk Islam, Rasulullah bertanya, 'Apa yang dilakukan oleh seorang perempuan dari kalian yang dipanggil demikian dan demikian?' Mereka menjawab, ' Kami meninggalkannya (maksudnya menceraikannya) pada keluarganya. ' Rasulullah bersabda, ' Sesungguhnya dia telah diampuni dari dosa-dosanya. ' Mereka bertanya, ' Disebabkan apa wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Disebabkan baktinya terhadap ibunya.' Beliau melanjutkan, 'Dia pernah memiliki seorang ibu yang lemah lagi tua renta. Suatu saat datang pembawa peringatan yang mengatakan bahwa musuh akan menyerbu malam ini. Maka dia pun pergi dengan menggendong ibunya. Jika dia lelah, maka dia meletakkannya. Dia menempelkan perutnya pada perut ibunya dan menjadikan kakinya di loawah kaki ibunya agar kaki ibunya terhindar dari batu, hingga akhirnya dia selamat'.[Hadits mursal. Lihat Syu'ab al-Iman, 10/311]
Ibnu Umar -Rodliallahu Anhu- pernah berkata kepada seorang laki-laki, "Apakah kamu takut masuk neraka dan ingin masuk surga?" Laki-laki itu menjawab, "Tentu." Ibnu Umar -Rodliallahu Anhu- berkata, "Berbaktilah kepada ibumu. Demi Allah, sekiranya kamu lemah lembut dalam berbicara kepadanya dan memberinya makan, niscaya kamu benar-benar akan masuk surga, selama kamu menjauhi dosa-dosa besar." [ lihat: jamiul ulum wal al hikam 1/70]
Muhammad bin al-Munkadir -rahimahulloh- pernah meletakkan pipinya di tanah, kemudian berkata kepada ibunya, "Ibuku, berdiri dan letakkanlah kaki ibu di atas pipiku." [ lihat : Nuzah al Fudlola' 2/806]
Ibnu al-Munkadir juga pernah berkata, "Saudaraku, Umar menghabiskan malamnya dengan shalat, sedangkan aku menghabiskan malamku dengan meng-elus-elus kaki ibuku, dan aku tidak ingin malamku itu diganti dengan malam saudaraku." [ lihat : Nushah Al fudlola' 2/609].
Muhammad bin Sirin -rahimahulloh- dia berkata, "Pada masa Utsman bin Affan -Rodliallahu Anhu- , harga pohon kurma mencapai seribu dirham. Usamah menuju suatu pohon kurma, lalu menggigitnya dan mengeluarkan daging pohon kurma yang paling lunak, kemudian menghidangkannya untuk ibunya. Orang-orang berkata kepadanya, 'Apa yang membuatmu melakukan hal ini, sementara kamu tahu bahwa harga pohon kurma sampai seribu dirham?' Dia menjawab, 'Karena ibuku memintanya, dan tidaklah beliau meminta sesuatu kepadaku yang aku mampu, melainkan aku pasti akan memberikan itu kepadanya'" [ lihat : Al Birr Al Walidain hal 29]
Dari Abu Burdah -rahimahulloh- , dia berkata, "Aku pernah mendengar ayahku bercerita, bahwa dia pernah melihat Ibnu Umar dan seorang laki-laki dari Yaman yang sedang menggendong ibunya melakukan thawaf di Baitullah. Laki-laki itu berkata,
Sesungguhnya aku adalah untanya yang ditundukkan
Jika ia mengejutkan sanggurdinya, niscaya aku tidak akan terkejut
Kemudian dia berkata, 'Wahai Ibnu Umar, apakah kamu berpendapat bahwa aku telah membalas ibuku?' Ibnu Umar menjawab, Tidak, meskipun hanya sehela nafas (keletihan)nya", Kemudian Ibnu Umar berthawaf hingga sampai maqam, lalu shalat dua rakaat, kemudian berkata, 'Wahai Ibnu Abi Musa, sesungguhnya setiap dua rakaat dapat menghapus dosa-dosa yang ada di depan kedua orang tua' [ lihat : Al Adabul Mufrod, hal 17]
Dari Abu Hazim, bahwa Abu Murrah, mantan budak Ummu Hani', putri Abu Thalib, telah mengabarkan kepadanya, bahwa dia pernah naik kendaraan bersama Abu Hurairah -Rodliallahu Anhu- ke kampungnya di al-Aqiq. Tatkala dia sampai di daerahnya, maka dia berteriak kencang, "Semoga keselamatan, Rahmat Allah dan Keberkahan-Nya terlimpahkan kepadamu wahai ibuku!" Kemudian ibunya menyahut, "Semoga keselamatan, Rahmat Allah dan KeberkahanNya juga terlimpahkan kepadamu ", Abu Hurairah berkata kembali, "Semoga Allah merahmatimu sebagaimana engkau telah mendidikku tatkala aku masih kecil." Ibunya menimpali, "Demikian juga engkau wahai anakku. Semoga Allah membalasmu de-ngan kebaikan dan meridhaimu sebagaimana engkau telah berbakti kepadaku di kala aku telah tua" [ lihat : Al adabul Mufrod hal 17]
Abu Bakar bin 'Ayyasy berkata, "Aku pernah duduk bersama Manshur di rumahnya. Kala itu ibunya yang keras berteriak kepadanya seraya mengatakan, 'Wahai Manshur, Ibnu Hubairah menginginkanmu menjadi qadhi (hakim), kenapa kamu menolaknya?' Mendengar teguran keras ibunya Manshur hanya menunduk tanpa melihat kepada ibunya'." [lihat : Al Birr wa ash shilah, ibnul jauzi]
Haiwah bin Syuraih -rahimahulloh- , salah seorang imam kaum Muslimin, pernah suatu hari duduk di halaqah-nya (majelis ilmu) untuk mengajarkan ilmu kepada orang-orang. Tiba-tiba ibunya berkata kepadanya, "Bangkitlah wahai Haiwah, taburkan-lah gandum untuk ( memberi makan) ayam kita." Maka Haiwah pun bangkit dan meninggalkan taklimnya' [lihat : Al Birr wa ash shilah, ibnul jauzi]
Dari Ibnu 'Aun, bahwa pada suatu saat ibunya memanggilnya, maka dia pun menjawab panggilan sang ibu. Ternyata suaranya melebihi suara ibunya, karena itu dia pun memerdekakan dua budak." [ lihat : Nuzhah Al fudlola' 2/656].
Pada suatu hari Ibnu al-Hasan at-Tamimi al-Bashri hendak membunuh seekor kalajengking. Kalajengking tersebut masuk ke dalam sarangnya. Maka dia memasukkan jari-jarinya ke lubang sarang tersebut, sehingga kalajengking iru menyengatnya. Lalu dia berkata kepada kalajengking itu, 'Aku khawatir kamu keluar lalu menghampiri ibuku untuk menyengatnya'." [[ lihat : Nushah Al fudlola' 2/653].
Al-Ma'mun berkata, "Aku tidak pernah melihat seorang anak yang lebih berbakti kepada ayahnya dari-pada al-Fadhl bin Yahya. Baktinya tersebut sampai pada suatu keadaan di mana Yahya (bapaknya) tidak pernah berwudhu kecuali dengan air hangat. Kala itu mereka sedang di penjara, lalu para penjaga penjara melarang kedua-nya memasukkan kayu bakar (utk menghangatkan air) di malam yang sangat dingin. Maka ketika Yahya ( sang bapak) mulai tidur, al-Fadhl ( sang anak) mengisi air di suatu botol, kemudian menghangatkan air tersebut dengan mendekatkannya ke api lampu. Dia terus berdiri memegang botol tersebut hingga pagi hari."
Para penjaga penjara mengetahui apa yang dilakukan oleh al-Fadhl yang mendekati api lampu untuk menghangatkan air ( air untuk wudlu bapaknya). Mengetahui hal ini, penjaga penjara melarang orang-orang yang ada di penjara untuk menyalakan lampu di malam berikutnya. Maka al-Fadhl memenuhi botol dengan air, kemudian dia bawa ke tempat tidurnya, dan dia tempelkan pada perutnya hingga air itu menjadi hangat." [lihat : Al Birr wa ash shilah, ibnul jauzi]
Muhammad bin Abdurrahman bin Abu az-Zinad adalah seseorang yang sangat berbakti kepada ayahnya. Suatu kali ayahnya memanggil, "Wahai Muhammad." Ternyata dia tidak menyahut hingga kemudian dia datang kepada ayahnya dalam keadaan kepala tertunduk lalu menyahutinya. Sang ayah kemudian menyuruhnya melakukan suatu keperluannya. Dia langsung menyanggupinya tanpa bertanya-tanya karena takzim kepadanya, hingga dia bertanya kepada orang lain yang paham tentangnya." [lihat : Al Birr wa ash shilah, ibnul jauzi]
Dari Anas bin an-Nadhr al-Asyja'i, dia berkata, "Pada suatu malam ibu Ibnu Mas'ud -Rodliallahu Anhu- pernah meminta air minum kepadanya. Tatkala Ibnu Mas'ud datang membawakan air kepadanya, ternyata dia mendapati ibunya sudah tidur, maka dia tetap memegang air tersebut di dekat kepala ibunya hingga pagi hari." [lihat : Al Birr wa ash shilah, ibnul jauzi 1/5]
Zainal Abidin adalah seorang yang sangat berbakti kepada ibunya, hingga pada suatu saat dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya engkau adalah orang yang sangat berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan satu piring bersamanya." Maka dia menjawab, "Aku khawatir tanganku mendahuluinya mengambil sesuatu yang telah dilihat matanya, sehingga aku menjadi durhaka kepadanya."

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover softcover
ISBN 9789791254489
Judul Asli Birr Al Walidain wa tahrim uquihima
Judul Buku Sungguh Merugi Siapa Yang Mendapati Orang Tuanya Masih Hidup Tetapi Tidak Meraih Surga
Jumlah Halaman 94 hlm
Penerbit / Publisher Darul Haq
Penulis Ghalib bin Sulaiman Al Harbi
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Kecil 12.5 x 17.5 cm