• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Biografi 60 Ulama Ahlus Sunnah

Harga: Rp 180.000  Rp 144.000

- +

Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah menjamin untuk memelihara adz-Dzikr, seraya berfirman,
" Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. " (Al-Hijr: 9).
Adz-Dzikr adalah Kitab yang diturunkan dan Sunnah Nabi yang diutus.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah menamakan as-Sunnah dengan Dzikr, sebagaimana FirmanNya,
"Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka." (An-Nahl: 44).
Apa yang diturunkan kepada mereka adalah al-Qurvan tanpa diragukan lagi, sedangkan adz-Dzikr yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah as-Sunnah. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- telah menyebut as-Sunnah dengan sebutan adz-Dzikr secara mutlak, sebagaimana dalam ayat ini, dan menyebut as-Sunnah dengan sebutan al-Hikmah secara mutlak, sebagaimana dalam FirmanNya,
"Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). " (Al-Ahzab: 34).
Pada segala keadaan, memelihara as-Sunnah termasuk memelihara al-Qurvan, karena as-Sunnah menjelaskan mujmal al-Quran, mengkhususkan keumumannya, dan membatasi kemutlakannya. As-Sunnah adalah penerapan praktis dari al-Quran.
Ketika Aisyah binti Abu bakar -Rodliallohu Anhuma- ditanya tentang akhlak Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- , beliau menjawab,
"Akhlak beliau adalah al-Quran." [HR. Ahmad].
Kebutuhan al-Quran kepada as-Sunnah lebih banyak dari-pada kebutuhan as-Sunnah kepada al-Quran. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman,
"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat." (Al-Baqarah: 43).
Di manakah dalam al-Quran yang menyebutkan waktu-waktu shalat, syarat-syarat sahnya shalat, kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnahnya; semua itu hanya dijelaskan oleh Sunnah Nabi. Begitu pula di manakah dalam al-Quran yang menyebutkan tentang nishab-nishab harta dan kadar wajibnya; semua itu hanya dijelaskan dalam as-Sunnah. Mengingkari as-Sunnah sama halnya dengan mengingkari al-Quran, karena Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- mewajibkan kita supaya mengikuti (Sunnah) RasulNya -Sholallahu Alaihi Wassalam- , berpetunjuk dengan petunjuknya, dan mencontoh Sunnahnya. Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman,
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr: 7).
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu." (An-Nisa: 59).
Di antara faktor terbesar terpeliharanya as-Sunnah, ialah Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- memberi taufik kepada para tokoh Ulama yang telah membaktikan seluruh usia mereka untuk mengkodifikasi Sunnah, menghafal, mempelajari, mengajarkan, membela, dan memurnikannya dari campuran yang dimasukkan ke dalamnya oleh kaum Zindiq/sesat..
Khalifah Harun ar-Rasyid -rahimahulloh- telah memerintahkan agar memenggal leher seorang Zindiq, karena mengaku bahwa dia telah memalsukan empat ribu hadits dan mencampurnya dengan Sunnah Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- .
Harun ar-Rasyid -rahimahulloh- mengatakan kepadanya, "Bandingkan dirimu, wahai musuh Allah, dengan Abu Ishaq al-Fazari dan Abdullah bin al-Mubarak, keduanya mengukuhkan as-Sunnah, lalu mengeluarkannya huruf demi huruf."
Di antara kebanggaan umat ini, ialah bahwa sejarah mereka dikodifikasi dan para tokohnya diriwayatkan biografinya. Sejarah Islam penuh dengan peristiwa-peristiwa besar yang dibanggakan seluruh umat dan bangsa. Demikian pula sejarah Islam kaya de¬ngan tokoh-tokoh yang tiada taranya dan ulama terkemuka, yang mempresentasikan keagungan Islam, dan membenarkan dakwah Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- .
Para ulama terkemuka, dan para imam yang mulia, adalah buah-buah yang baik lagi penuh berkah bagi dakwah Islam yang abadi. Para tokoh yang terdidik dengan Islam, terbina untuk Islam. Melalui merekalah Allah meninggikan panjiNya, menjayakan sya-riatNya.
Karena itu, betapa sanat membutuhnya para penuntut ilmu mengetahui nilai para ulama terkemuka, pada masa-masa ketika rambu-rambu as-Sunnah terkikis, petaka dan ujian merajalela, kemauan penuntut ilmu melemah, dan manusia sibuk dengan perhiasan/urusan dunia, sehingga melupakan negeri pahala dan siksa, serta mereka tidak mengetahui faktor-faktor keluhuran dan kemuliaan di dunia dan akhirat berupa ilmu yang bermanf aat dan amal yang shalih.
Para ulama adalah raja dunia, sebagaimana mereka adalah raja akhirat.
Seorang laki-laki masuk kota Bashrah, lalu dia bertanya, "Siapakah pemimpin kota ini?" Mereka menjawab, "Al-Hasan al-Bashri." Dia bertanya, "Karena apakah dia menjadi pemimpin mereka? “, Mereka menjawab, "Mereka membutuhkan ilmunya, sedangkan dia tidak membutuhkan harta benda mereka."
Sufyan bin Uyainah -rahimahulloh- mengatakan, "Orang yang paling tinggi kedudukannya ialah orang yang berada di antara Allah dengan para hambaNya, yaitu para nabi dan ulama."
Sufyan ats-Tsauri -rahimahulloh- berkata, "Sesungguhnya hadits ini adalah kemuliaan. Barangsiapa menginginkan dunia dengannya, maka dia mendapatkannya, dan barangsiapa menginginkan akhirat dengannya, maka dia mendapatkannya."
Ilmu dapat mengangkat (derajat) budak hingga menduduk-kannya di majelis para raja. Imam Muslim -rahimahulloh- meriwayatkan dalam Shahihnya dari hadits az-Zuhri, dari Abu ath-Thufail bahwa Nafi bin Abd al-Harits mendatangi Umar bin al-Khaththab di Usfan, sementara Umar telah mengangkatnya sebagai gubernur bagi penduduk Makkah. Umar bertanya kepadanya, "Kepada siapa engkau mewakilkan untuk memimpin penduduk lembah (Makkah)?" Dia menjawab, "Aku mewakilkan Ibnu Abza untuk memimpin mereka." Umar bertanya, "Siapakah Ibnu Abza?" Dia menjawab, "Dia adalah pembaca (penghafal) Kitabullah, pandai tentang faraidh (ilmu tentang hukum waris)." Umar menimpali, "Ketahuilah, sesungguhnya Nabi kalian -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda,”Sesungguhnya Allah meninggikan beberapa kaum dengan ilmu ini, dan merendahkan beberapa kaum lainnya dengannya'.” [ lihat Shahih Muslim , kitab Shalah Al Musafirin 7/98].
Ibrahim al-Harbi -rahimahulloh- mengatakan, "Atha bin Abu Rabah -rahimahulloh- adalah budak hitam kepunyaan seorang wanita dari Makkah, dan hidung-nya pesek. (Suatu hari) Sulaiman bin Abdul Malik, Amirul Mukminin, bersama kedua putranya datang kepadanya saat dia sedang shalat, maka mereka duduk menunggu. Ketika telah selesai shalat, dia berpindah mendekat kepada mereka. Mereka tidak henti-henti-nya bertanya kepadanya tentang manasik haji, sedangkan dia memalingkan tengkuknya kepada mereka. Kemudian Sulaiman berkata kepada kedua putranya, 'Berdirilah!” Keduanya berdiri. Dia mengatakan, 'Wahai kedua putraku, janganlah kalian merasa risih dalam mencari ilmu. Sesungguhnya aku tidak akan melupakan kehinaan kami di depan budak hitam itu."
Al-Harbi berkata, "Leher Muhammad bin Abdurrahman al-Auqash masuk dalam badannya, sedangkan kedua pundaknya keluar seakan-akan dua mata tombak. Suatu kali ibunya mengata¬kan, 'Wahai putraku, tidaklah engkau berada di majelis suatu kaum, melainkan engkau pasti akan ditertawakan lagi diejek disebabkan hal itu. Karena itu, tuntutlah ilmu, sebab ilmu akan memuliakan-mu. Dia pun menjabat sebagai qadhi/Hakim di Makkah selama 20 tahun."
Abdullah bin al-Mubarak -rahimahulloh- masuk kota Khurasan, maka keluarlah ribuan penuntut ilmu untuk menyambutnya. Melihat hal itu, ibu dari anak (ummu walad) milik Khalifah Harun ar-Rasyid bertanya tentangnya, maka dijawab, "Ini adalah Abdullah bin al-Mubarak, ahli hadits Khurasan." Dia pun menimpali, "Inilah kerajaan yang sebenarnya, bukan kerajaan Harun."
Al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanadnya dalam Syaraf Ashhab al-Hadits, dari Yahya bin Aktsam, dia mengatakan, "Ar-Rasyid bertanya kepadaku, 'Apa kedudukan yang paling mulia?’ Aku menjawab, 'Kedudukan yang engkau dapati, wahai Amirul Mukminin.’ Dia bertanya, 'Apakah engkau tahu yang lebih mulia daripadaku?1 Aku menjawab, Tidak.’ Dia mengatakan, 'Tetapi aku mengetahuinya, yaitu seseorang yang mengatakan dalam halaqah, 'Fulan menceritakan kepada kami dari fulan, dia mengatakan, Rasulullah bersabda...1.1 Aku katakan, 'Wahai Amirul Mukminin, (apakah) dia lebih baik daripadamu, padahal engkau adalah keturunan paman Rasulullah dan pemimpin kaum Muslimin’ Dia mengatakan, 'Ya, celaka kamu! Orang itu lebih baik daripadaku, karena namanya senantiasa beriringan dengan nama Rasulullah . Dia tidak mati selamanya. Kami mati dan binasa, sedangkan para ulama tetap hidup selama masa masih ada'." [ lihat : Syaraf Ashhab al-Hadits, karya al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi, hal. 99-100]
Ketika Muhammad bin Isma'il ( Imam Al Bukhari -rahimahulloh- ) tiba di Naisabur, Imam Muslim -rahimahulloh- berkata, "Aku tidak pernah melihat seorang pejabat atau seorang ulama pun diperlakukan oleh penduduk Naisabur sebagaimana mereka memperlakukannya. Mereka telah menyambutnya sejak dari dua atau tiga marhalah dari negeri ini." Al-Hafizh mengatakan, "Ketika al-Bukhari kembali dari perjalanan studinya, maka dibangunlah kemah-kemah untuknya pada jarak satu farsakh dari negeri, dan dia disambut oleh hampir semua penduduk negeri sehingga tidak tersisa seorang pun dari mereka melainkan menyebarkan dirham dan dinar."
Tidak diragukan lagi bahwa pemuliaan dan penghargaan terhadap ilmu dan ulama ini (terjadi) pada masa-masa kebajikan dan keberkahan, di mana manusia merasa nikmat berhukum ke¬pada syariat Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- , negara adalah negara Islam, dan jaulah (perjalanan) adalah perjalanan ilmu.
Sementara kita sekarang berada pada zaman keterasingan, ketika musuh Allah, orang-orang fasik, baik laki-laki maupun perempuan dimuliakan. Mereka (orang-orang zaman ini) menyebut mereka sebagai "bintang", memper-atikan berita-berita mereka, memantau gerak dan diam mereka, dan menjadikan mereka sebagai "idola" bagi manusia. Mereka itu tidak ubahnya seperti bintang bagi mereka, dan mereka memandang mereka seperti memandang bintang di langit. Orang yang bahagia menurut mereka, adalah orang yang mengikuti jejak merka, di atas jalan mereka, dan mengikuti petunjuk mereka.
Sungguh, tidak diragukan lagi, ini adalah di antara tanda-tanda kesengsaraan dan di antara sebab-sebab keburukan dan malapetaka. Setiap musuh Allah membuat rencana untuk menghalangi dari jalan Rabb Semesta Alam, dan memalingkan manusia dari jalannya yang lurus , maka prioritas utama bagi para da'i yang menyerukan manusia kepada agama Allah dan orang-orang yang menyukai agar kalimat Allah-lah yang paling tinggi, ialah melindungi diri mereka dan melindungi orang lain yang bersama mereka dari keburukan yang nista dan kebohongan yang nyata ini, serta mengangkat bagi diri mereka para pemuka ilmu dan agama di atas mereka laksana intang-bintang yang bersinar terang, yaitu orang-orang yang petunjuk mereka diikuti, dan jalan mereka ditempuh, baik oleh anakk-anak muda maupun orang-orang dewasa.
Tidak diragukan lagi bahwa mempelajari biografi ulama terkenal dan orang-orang yang memiliki keutamaan menghasilkan sejumlah faidah, di antaranya:
1. Mendidik para pemuda kebangkitan Islam sebagaimana para Ulama terkemuka terdidik, sehingga tersulam sesuai metode mulia, menempati tempat-tempat kebajikan dan memberikan kebaikan. Sehingga kisah hidup mereka bisa dibaca oleh orang yang tidak melihat rupa mereka secara langsung, dan kebaikan-kebaikan mereka bisa disaksikan oleh orang yang tidak hidup seinasa dengan mereka, sehingga dia mengetahui kedudukan dan martabat mereka, lantas dia bersungguh-sungguh dalam pencarian agar bisa menyusul mereka dan berpegang teguh dengan petunjuk mereka.
2. Pada seorang Muslim akan berhimpun rangkuman pengalaman, ,sari pemikiran dan pendirian, lalu dia berpegang pada yang baikdan bersungguh-sungguh dalam pencarian.
3. Mengetahui kemuliaan ilmu dan pengembannya. Jika para pedagang telah menyibukkan diri mereka dengan perdagangan, dan para raja menyibukkan diri mereka dengan berbagai urusan kerajaan, maka ulama telah menyibukkan diri mereka untuk menjaga agama Allah, menyebarkan syariatNya, dan menghidupkan Sunnah RasulNya.
4. Orang Muslim akan semakin mencintai ulama terkemuka. Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda, "Seseorang itu bersama siapa yang dicintainya." [HR. Al-Bukhari].
Maka, beruntunglah bagi siapa saja yang mencintai orang-orang yang memiliki ilmu dan kemuliaan yang abadi.
5. Menyebarkan ilmu mereka, memetik fikih mereka, dan mengambil pelajaran dari saran dan nasihat mereka.
6. Rahmat-rahmat akan turun ketika mengenang orang-orang yang shalih.
7. Kita menempatkan diri kita pada kedudukan yang sesuai de¬ngan mempelajarinya. Sebagaimana sebagian dari mereka berkata, "Apabila salaf disebut-sebut, maka kami merasa diri kami hina."
8. Kita berada pada zaman-zaman yang jauh dan terbelakang, di mana para ulama yang beramal sangat sedikit, maka mempelajari biografi para ulama terkemuka dan para imam mulia akan dapat menggantikan kekurangan ini dan menambal "kefakiran"
9. Ilmu yang dapat dipetik oleh penuntut ilmu hadits, yaitu mengetahui tingkatan para ulama terkemuka itu, dan mengetahui siapa saja guru dan murid mereka.

Ini adalah serial biografi Ulama Ahlus Sunnah dengan menyebutkan nama ulama dan julukan mereka, waktu dan tempat kelahiran mereka, serta tempat asal mereka.
pujian ulama yang lain kepada mereka agar diketahui kedudukan dan derajatnya.
keistimewaan mereka dalam : zuhud, wara, ibadah, rasa takut, dan mengikuti sunnah.
Disebutkan pula guru-guru mereka dan murid-murid mereka. Dikutip sebagian dari pernyataan mereka, tanggal wafat mereka.

Inilah biografi mereka -rahimakumulloh--
1. Masruq bin Al Ajda
2. Said bin Al Musayyab
3. Urwah bin Zubair
4. Said bin Jubair
5.Umar bin Abdul Aziz
6. Amir bin Syaharil Asy Sya’bi
7. Thawus bin kaisan
8. Al hasan Al basri
9. Muhammad bin Sirrin
10. Ibnu Syihab Az Zuhri
11. Ayyub As Sakhtiyani
12. Sulaiman bin Mihran Al A’masy
13. Abu Hanifah
14. Abdurrahman bin Amr Al Auza’i
15. Syu’bah bin AL Hajjaj
16. Sufyan Ats Tsauri
17. Hammad bin Salamah
18. Al Laits bin Sa’ad
19. Hammad bin Zaid
20. Malik bin Anas
21. Abdullah bin al-Mubarak.
22. Al-Fudhail bin lyadh.
23. Waki' bin al-Jarrah.
24. Suiyan bin Uyainah.
25. Abdurrahman bin Mahdi
26. Yahya bin Sa'id al-Qaththan
27. Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i.
28. Yazid bin Harun ai-Wasithi
29. AI-Qasim bin Sallam
30. Yahya bin Main.
31. Ali bin al-Madini.
32. Ishaq bin Rahawaih.
33. Ahrnad bin Hanbal.
34. Al Bukhari.
35. Muslim.
36. Abu Dawud.
37. Abu Hatim ar-Razi.
38. At-Tirmidzi
39. Ibrahim bin Ishaq.
40. An-Nasai
41. Ibnu Nash

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
ISBN SBN 9789791254656
Judul Asli Min A’lam As Salaf
Judul Buku Biografi 60 Ulama Ahlus Sunnah
Jumlah Halaman 964 hlm
Penerbit / Publisher Darul Haq
Penulis Syaikh Dr. Ahmad Farid
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 17 x 24.5 cm