• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Dari Bangsawan ( Bangsa Karyawan) menjadi Jutawan

Brand: Rumah Ilmu

Harga: Rp 0

- +

Sukses bagi seorang muslim pastilah memiliki makna yang spesial. Bagi seorang muslim, sukses bukan hanya dinilai dari sisi materi semata. Namun sukses bagi orang yang beriman ialah bila anda berhasil mewujudkan harapan dengan tetap mengindahkan prinsip-prinsip syari'at agamanya. Atau lebih tepatnya; sukses adalah bila anda mampu menjalankan prinsip-prinsip syari'at Allah - Azza Wa Jalla- dalam sendi-sendi kehidupan anda.

Dalam konteks kehidupan seorang pengusaha, maka sukses berarti bila anda mampu mengaplikasikan syari'at Allah pada dunia usaha anda. Dengan demikian, anda dapat menyandingkan antara keridhaan Allah dan keuntungan usaha, sehingga terwujudlah al-husna (kebaikan hidup) di dunia dan al husna di akhirat.
"Dan di antara mereka ada orang yong berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". Mereka itulah orang-orang yong mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya." (QS. Al Baqoroh : 201-202)

Suatu hari Qatadah - Rodliallahu Anhu - bertanya kepada sahabat Anas bin Malik - Rodliallahu Anhu - Doa apakah yang dahulu paling sering diucapkan oleh Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam -
Sahabat Anas menjawab: Dahulu doa yang paling sering diucapkan oleh Nabi ialah"Ya Allah, limpahkanlah kebaikan kepadaku di dunia dan juga di akhirat serta lindungilah kami dari siksa neraka."

Selanjutnya Qatadah mengisahkan: Karena meneladani Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - , maka sahabat Anas bila hendak berdoa memohon sesuatu, maka beliau memulai doanya dengan doa ini. Demikian pula bila ia hendak memanjatkan suatu doa, maka beliau tidak lupa untuk menyertakan doa ini bersamanya.

Imam Ibnu Katsir - rahimahullah- menyatakan: Bacaan doa ini mencakup segala bentuk kebaikan di dunia dan menepis segala bentuk kejelekan di dunia. Karena kebaikan di dunia mencakup segala hal yang engkau pinta, berupa: keselamatan fisik, rumah megah, istri cantik, rejeki yang melimpah, ilmu yang bermanfaat, amal shaleh, kendaraan mewah, nama yang senantiasa harum, dan lainnya yang terangkum dalam ucapan seluruh ahli tafsir. Karena sejatinya tiada pertentangan antara berbagai penjelasan ahli tafsir tentang kehidupan yang baik . Semua yang mereka sebutkan adalah salah satu wujud dari kehidupan yang baik di dunia.

Adapun kehidupan yang baik di akhirat, maka yang paling tinggi ialah dengan dimasukkan ke syurga beserta segala konsekwensinya, semisal; terhindar dari rasa takut terbesar semasa berada di padang mahsyar, dimudahkan hisab amalannya, dan segala kebaikan lainnya di akhirat.

Adapun selamat dari siksa neraka, maka itu terwujud dengan dimudahkanya anda untuk menjalankan segala hal yang dapat menjerumuskan anda ke dalam siksa neraka. Anda dimudahkan untuk menjauhi perbuatan haram, dosa, dan hal-hal syubhat.,(Tafsir ibnu katsir 1/558)

Dengan mengaplikasikan nilai-nilai syari'at pada setiap sendi-sendi dunia usaha anda, maka tercapailah sukses yang sejati. Kehidupan yang lapang, dan jiwa yang damai nan tentram, sebagaimana yang Allah gambarkan pada ayat berikut:

"Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97)

Saudaraku! Ketahuilah bahwa Islam bukanlah agama yang anti dengan kekayaan, bahkan sebaliknya Islam merestui anda untuk menjadi orang kaya. Bukan hanya menjadi kaya, bahkan menjadi paling kaya asalkan anda mampu memposisikan kekayaan pada tempat yang benar.

Sahabat Abu Kabsyah Amer bin Saad Al Anmary - Rodliallahu Anhu - mengisahkan: "Suatu hari Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - bersabda:
"Aku ajarkan kepada kalian satu ucapan (pedoman) maka terapkanlah: Sejatinya dunia ini hanya dihuni oleh empat kelompok manusia:
1. Hamba yang Allah limpahkan kepadanya harta kekayaan dan ilmu agama, sehingga dalam urusan harta, ia senantiasa menjaga syari'at Tuhannya, menyambung tali silaturahimnya, dan menyadari (menunaikan) hak-hak Allah pada hartanya. Kelompok ini adalah kelompok orang yang paling utama di sisi Allah.

2. Hamba yang Allah limpahkan kepadanya ilmu agama, namun Allah tidak mepimpahkan harta kekayaan kepadanya. la memiliki tekad yang bulat: andai aku memiliki harta kekayaan, niscaya aku beramal serupa dengan amalan fulan (kelompok pertama). Berbekalkan niatnya ini ia berhasil menyamai pahala kelompok pertama.

3. Hamba yang Allah limpahkan harta kekayaan kepadanya, namun Allah tidak melimpahkan ilmu agama kepadanya. Akibatnya ia berlaku ceroboh dalam membelanjakan hartanya tanpa dasar ilmu agama. Dalam membelanjakan hartanya, la tidak menjaga syari'at Tuhannya, tidak pula menyambung tali silaturrahimnya, serta tidak pula menunaikan hak-hak Allah pada hartanya. Kelompok ini adalah kelompok orang yang paling rendah kedudukannya di sisi Allah.

4. Hamba yang Allah tidak melimpahkan harta kekayaan dan tidak pula ilmu agama kepadanya. Karena itu ia bertekad bulat: andai aku memiliki harta kekayaan pastilah aku meniru perilaku fulan (kelompok ketiga). Karena niat buruknya ini, maka ia memikul dosa serupa dengan dosa kelompok ketiga.(HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Cermatilah bagaimana orang yang paling mulia di dunia ini ialah orang yang memiliki harta kekayaan. Harta kekayaan mereka melimpah ruah, namun demikian mereka tidak menjadi lalai atau sombong karenanya. Kekayaannya mengantarkan mereka menjadi orang paling mulia, karena mereka berhasil memposisikan harta kekayaannya dengan benar.

Kesibukannya mengurusi dan mengembangkan kekayaannya tidak menghalanginya dari menjalankan ketaatan kepada Allah Dan tidak menjadikan mereka hanyut dalam kenikmatan dunia, sehingga melupakan kehidupan akhirat.

"Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas." (QS. An-Nur: 37-38)

Orang-orang yang beriman sepenuhnya percaya bahwa sukses di dunia bukan berarti harus mengorbankan atau paling kurang mengesampingkan sukses di akhirat.

Sahabat Abu Hurairah - Rodliallahu Anhu - mengisahkan: Pada suatu hari para fakir miskin dari kaum Muhajirin mengadu kepada Rasulullah . Mereka berkata: Sejatinya orang-orang kaya telah menguasai seluruh kedudukan yang tinggi dan kenikmatan yang abadi (pintu-pintu surga).

Mendapat pengaduan yang demikian ini, Rasulullah keheranan dan bertanya: "Mengapa demikian?"
Mereka menjawab: “Orang-orang kaya menegakkan sholat sebagaimana kita juga menegakkan shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami juga berpuasa. Namun mereka bersedekah namun kita tidak dapat bersedekah, dan mereka memerdekakan budak sedangkan kami tidak dapat melakukannya.”

Mendapatkan penjelasan sebagaimana di atas, Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - bersabda:
"Sudikah kalian aku tunjukkan satu amalan, yang denganya kalian dapat menyamai kedudukan orang yang telah mendahului kalian dan dengannya pula kalian mendahului orang-orang yang datang setelah kalian. Sebagaimana dengannya tidak akan ada orang yang lebih utama dibanding kalian kecuali orang yang beramal serupa dengan amalan kalian?"

Tak ayal lagi, mereka menyambut tawaran Rasulullah ini dengan girang, dan mereka berkata: “ tentu saja kami mau, wahai Rasulullah.”
"Setiap kali usai mendirikan sholat, maka ucapkan tasbih sebanyak 33 x, dan tahmid sebanyak 33 x, dan takbir sebanyak 33 x."

Namun tidak selang berapa lama, para fakir dan miskin tersebut kembali lagi ngadu kepada Rasulullah dan mereka berkata: “Saudara-saudara kami yang memiliki kekayaan mengetahui apa yang kami lakukan, dan merekapun turut melakukan apa yang kami lakukan.”
Menanggapi keluhan para sahabatnya ini, Rasulullah bersabda"Itu adalah karunia Allah yang la berikan kepada siapa saja yang la kehendaki."(Muttafaqun alaih)

Cermatilah sobat, bagaimana pada hadits di atas, Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - menegaskan bahwa kekayaan yang dimanfaatkan untuk mencapai ketakwaan dan taqarrub kepada Allah sebagai wujud nyata dari karunia Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - .

Pada hadits di atas, fakir miskin dari kalangan Muhajirin cemburu dengan kelebihan yang dimiliki oleh orang-orang kaya. Dengan kekayaanya mereka dapat menjalankan berbagai amal ibadah, semisal sedekah, wakaf, membangun sekolah dan lainnnya, yang manfaatnya dirasakan pula oleh orang lain. Berbeda dengan orang-orang miskin, hanya mereka sendiri yang merasakan manfaat mayoritas amal shalehnya.

Penjelasan ini selaras dengan sabda Rasulullah berikut:
"Sebaik-baik harta yang halal ialah yang dimiliki oleh orang yang yang shaleh. "(HR Imam Ahmad dan lainnya)

Dan selaras pula dengan sabdanya berikut:
yang kami lakukan, dan merekapun turut melakukan apa yang kami lakukan.
Menanggapi keluhan para sahabatnya ini, Rasulullah bersabda:
"Tidak dibenarkan engkau memiliki rasa iri kecuali kepada dua hal (orang): lelaki yang Allah beri harta kekayaan, lalu Allah juga membimbingnya untuk membelanjakan hartanya pada kebenaran. Dan lelaki yang Allah beri ilmu pengetahuan, lalu mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya kepada orang lain. "(HR Bukhari dan Muslim)

Walau demikian, sangat disayangkan masih banyak dari ummat Islam, bahkan para pengusaha muslim yang mengukur sukses dengan standar materi semata.

Mereka mengira bahwa sukses hanyalah terwujud bila harta kekayaan berlipatganda, asset terus bertambah, kekayaan melimpah, anak perusahaan juga tiada henti tumbuh kembang, tanpa perduli dengan perilaku, iman dan ibadahnya.

Penyakit sosial ini, bahkan juga menimpa diri kita, sehingga kita mengira bahwa kesuksesan itu benar-benar terwujud bila kita masuk dalam daftar orang kaya, baik sebagai orang kaya di tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, negara terlebih dalam skala internasional.

Pada saat "sukses" semacam ini terwujud, pandangan kagum setiap insan tertuju kepadanya, dan orang-orang seperti ini menjadi figur panutan bagi setiap orang. Banyak dari ummat Islam yang tanpa rasa sungkan atau risih berusaha menimba atau mempelajari kiat-kiat "sukses" darinya, bahkan memohon kepada Allah - Azza Wa Jalla- untuk bisa menjadi seperti mereka.

Sikap semacam ini adalah penyakit sosial yang menjangkiti jiwa orang-orang yang lemah iman di sepanjang masa.

Kisah-kisah umat terdahulu yang Allah telah cabut kenikmatan pada mereka dapat menjadi pelajaran untuk kita, diantaranya mereka berhasil mengapai sukses di dunia, namun sukses itu tidak dilandasi dengan iman. Sukses yang mereka dapatkan hanya sementara, dan pada akhirnya berujung pada derita yang abadi.

Oleh karena itu jangan anda mudah terpukau, silau dan terpana dengan kesuksesan semu yang akhirnya harus berakhir dengan kisah yang tragis. Sukses sementara yang tidak lama lagi akan berubah menjadi cerita mengenaskan dan buah bibir generasi selanjutnya. Bukan buah bibir yang manis, namun buah bibir getir atau kesedihan.

Kesuksesan sementara namun namanya akan terabadikan sepanjang zaman dalam kisah yang tidak enak didengar dan membuat orang mencibir, bukannya mengagumi dengan memori yang indah. Semua itu hanyalah kesuksesan sementara semua itu hanyalah waktu yang diulur oleh Allah - Azza Wa Jalla- .

Dengan kata lain istidraj (penguluran waktu secara berangsur-angsur ke arah kebinasaan). Sebagaimana Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berfirman:
'Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh." (QS. Al A'araf 182-183)

Tatkala mereka lalai dan berpaling dari Allah maka Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - berikan rejeki yang berlimpah sehingga mereka semakin hanyut dalam kelalaiannya.

Jangan anda kira bahwa Allah tidak akan membuka pintu rejeki bagi mereka yang kufur. Faktanya, justru Allah akan terus memberikan dan membuka pintu-pintu rejeki bagi mereka hingga mencapai kesuksesan yang luar biasa, namun itu hanya sesaat, dan tidak akan lama. Jika telah datang waktunya, maka Allah - Subhanahu Wa Ta'ala - akan jatuhkan bencana dan siksa-Nya yang akan menghancurkan semua sukses mereka.

Menjadi pengusaha sukses, tentu impian setiap orang. Namun telah menjadi kodrat ilahi bahwa tidak setiap yang bermimpi dapat mewujudkan impiannya menjadi kenyataan.

Di sisi lain, betapa banyak orang yang memiliki impian besar namun tidak mengetahui bagaimanakah caranya mewujudkan impian besarnya.

Sebagaimana betapa banyak orang yang memiliki mimpi besar dan kemudian berusaha mewujudkannya, namun ternyata kegagalanlah yang terwujud.

Setiap orang menyadari dan juga mengakui kebenaran fakta ini. Dalam banyak kesempatan, fenomena ini telah menyebabkan sebagian orang enggan atau takut untuk sekedar mencoba mewujudkan impiannya. Bahkan banyak juga yang sekedar bermimpi saja takut atau merasa bahwa dirinya tidak pantas untuk memiliki impian.

Akibat dari cara pandang yang salah ini, banyak orang merasa lemah walaupun pada kenyataannya mereka memiliki potensi besar untuk menjadi orang sukses. Mereka merasa bahwa mereka terlahir ke dunia ini sebagai manusia termiskin, paling menderita dan sial.

Karena adanya sudut pandang yang negatif seperti ini, sebagian orang mencampakkan peluang sukses yang telah ada di tangannya.

Menyadari adanya fakta ini, Buku ini berupaya menumbuhkan kesadaran pada diri kita bahwa setiap insan memiliki peluang besar untuk sukses. Tanpa terkecuali sukses sebagai seorang pengusaha yang beriman kepada Allah dan hari akhir.

Dari Bangsawan ( Bangsa Karyawan) menjadi Jutawan
Penulis : DR Muhammad Arifin Badri
Fisik : Buku ukuran sedang, Hardcover, 202 hlm
Penerbit : Rumah Ilmu
ISBN : 978-602-17632-8-5