• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Tanya Jawab Lengkap Permasalahan Jual beli

Harga: Rp 130.000  Rp 104.000

- +

Ulama meletakkan/memposisikan kitab jual-beli (buyu') setelah kitab/Pembahasan tentang ibadah, karena ibadah merupakan aturan interaksi para hamba dengan sang Khaliq , sedangkan muamalah aturan Interaksi hamba manusia dengan sesama, dan juga karena muamalah lebih banyak terkait dengan interaksi sosial kemanusiaan, dan begitu juga pernikahan, walaupun memiliki kaitan erat dengan aspek muamalah maupun ibadah tetap saja diposisikan setelah ibadah. Akan tetapi perihal jual-beli lebih banyak terkait dengan manusia sebagai makhluk sosial, karena manusia membutuhkan transaksi jual-beli untuk pemenuhan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, tempat dan peralatan pernikahannya, dan lain sebagainya. Jual-beli memiliki cakupan yang luas dalam kehidupan, karenanya para ahli ilmu menjadikan jual-beli setelah bagian dari ibadah.
Lafazh Al Buyu' merupakan bentuk jama' (plural) dari ba'i, dan lafazh ba'i (jual-beli) merupakan bentuk mashdar (gerund), dalam Bahasa Arab kata mashdar tidak dijamakkan kecuali jika diperuntukan sebagai jenis tertentu,dan lafazh ba'i dijamakkan karena disesuaikan dengan jenis dan macam-macam ba'i. Hukum asal dari jual-beli adalah halal, sesuai dengan Firman Alloh Azza wa Jalla : "Dan Allah menghalalkan jual-beli" (QS. Al Baqarah:275)
Dengan landasan tersebut, maka jika setiap bentuk dari bentuk-bentuk transaksi jual-beli dipandang sebagai sesuatu yang haram, maka wajib bagi
yang mengharamkannya untuk mendatangkan dalil/bukti. Alloh Azza wa Jalla mensyariatkan jual-beli sekaligus menghalalkannya bagi seluruh hambaNya baik untuk pemenuhan kebutuhan dasar (basic need), keperluan biasa (hajat) ataupun untuk tujuan kesenangan {tana'um).
Kebutuhan untuk melakukan transaksi jual-beli adalah normal adanya, dan sebagai gambaran ketika seseorang memiliki beberapa dirham (uang) an dia dalam keadaan dahaga, dan di lain pihak ada seseorang yang memiliki air, maka dalam situasi seperti inilah kebutuhan akan transaksi jual-beli timbul, karena rasa dahaga tidak dapat terobati kecuali dengan cara melakukan transaksi jual-beli selama orang yang memiliki air tersebut tidak memberikannya acara suka rela, dan tidak setiap orang memilki keinginan untuk melakukan hal tersebut. Dan terkadang menjadi emergensi (suatu yang darurat) bagi penjual (baai'} seperti keadaan di mana seseorang memiliki makanan dan dia merasa dahaga, maka penjual perlu untuk menjual makanannya untuk dapat membeli air.
Begitu juga kebutuhan akan transaksi jual-beli yang timbul dalam perkara agama (dien) dan dunia yang tidak sampai pada tahapan darurat, seperti layaknya kebutuhan akan pakaian kedua (double) walaupun telah ada pakaian pertama dalam musim dingin. Jual-beli untuk kesenangan dalam seluruh hal yang dihalalkan oleh Allah yang bukan termasuk ke dalam tahapan darurat maupun hajat, akan tetapi hanya sekedar untuk tujuan menikmati anugrah yang telah Allah berikan dan mubah hukumnya untuk dilakukan. Dan dan inilah tampak hikmah akan diperbolehkannya jual-beli bagi seluruh hamba, yaitu untuk memenuhi basic need (kebutuhan primer) mereka, menutup hajat, lan memberikan kesenangan hidup bagi mereka.
Ada sebuah hadits yang menjelaskan tentang keutamaan akan jual-beli 'ang baik (mabrur), yaitu:
"Dari Rifa'ah Ibn Rafi -rodliallohu anhu- bahwasanya Nabi ditanya:"perbuatan/profesi apakah yang lebih baik (thayyib) ya Rasulullah? Kemudian beliau bersabda;" pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri (mandiri) dan setiap transaksi jual-beli yang mabrur" [musnad Ahmad vol IV hal 141, hadits shahih]
Sang penanya dalam hadits ini tidak diketahui dengan jelas, akan tetapi dia adalah seorang sahabat Nabi dan jika sempurnanya sebuah ilmu hanya dapat ditempuh dengan mengetahui hal-hal yang tidakjelas (mubham), akan tetapi hal yang mubham yang tersebut dalam hadits bukan merupakan bagian dari ilmu yang prinsip, karena tujuan dan maksud pokoknya adalah permasalahan pokok yang ada sehingga kita dapat mengetahui akan hukumnya, dengan demikian tidak akan berdampak negatif ketika tidak diketahui nama sahabat dimaksud.
Dan lafazh Al Kasb (perbuatan) bermakna segala sesuatu yang diperbuat manusia dan mendapatkan keuntungan (profit), baik dari perdagangan, sewa (leasing), kongsi (syirkah), ataupun selain dari itu karena sangat luas Cakupannya. Dan sebaik- baik usaha/perbuatan adalah kerja seseorang dengan tangannya sendiri (mandiri), karena cenderung akan lebih dapat terhindar dari perihal syubhat, hal tersebut karena apapun usaha yang ada dilakukan oleh dirinya sendiri, seperti profesi sebagai tukang kebun, tukang kayu, berburu Ikan di laut (nelayan), dan juga termasuk di dalamnya profesi untuk barang-barang manufaktur/kontruksi, walaupun dalam profesi tersebut, manufaktur kemungkinkan untuk disisipi sesuatu (penipuan) di zaman sekarang, karena dalam profesi tersebut barang-barang manufaktur sebagaimana dalam bisnis Jual-beli yang mengandung unsur penipuan, kelupaan, dan kesalahan sehingga di dalamnya mengandung unsur syubhat, akan tetapi bisnis manufaktur tetap dapat dijalankan dengan syarat produsen atau pembuatnya profesional dalam pembuatan barang pesanan. Profesi bercocok tanam dan berkebun termasuk ke dalam pekerjaan tangan, karena pelakunya sebagian besar menyelesaikan pekerjaan tanpa campur tangan orang lain dalam penyiraman, pembajakan, don penanaman, seperti seorang tukang kayu yang berusaha untuk memilih knyu terbaik untuk dijual dengan harga yang tinggi, karena sebab inilah sebagian para ahli fiqh (fuqaha) mengatakan; "Pertanian adalah sebaik-baik profesi, dan di dalamnya mengandung aspek maslahat lain, yaitu dapat dimanfaatkannya tanaman yang ada oleh makhluk-makhluk Allah (manusia dan binatang).
Dan Rasulullah telah menentukan indikator jual-beli yang mabrur dalam sebuah hadits sebagai berikut: "Jikaa penjual dan pembeli itu jujur dan transparan, maka akan diberkahi dalam transaksinya" [HR Bukhari no 2079].
Jual-be!i yang mabrur adalah yang dibangun berlandaskan atas dasar kejujuran dan trasparansi, jujur dalam spesifikasi obyek jual-beli dan transparan dalam cacat obyek jual-beli. Dan janganlah sekali-kali mengatakan untuk barang dagangan yang jelek: "ini barang bagus", dan janganlah menyembunyikan cacat barang dagangan. Hal lain yang harus diperhatikan adalah bahwa seluruh aktifitas jual-beli diharuskan untuk sesuai dengan syariat Allah agar menjadi mabrur, maka jika aktifitas jual-beli tidak sesuai dengan syariat Allah walaupun dilakukan dengan cara yang jujur dan transparan, tidak termasuk kategori jual-beli yang mabrur. Dikatakan jual-beli yang mabrur karena tercakup di dalamnya makna kebajikan (al birr), dan Alloh Azza wa Jalla telah berfirman dalam QS.AIMaidah ayat2:
"Dan saling tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketaqwaan".
Dan dari sinilah kita mengetahui bahwa pekerjaan/profesi itu bermacam-macam bentuknya. Ada yang jelek ada pula yang baik, bahkan ada yang terbaik, sesuai dengan keputusan Nabi kepada penanya dalam hadits tersebut di atas, bahwa ada profesi tertentu yang memiliki kelebihan (fadhilah) jika dibandingkan dengan pekerjaan yang lain. Dan yang termasuk dalam profesi ini adalah sebagaimana yang telah disebutkan dalam sabda Rasulullah yang telah didatangkan kepada beliau kemampuan untuk berbicara dalam ungkapan yang singkat, padat akan tetapi sarat akan makna- yaitu tercakup dalam dua kalimat "amal seseorang dengan tangannya" yang banyak sekali jenisnya dan telah utarakan sebagian kecil contohnya. Dan begitu juga seperti sabdanya : "Dan setiap jual-beli adalah mabrur" yang tercakup di dalamnya banyak sekali jenis dan macamnya, dan jika sebuah transaksi jual-beli berdampak kepada maslahat-maslahat lain, maka semakin bertambah pula kebajikannya, seperti layaknya seseorang yang menjual peralatan senjata kepada para mujahid di jalan Allah, atau juga jual-beli buku-buku yang dimanfaatkan oleh para penuntut ilmu, maka itulah sebuah perniagaan yang dimensi dunia dan akhirat.
Begitu juga setiap perdagangan yang mendukung kebajikan, dan bentuk-bentuk kebajikan tidak terbatas macam dan jenisnya karena terlalu banyak untuk disebutkan. Aktifitas-aktifitas tersebut tidak dikhususkan bagi kaum pria, melainkan berlaku juga bagi kaum wanita, karena hukum asalnya adalah bahwa setiap apa yang ditetapkan bagi kaum pria, maka berlaku juga bagi wanita dan sebaliknya kecuali ada dalil yang lain yang mengkhususkannya.

Inilah buku yang berisi tanya jawab tentang permasalahan jual beli, sebuah buku yang memuat fatwa-fatwa dari Masyaikh Arab Saudi, diantaranya : Syaikh Abdurrahman As Sa'di, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin -rahimakumullah-, dan Syaikh Shahih bin Fauzan Al Fauzan -hafidhahullah-.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
Judul Asli Fatawa al Buyu'
Judul Buku Tanya Jawab Lengkap Permasalahan Jual beli
Jumlah Halaman 280 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka As Sunnah
Penulis Kumpulan fatwa Ulama Sunnah
Ukuran Fisik Buku buku sedang 15.5x24 cm