• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Mengapa Saya Menghafal Al Quran ?

Harga: Rp 35.500

- +

Menghafal ilmu mempunyai kedudukan yang sangat penting. Tanpa menghafal ilmu,-penuntut ilmu tidak mungkin mencapai tingkatan yang dia inginkan. Kedudukan seorang pelajar dalam masalah ilmu dinilai dengan kemampuannya dalam menghafal nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah serta matan- matan ilmu yang lain, juga kemampuannya dalam menyampaikan pendapat-pendapat para ulama. Semakin bertambah hafalan seorang penuntut ilmu, semakin tinggi pula kedudukannya.
Dikatakan: "barangsiapa yang menghafal matan-matan kitab, maka dia akan menguasai bidang studinya."
Dikatakan pula: " barangsiapa yang menghafal (dasar-dasar) ilmu, maka diapun akan sampai (dapat menguasai) apa yang terkandung di dalamnya."
Hafalan adalah seseorang menyampaikan ucapan di luar kepala (tanpa melihat teks). Dia mengokohkan dan menguatkannya di dalam dada, sehingga mampu menghadirkan ilmu itu kapan pun dia kehendaki.

Dikatakan 'seseorang hafal Al-Quran', maksudnya dia menjaganya di luar kepala' [lihat: Al-Mishbahul Munir hal. 55]

Abdurrahman bin Mahdi berkata: "Al-Hifzhu adalah al-itqan (kuatnya hafalan)."[lihat: Al-Jaami' li Akhlaq Ar-Rawi wa Adab As-Saami' (2/13)

Muhna bertanya kepada Al-Imam Ahmad: "Apakah hifzh itu?" Al-Imam Ahmad menjawab: "Al-ltqan itulah Al-Hifzh."[lihat: AI-Adab Asy-Syar'iyyah (2/119)]

Karena pentingnya hafalan dan tinggi kedudukannya, maka para ulama mewasiatkan dan memberi bimbingan kepada para muridnya untuk menghafal, serta menjelaskan kepada mereka bahwa menghafal itu lebih bermanfaat daripada sekedar mengumpulkan ilmu di dalam buku catatan.

Al-A'masy berkata: "Hafalkanlah apa yang telah kalian kumpulkan! Karena orang yang mengumpulkan ilmu namun dia tidak menghafalnya, bagaikan seorang laki-laki yang duduk di depan hidangan, lalu dia mengambil sesuap demi sesuap, namun dia lemparkan suapan-suapan itu ke belakang punggungnya. Kapankah kau akan melihatnya kenyang?" [lihat: Al-Jaami' li Akhlap Ar-Rawi (2/234)]

Al-Qasim bin Khallad berkata: "Dikatakan: menjaga (hafalan) yang ada dalam dada seseorang lebih utama daripada mempelajari buku catatannya dan satu huruf yang lengkau hafalkan dalam hatimu lebih bermanfaat bagimu daripada 1000 hadits di dalam buku catatanmu." [ lihat : Al jamii' , karya Al Khatib (2/266)]

Al Askari berkata" apabila ilmu yang engkau kumpulkan sedikit namun berupa hafalan, akan banyak manfaatnya. namun jika ilmu yang engkau kumpulkan banyak namun tidak engkau hafalkan, maka sedikti manfaatnya."[lihat: Al hatsu 'ala Thalabil Ilmi: 74]

Syaikh Shiddiq bin Hasan Khan Al-Qanuji berkata: "Selayaknya seseorang menghafal ilmu yang telah dia tulis. Karena, ilmu adalah apa yang terpateri dalam benak, bukan apa yang ada pada buku-buku catatan." [lihat: Abjad Al-'Ulum karya Shiddiq Hasan (1/244)

bagaimana metode menghafal yang dipraktekkan pada pendahulu kita? adakah yang menjadi penghambat dalam menghafal?. dan permasalahan-permasalahan lain yang terkait dengan hafalan, akan dijelaskan dalam buku ini.
Juga dijelaskan bagaimana keajaiaban para ulama Salaf dalam hafalan, kuatnya hafalan dan banyakknya hafalan.

Inilah kisah dari Imam Muhammad bin Isma'il Al-Bukhari (wafat tahun 256 H), Muhammad bin Abi Hatim Al-Warraq berkata: Aku mendengar Hasyid bin Isma'il dan selainnya mengatakan: Dahulu ketika masih remaja, Abu Abdillah Al-Bukhari berganti-ganti pergi bersama kami kepada para syaikh Bashrah. Dia tidak menulis, sampai suatu hari kami berkata kepadanya: "Sesungguhnya engkau bergantian bersama kami sedangkan engkau tidak menulis, maka apa yang engkau kerjakan?"
Pada suatu hari dia berkata kepada kami -setelah enam belas hari-: "Sesungguhnya kalian berdua banyak berkomentar tentangku dan mendesakku, maka tunjukkanlah apa yang telah kalian tulis." Maka kami berikan kepadanya apa yang ada pada kami. Dia pun menambahkan 15.000 hadits, dia membaca seluruhnya dari hafalannya, sehingga kami jadikan hafalannya sebagai pengoreksi kitab-kitab kami.
Kemudian Al-Bukhari berkata: "Apakah kalian berpandangan' aku bergantian pergi dengan percuma dan aku sia-sia kan hari-hariku?" Maka kamipun menjadi tahu bahwa tidak ada seorangpun yang bisa melebihi dia.

Mengapa Saya menghafal Al Qur’an ? : Metode Mutakhir dan cepat menghafal Al Qur’an
Judul Asli : Al Hifhzu At tarbauwi li Al Qur’an Wa Shinaa’ah Al Insaan
Penulis : Syaikh Dr. Khalid bin Abdul karim Al Lahim
(pengajar di Universitas Imam Muhammad bin Su’ud, KSA, fakultas Al Quran dan Ulumul Qur’an)
Fisik : Buku ukuran sedang, softcover, 228 hlm
Penerbit : Pustaka An Nabaa