• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

Tajwid Lengkap Asy Syafii

Sesungguhnya Membaca al-Qur'an adalah ibadah yang mempunyai banyak keutamaan. Di antaranya yaitu:

1. Perniagaan Yang Tidak Pernah Merugi

Allah - Azza Wa Jalla- berfirman, yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (al-Quran) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan pahalanya kepada mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri." (QS. Fathir 35 :29-30)

Dalam ayat ini Allah menjanjikan kepada ahlul Qur'an (para pembaca al-Qur'an kemudian mengamalkannya) pahala yang besar, dan Dia memberikan tambahan kepada mereka karunia yang tidak diketahui besarnya kecuali oleh-Nya. Sungguh, beruntunglah orang-orang yang disifati sesuai dengan ayat tersebut.

Terkait dengannya, Imam Qatadah - rahimahullah- berkata: "Mutharrif, jika membaca ayat ini, berkata: “Ini adalah ayat para qari.'" [Tafsir Ibnu Katsir (III/554)]

Imam al-Qurthubi - rahimahullah- berkata tentang ayat di atas: "Ini adalah ayat para qari yang mengamalkan (isinya) dan memahaminya." [Tafsir al-Qurthubi (XIV/345)]

2. Memperoleh Pahala Yang Banyak

Ibnu Mas'ud - Rodliallahu Anhu - berkata bahwa Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - bersabda:
"Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur'an maka baginya satu pahala, dan satu pahala itu dilipatgandakan menjadi sepuluh pahala. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf."
[HR. At-Tirmidzi (no. 2910) dari Abdullah bin Mas'ud. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi (no. 2327) dan Shabih al-]ami (no. 6469) ]

3. Mendapatkan Syafaat Pada Hari Kiamat

Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - bersabda:
"Bacalah al-Qur'an, sesungguhnya ia pada hari Kiamat akan datang memberi syafaat kepada pembacanya." [HR. Muslim (no. 804) dari Abi Umamah]

4. Sebagai Kebaikan Bagi Pembacanya

Hal ini berlaku baik bagi yang sudah mahir maupun yang masih terbata-bata. Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - bersabda:
"Orang yang mahir membaca al-Qur'an maka dia bersama-sama dengan malaikat yang mulia dan taat, sedangkan yang membaca al-Qur'an dengan terbata-bata dan merasakan kesulitan maka baginya dua pahala." [HR. Muslim (no. 798) dari Aisyah]

5. Pencapaian Anugerah Yang Lebih Baik Daripada Harta Dunia

Uqbah bin Amir - Rodliallahu Anhu - berkata:
"Rasulullah keluar dan kami berada di Shuffah saat itu, lalu beliau bersabda: 'Siapa di antara kalian yang suka setiap hari pergi ke lembah Buth-han atau lembah Aqiq kemudian pulang membawa dua unta yang gemuk tanpa berbuat dosa dan tampa memutuskan hubungan silaturahim?'

Kami menjawab: 'Wahai Rasulullah, kami menginginkan hal tersebut.'

Beliau bersabda: 'Tidakkah salah satu di antara kalian pergi ke masjid kemudian mempelajari atau membaca dua ayat dari Kitabullah sebab hal itu lebih baik baginya daripada mendapatkan 2 unta, 3 ayat lebih baik daripada 3 unta, 4 ayat lebih baik daripada 4 unta, dan dari sekian jumlah ayat maka itu lebih baik daripada sekian jumlah unta." [HR Muslim (no. 803) dan Ibnu Hibban (no. 115)]

Oleh karena itu , Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - memotivasi kita untuk mempelajari dan mengajarkan al-Qur'an, sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh ustman ibn Affan - Rodliallahu Anhu - :
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur'an dan yang mengajarkannya." [HR. Al-Bukhari (no. 5027) dari Utsman bin Affan, dan Abu Dawud (no. 1452)] Syaikh Salim bin led al-Hilali—hafidzhahullah—berkata ketika menjelaskan hadits makna hadits diatas :
"Pembaca al-Qur'an yang tidak berguru tidak akan sanggup membacanya (dengan benar) karena di dalamnya berhubungan dengan tajwid, hukum-hukum dan ilmu-ilmu lainnya; semua itu membutuhkan bimbingan seorang guru. Karena itu, Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - menganjurkan kita agar mempelajarinya dari ahlinya, dan menganjurkan orang yang telah mempelajarinya agar mengajarkannya. Tentu saja hal tersebut sangat bergantung pada orang yang mengajarinya." [ lihat : bahjatun nadzirin II/226 ]

Rasulullah juga bersabda:

"Barang siapa mengajarkan satu ayat dari Kitab Allah , maka baginya pahala selama ayat itu dibaca." [As-Silsilah ash-Shahihah (no. 1335) ]

Al-Muzani - rahimahullah- berkata: "Aku mendengar Imam asy-Syafi'i berkata:
'Barang siapa yang mempelajari al-Qur'an, maka menjadi agunglah kedudukannya.'" [Lihat : Nuzbatul Fudhala (11/734)]

Kaum salaf amat perhatian terhadap masalah tersebut, sehingga mereka dengan suka rela mencurahkan waktu dan hidupnya untuk itu, seperti seorang Tabi'in yang bernama Abu Abdurrahman as-Sulami - rahimahullah- . Beliau belajar al-Qur'an dengan sungguh-sungguh kepada Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, dan Abdullah bin Mas'ud - Rodliallahu Anhum -
Setelah itu dia menyibukkan diri untuk mengajarkannya kepada manusia selama 40 tahun di Masjid Kufah. Tabi'in inilah yang meriwayatkan hadits di atas, seraya menyatakan: "Hadits inilah yang membuatku bertahan duduk di tempat ini."
[ Lihat : Nuzbatul Fudhala (1/383) ]

Membaca Alquran, telah diatur tuntunan nya dalam Al Quran itu sendiri,
Allah - Subhanahu Wa Ta'ala – memerintahkan Rosulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam – utntuk membaca Al Quran dengan tartil sebagaimana firmanNya,
“.. bacalah al-Qur'an itu dengan Tartil.” (QS. Al-Muzammil 73 : 4)

Maksud ayat tersebut adalah: "Hendaknya kita membaca Al Quran sebagaimana Allah menurunkannya yakni dengan mengeluarkan setiap huruf dari makhrajnya dan rnenyempurnakan harakatnya secara perlahan.

Tata cara membaca tersebut dapat menunjang kita untuk dapat memahami dan mentadaburi al-Qur'an, serta menguatkan hati dalam mengamalkan hukum-hukumnya." [Lihat Tafsir Al-Qurthubi (XIX/53), Tafsir Ibnu Katsir (IV/554), Fathul Qadir (V/387) ]

Allah - Azza Wa Jalla- juga berfirman:
“ Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya, mereka itulah yang beriman kepadanya”. (QS. Al-Baqarah 20 : 121)

Ibnu Katsir - rahimahullah- berkata: "Abul Aliyah menukil perkataan Ibnu Mas'ud: 'Demi zat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Sesungguhnya makna haqqu tilawah (membaca Al Quran sebagaimana mestinya) adalah menghalalkan apa yang dihalalkan dalam al-Qur'an, mengharamkan apa yang diharamkan dalam al-Qur'an, dan membaca al-Qur'an sesuai dengan apa yang diturunkan Allah.'" [Tafsir Ibnu Katsir (1/243) ]

Rasulullah - Sholallahu Alaihi Wassalam - bersabda:
“ Ambillah al-Qur'an dari keempat orang Sahabatku ini, Abdullah bin Mas'ud, Salim, Mu'adz, dan Ubay bin Ka'ab." [hadits riwayat Al-Bukhari (no. 4999) dan Muslim (no. 2464) dari Abdullah bin Amr ]

Imam an-Nawawi - rahimahullah- menjelaskan hadits tersebut: "Rasulullah bersabda demikian disebabkan mereka adalah Sahabat yang paling tepat dalam mengucapkan lafazh-lafazh Al Our'an, dan yang paling sempurna dalam membacakannya, walaupun para Sahabat yang lain lebih faqih (paham) tentang makna-maknanya daripada mereka.”[ lihat alasan selengkapnya dalam Syarah Shahih Muslim (VIII/235-236) oleh Imam an-Nawawi ]

Allah - Subhanahu Wa Ta'ala – juga berfirman,
“ al-Quran (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap” (QS. Al-Isra' 17 : 106)

Dalil-dalil di atas menunjukkan adanya tata cara atau sifat tertentu dalam qiraah al-Qur'an, tidak seperti membaca buku-buku biasa ataupun Koran,majalah yang berbahasa Arab. Akan tetapi, ia dibaca dengan kaifiyat atau tata cara yang diajarkan Nabi - Sholallahu Alaihi Wassalam - . Tata cara itu dirangkum oleh para ulama, hingga mereka mengistilahkannya dengan ilmu tajwid.

Perhatian umat terhadap ilmu tajwid ini sangat besar. Kita dapat menyaksikan bagaimana para ulama dari dahulu sampai sekarang menulis tentang ilmu tajwid dan ilmu qiraah. Tulisan-tulisan mereka begitu menakjubkan dan bermanfaat bagi umat, yang bisa kita temui di dalam perpustakaan-perpustakaan kaum muslimin.
Dan hendaknya diketahui bahwasanya ada perbedaan mendasar antara ilmu qiraah dan ilmu tajwid walaupun hubungan keduanya sangat erat. Perlu diketahui juga bahwa kemunculan ilmu qiraah lebih dahulu daripada ilmu tajwid, atau dengan kata lain ilmu qiraah sebagai cikal bakal ilmu tajwid.

Dahulu kaum salaf mempraktikkan ushul (dasar-dasar) tajwid secara amaliah. Mereka menukil qiraah dengan cara talqin dan musyafahah (langsung mengambil dari lisan guru-gurunya). Seperti generasi pertama umat ini dari kalangan Sahabat dan Tabi'in, yang tidak belajar ilmu ini dalam kitab-kitab, tetapi langsung ber-talaqqi (berguru) kepada guru-guru mereka dengan tajwidnya, di samping kefasihan bahasa dan bersihnya lisan mereka dari ujmah (gagap atau ketidakfasihan).

Tidak sedikit kaum muslimin yang menyangka antara Ilmu Qiroah dan Ilmu Tajwid keduanya adalah sama, padahal dua ilmu ini memiliki perbedaan mendasar dari sisi pokok bahasan dan metode bahasannya. Begitu juga sejarah ta'lif (penulisan) ilmu qiraah ke dalam kitab-kitab nya, telah muncul lebih dahulu menjelang akhir abad pertama Hijriah, yang kemudian banyak bermunculan kitab-kitab qiraah pada abad kedua dan ketiga Hijriah.

Ilmu Tajwid merupakan salah satu ilmu terpenting yang harus diketahui setiap muslim. Tanpa memahami ilmu ini kita pasti kesulitan dan melakukan banyak kesalahan dalam membaca Kitabullah, al Qur'an.

Buku ini tergolong buku terlengkap dalam disiplin ilmu Tajwid. Di dalamnya dibahas berbagai masalah terkait tata cara membaca al-Qur'an sesuai dengan parameter tartil.

Di antaranya membahas keutamaan membaca dan mempelajari al-Qur'an, adab membaca Kitabullah, sejarah ilmu Tajwid dan qiraah, urgensi mengenal huruf dan harakat, rukun-rukun bacaan Qur'ani, lahn dan macan-macamnya, pedoman membaca lafazh-lafazh al-Qur'an, sifat-sifat huruf dari tafkhim dan tarqiq hingga hokum-hukum makharijul huruf.

Juga dibahas hukum nun dan mim sukun, hukum mad, hukum idgham, waqaf dan ibtida, mengenai rasm utsmani, hadits'hadits dha'if dan palsu tentang keutamaan membaca sebagian ayat atau surah. Dan pada akhir bahasannya dinukilkan fatwa-fatwa ulama seputar al-Qur'an, perihal qiraah sab'ah, hingga dikenalkan dengan para imam qiraah.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover hardcover
ISBN 978-602-9183-53-5
Judul Buku Tajwid Lengkap Asy Syafii
Jumlah Halaman 700 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka Imam Syafii
Penulis Abu Ya’la Kurnaedi Lc
Ukuran Fisik Buku Buku ukuran sedang 15.5 x 23.5 cm