• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Darul Haq 40 karakteristik Mereka yang Dicintai Allah Penulis : Syaikh Dr Abdul Adzim bin Badawi Al Khalafi, Penerbit : Darul Haq .. Product #: DHQ-0084 Regular price: Rp 140.000 Rp 140.000

40 karakteristik Mereka yang Dicintai Allah

Brand: Darul Haq

Harga: Rp 140.000  Rp 112.000

- +

Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman, yang artinya,
“orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang ber jihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberianNya) lagi Maha Mengetahui.” [QS Al maidah 54]
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- memberitahukan bahwa Allah Mahakaya (tidak membutuhkan semesta alam ini), dan bahwa orang yang murtad dari AgamaNya, maka sekali-kali tidak akan mampu sedikit pun untuk membahayakan Allah, dan justru membahayakan dirinya sendiri, dan bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- memiliki hamba-hamba yang ikhlas dan benar (dalam keimanan mereka) yang mana Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang telah menunjuki mereka dan Dia telah berjanji akan mendatangkan mereka, dan bahwa mereka adalah makhluk yang paling sempurna sifatnya, paling kuat jiwanya, paling baik akhlaknya, yang mana sifat mereka yang paling agung adalah bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- mencintai mereka dan mereka cinta kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- . [(lihat : tafsir As Sa’di 2/307).
Kecintaan yang bertimbal balik adalah hubungan antara mereka dengan Rabb, hal itu merupakan kedudukan yang diperebutkan oleh orang-orang yang berlomba-lomba untuk meraihnya, orang-orang yang beramal bertujuan kepadanya dan para pelomba bergegas meraihnya, dan orang-orang yang mencintaiNya terus mengorbankan diri mereka dengan mempedomaninya dan anginnya menghembus bagaikan hembusan ahli-ahli ibadah.
Cinta adalah makanan hati, energi bagi ruh, dan penyejuk mata. la adalah kehidupan, siapa saja yang tidak mendapatkannya, maka ia tergolong orang-orang yang mati. la adalah cahaya, siapa yang kehilangannya, maka ia berada di lautan kegelapan. la adalah kesembuhan, yang mana bila seseorang tidak memilikinya, maka hatinya diserang berbagai penyakit. la adalah kelezatan jika seseorang tidak mendapatkannya, maka hidupnya hanyalah keluh kesah dan kesakitan belaka. Ia adalah ruh iman dan amal perbuatan, kedudukan dan keadaan, manakala semuanya itu kosong darinya (kecintaan), maka ia hanyalah seperti badan yang tidak ada ruhnya. la membawa beban-beban orang-orang yang bepergian menuju negeri yang mereka tidak bisa sampai ke negeri itu kecuali dengan cara susah payah, mengantarkan mereka menuju kedudukan yang tanpanya mereka selama-nya tidak akan sampai, yang akan memindahkan mereka dari tempat yang sempit menuju tempat yang jika tidak karena hal tersebut mereka tidak akan bisa memasukinya. Ia adalah terminal akhir suatu kaum yang perjalanan mereka selalu kepada Sang Kekasih, yaitu jalan mereka yang mengantarkan mereka kepada derajat utama dalam waktu dekat [lihat : Tahdzib Madarij as-Salikin, hal. 509.]
Kecintaan Allah terhadap hamba-hambaNya merupakan salah satu sifat dari sifat-sifatNya yang wajib ditetapkan (keberadaan-nya) dan wajib mengimaninya tanpa penyamaan (tamtsil), pengingkaran (ta'thil), penyelewengan (tahrif), dan tanpa ada pertanyaan bagaimana (takyif), berdasarkan Firman Alloh Azza Wa Jalla
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syura: 11).
Al-Quran dan as-Sunnah sarat menyebutkan siapa saja yang Allah cintai dari hamba-hambaNya yang beriman dan menyebut¬kan pula apa saja yang Allah cintai dari perbuatan, perkataan dan akhlak mereka, di dalam al-Quran disebutkan,
"Sesungguhnya Allah menyukai omng-orang yang bertauhat dan menyukai orang-orang yang menyudkan din." (Al-Baqarah: 222),
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (Al-Baqarah: 195).
"Allah menyukai orang-orang yang sabar." (Ali Imran: 146).
" Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kokoh," (Ash-Shaf: 4).
Sedangkan di dalam as-Sunnah, diriwayatkan dari Abdullah -Rodliallohu Anhu- , ia berkata, Saya bertanya kepada Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- ,
"Amalan apa yang paling dicintai Allah?" Beliau bersabda, "Shalat pada waktunya” [ Al Bukhari 2/9, Muslim 1/89-90 Nasai 1/293-294]
Dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- , ia berkata, Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda,
“Ada kalimat yang dicintai oleh Dzat yang Maha Pengasih; kedua-nya itu ringan diucapkan, tetapi berat dalam timbangan, ‘Subhanallahi wabihamdihi Subhanallahul Adziim.” [ Al Bukhari 11/206 no. 6406, Muslim 4/2072 dan lainnya]
Dari Ibnu Abbas -Rodliallohu Anhu- bahwasanya Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda kepada Asyajj Abdil Qais -Rodliallohu Anhu- ,
"Sungguh pada dirimu ada dua sifat yang Allah cintai yaitu al Hilmu dan al-Anatu “ [ HR. Muslim 1/48 no.17 dan lainnya]
Jika Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- itu mencintai fulan dan murka kepada fulan yang lain, juga mencintai suatu perkataan dan perbuatan, serta membenci perkataan dan perbuatan lainnya.
Memang tidak akan ada pengertian cinta itu kecuali dengan cinta itu sendiri, karena sesungguhnya sesuatu itu apabila sudah sangat jelas, tidaklah perlu lagi untuk ditaf sirkan oleh lainnya, seba-gaimana dikatakan, "Menafsirkan air setelah menimbang dengan air", dan tidak benar kalau dikatakan bahwa kecintaan Allah terhadap hambaNya adalah karena Allah akan memberikan pahala kepadanya atau akan memberikan rahmat dan sebagainya karena hal tersebut merupakan penyelewengan perkataan dari tempatnya yang benar.
Tidak diperbolehkan menyerupakan cinta Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- kepada hamba sebagaimana cinta hamba kepada sesama mereka, karena cinta tersebut adalah sifat yang Allah miliki sesuai dengan kebesaran-Nya, Kesempurnaan dan Keagungan Nya dan tidak menyerupai sifat-sifat makhluk. Berbeda cinta antar sesama makhluk penuh dengan sifat kekurangan, tidak sempurna.
Sungguh kecintaan Allah terhadap hambaNya mempunyai banyak pengaruh, Di antaranya Allah akan senantiasa memudahkan berbagai sebab bagi hambaNya dan meringankan setiap kesusahan, serta memberikan taufik untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran sesuai dengan makna Firman Allah dalam hadits qudsi,
"Dan hambaKu terus-menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya.’[Al-Bukhari, 11/340-341, no. 6502]
Di antaranya juga bahwa Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- akan meletakkan kecintaan kekasihNya di dalam hati hamba-hambaNya, sebagaimana Firman Allah kepada Nabi Musa
"Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dariKu dan supaya kamu diasuh di bawah mata (pengawasan)Ku." (Thaha:39).
Dan Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berf irman,
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang" (Maryam: 96).
Maksudnya cinta dalam hati hamba-hambaNya, dan sungguh Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda,
"Sesungguhnya Allah apabila mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril seraya berfirman, 'Sesungguhnya Aku mencintai Fulan, maka cintailah ia Rasulullah bersabda, 'Lalu Jibril mencintainya, kemudian ia menyeru di langit seraya berkata, 'Sesungguh¬nya Allah mencintai fulan, maka kalian cintailah ia. Lalu semua penghuni langit mencintainya. Rasulullah bersabda, 'Kemudian hamba tersebut diterima (oleh penduduk) bumi' [Muttafaq 'alaih: al-Bukhari, 13/461, no. 7485; dan Muslim, 4/2030, no. 2637]
Di antaranya pula bahwa Allah akan menerima amalan hambaNya meskipun sedikit dan mengampuni kesalahan-kesalahannya meskipun banyak, Sedangkan ciri-ciri diterimanya (hamba) adalah dilimpahkanya taufik untuk senantiasa berbuat kebaikan, Di antara ciri-ciri diterimanya suatu kebaikan adalah ber¬buat suatu kebaikan setelahnya.
Adapun ciri dari hasilnya adalah diampuni segala dosanya, sebagaimana Allah berfirman,
"Katakanlah, 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu,' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Ali Imran: 31).
Buah lainnya adalah diselamatkan kekasih dari siksa dan azab, sebagaimana sabda Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam-
"Demi Allah, Allah tidak akan mencampakkan kekasihNya ke dalam api neraka dan Allah telah membantah orang-orang Yahudi dan Nasrani atas anggapan mereka bahwa mereka itu adalah para kekasih Allah:'[Shahih: [Shahih al-Jami 6972]; al-Mustadrak, 4/177]
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman,
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, 'Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya. ' Katakanlah, 'Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu ?" (Al-Maidah: 18).
Adapun kecintaan hamba terhadap Allah, maka hukumnya fardhu ain bagi semua makhluk, karena kecintaan hamba terhadap Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- itu sendiri adalah hakikat tauhid, sebagaimana Allah berfir¬man,
"Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, per-niagaan yang kamu khawatirkan, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan daripada jihad dijalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya' , dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (At-Taubah: 24).
Ayat ini merupakan dalil yang paling kuat atas wajibnya cinta kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dan RasulNya -Sholallahu Alaihi Wassalam- , dan mendahulukan kecintaan tersebut terhadap segala kecintaan [lihat : Tafsir as-Sa'di, 3/214.]
Jadi asal kecintaan adalah cinta kepada Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- dan sesuatu yang selain Allah adalah wajib dicintai demi Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- jika hal itu merupakan yang dicintai oleh Allah. Karena itulah, tali keimanan yang sangat kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- [Shahih al-Jami 2536]; ath-Thabrani, 11/215, no. 11537.], dan barangsiapa mencintai, membenci, memberi, dan menghalangi karena Allah, maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya. [Shahih: [Shahih Abu Dawud. 3915]; Abu Dawud, 12/438, no. 4655.]
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman,
"Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, atau keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan per-tolongan yang datang daripadaNya. Dia memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan) rahmatNya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung" (Al-Mujadilah: 22).
{mospagebreak}
Maka seorang Mukmin yang mencintai Allah dan RasulNya tidak diperbolehkan mencintai apa saja yang tidak dicintai Allah bagaimanapun bentuknya. Karena itu, Allah mencela beberapa kaum karena mereka mencintai selain Allah sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah, dan Allah mengancam mereka dengan azab.
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman,
"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, mereka sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada Hari Kiamat), bahwa kekuatan adalah kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaanNya (niscaya mereka menyesal)" (Al-Baqarah:165).
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- memberitahukan bahwa mereka akan menyesal terhadap penyamaan ini (kecintaan).
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman,
"Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat. Dan bala tentara Iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, 'Demi Allah, sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata. Karena kita mempersamakan kamu dengan Rabb semesta alam '." (Asy-Syu'ara: 94-98).
Mereka tidak menyamakan selain Allah dengan Rabb semesta alam di dalam penciptaan dan Rububiyah Allah, tetapi mereka me¬nyamakan selain Allah di dalam kecintaan dan pengagungan. Itulah yang dinamakan persekutuan.
sebagaimana Firman Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala-
"Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Rabb mereka." (Al-An'am: 1).
Mereka mempersekutukan Allah dengan yang lainNya dalam permasalahan ibadah, yang berupa kecintaan dan pengagungan.
Kecintaan hamba kepada Allah memiliki sebab-sebab untuk mewujudkannya ,di antaranya:
Pertama, membaca al-Quran dengan menghayati dan berusaha memahami makna-maknanya dan sesuatu yang dimaksudkannya.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan yang sunnah-sunnah setelah melaksanakan yang fardhu, karena hal itu akan menghantarkannya menuju derajat kasih sayang setelah kecintaan.
Ketiga, senantiasa berdzikir kepada Allah dalam segala hal, baik dengan lisan, dengan hati, dengan amal dan keadaan, maka hasil dari kecintaan tersebut sesuai dengan kadar dari hasil dzikir-nya.
Keempat, mendahulukan sesuatu yang dicintai oleh Allah terhadap sesuatu yang dicintai olehmu ketika perang melawan hawa nafsu dan berusaha menuju kepada sesuatu yang dicintaiNya meskipun berat atau susah meraihnya.
Kelima, penelaahan hati terhadap nama-nama Allah dan sifat-sifatNya menyaksikan dan mengetahuinya dan terus sibuk di dalam taman-taman pengetahuan (majelis ilmu) dan lapangan-lapangannya. Maka barangsiapa mengetahui Allah dengan nama-nama dan sifat-sifatNya dan perbuatanNya, pasti akan mencintai Allah.
Keenam, menyaksikan kebaikan dan nikmat-nikmat Allah baik yang batin maupun yang lahir, karena sesungguhnya semua itu akan mengajak untuk mencintaiNya.
Ketujuh, ini yang paling menakjubkan, yaitu tunduknya hati di hadapan Allah dan tidak ada dalam pengungkapan tentang masalah ini kecuali nama-nama dan ungkapan-ungkapan.
Kedelapan, berkhalwat denganNya di waktu turunnya Allah untuk bermunajat kepadaNya, membaca al-Quran dan berdiri tegak dengan hati dan beradab dengan adab ibadah penghambaan di hadapanNya, kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat.
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan benar (keimanannya), serta mengambil perkataan-perkataan mereka yang baik sebagaimana memilih buah-buah yang baik, dan tidak berbicara, kecuali apabila kamu melihat ada maslahat di dalam berbicara dan kamu mengetahui bahwa dalam pembicaraan itu ada tambahan untuk kebaikanmu dan kemanfaatan bagi selain kamu.
Kesepuluh, menjauhkan diri dari segala sebab yang akan menghalangi antara hati dan Allah
Maka dengan sebab-sebab yang sepuluh ini, maka orang-orang yang mencintai pasti akan sampai menuju derajat kecintaan dan masuk kepada kekasihnya, dan semuanya itu akan didapatkan oleh dua perkara: persiapan rohani untuk urusan ini, dan terbuka-nya bashirah.[ Tahdzib Madarijas-Salikin, no. 513.]
Ketika muncul anggapan bahwa kecintaan itu mudah, maka Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- menguji dan mencoba orang-orang yang mengaku cinta kepadaNya dan memerintahkan kepada mereka untuk menunjukkan dan menetapkan kecintaan dengan hujjah dan dalil yang kuat.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
Judul Asli Ahbabullah
Judul Buku 40 karakteristik Mereka yang Dicintai Allah
Jumlah Halaman 738 hlm
Penerbit / Publisher Darul Haq
Penulis Syaikh Dr Abdul Adzim bin Badawi Al Khalafi
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 16 x 24.5 cm