• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka As-Sunnah Minhajul Qosidin : Menggapai Kebahagiaan Hidup Dunia dan Akhirat Penulis : Imam Ibnu Qudamah Al Maqdisi, Penerbit Pustaka Sunnah .. Product #: ASN-00013 Regular price: Rp 210.000 Rp 210.000

Minhajul Qosidin : Menggapai Kebahagiaan Hidup Dunia dan Akhirat

Harga: Rp 210.000  Rp 168.000

- +

      Inilah Kitab tazkiyatun nafs (kitab penyucian Jiwa) dimana kandungan kitab ini penuh dengan berbagai contoh penyakit jiwa dan terapinya yang bisa saja berada didada seorang muslim sehingga apabila orang yang membacanya, menelaahnya dan mentadaburinya akan lebih terhoibur dan mersa tentram karena obat penawar penyakit jiwa yang disuguhkan bersumber langsung dari Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam yang shahih serta perkataan dan perbuatan para Salafush Shalih -rahimahumullah-
Banyak kitab mengenai penyucian jiwa namun sangat sedikit sekali yang menyuguhkan terapi yang berdasarkan hadits-hadits shahih. Maka hal ini malah bukan lagi sebagai solusi bagi penyucian jiwa seorang muslim akan tetapi menjadi petaka karena efek yang dtimbulkan tidak sesuai dengan nilai-nilai agama Islam yang Shahih ini.
Kitab ini sebagai jawaban bagi mereka yang ingin berkonsentrasi untuk kehidupan akherat tanpa harus meninggalkan kebutuhan dunia dan bagi mereka yang ingin mengintrospeksi diri, mentadabburi akan hakekatnya sebagai makhluk yang lemah dan tak lepas dari kelalaian dan kealpaan, kitab ini juga sebagai kendaraan yang mengantarkan seorang muslim memahami dengan benar arti sebuah kehidupan, waktu dan kesempatan yang Allah sediakan bagi para hamba-Nya agar mampu dipergunakan dengan penuh maksimal dan optimal demi meraih sebuah kehidupan yang kekal abadi di akhirat kelak.
Imam Ibnu Qudamah al-Maqdisy rahimahullah adalah sosok ulama' yang selalu tegar di atas sunnah, luas pandangan dan wawasannya, selalu menyertakan dalil-dalil yang kuat dan hujjah yang shahih dalam setiap pemaparan pendapatnya sehingga sulit untuk dipatahkan oleh para musuhnya dari kalangan Mu'tazilah, Asy'ariyah dan para kaum Sufi, hal inilah yang mendorongnya untuk menulis sebuah kitab tazkiyatun nafs yang diringkas dari kitab "Minhajul Qashidin" karya Jamaluddin Ibnul Jauzi rahimahullah yang merupakan kitab refrensi dalam tazkiyatun nafs, beliau meringkasnya dan memberikan komentar di dalamnya sehingga memudahkan bagi para pembacanya.
Kitab ini dilengkapi pula dengan pemberian tahqiq hadits-haditsnya berdasarkan takhrij Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani -rahimahullah- hingga tiada lagi keraguan mengenai derajat hadits-haditsnya serta kualitas buku ini diseleksi untuk menghindari klaim riwayat-riwayat yang dhaif menjadi shahih, atau cerita-cerita yang tidak ada asal usulnya dalam syari'at.

Ibnul Jauzi rahimahullah, di akhir khutbahnya, berkata: "Wahai orang yang jujur dan bergelora semangatnya! Mungkin, selama ini engkau tekun berkutat dengan ketergiuran dunia yang masygul, menarik perhatian dan bertekad untuk memutuskan diri dari akhirat. Padahal, engkau tahu bahwa bergaul dengan manusia itu mengharuskan dirimu turut secara langsung dengan mereka. Sementara meremehkan muhasabatun-nafs (intropeksi diri) merupakan dasar sikap berlebih-lebihan, sehingga ketika takdir bagi umurmu tidak panjang, semua yang ada pasti ditinggalkan. Hembusan-hembusan nafas terlalu cepat menghampiri tempat kematian. Di saat seperti ini, engkau akan benar-benar mencari muara yang bisa menjadi teman di saat sendirian, yaitu sebuah buku. Lalu engkau menelaahnya tanpa banyak bicara. Pilihanmu pun jatuh kepada Kitab Ihya 'Ulumuddin, karena menurut anggapanmu, inilah buku yang paling cocok bagi jiwamu."

Ketahuilah, bahwa dalam kitab Ihya 'Ulumuddin terdapat kekurangan dan bencana yang hanya diketahui oleh para ulama. Karena adanya hadits-hadits bathil, maudhu' dan mauquf, yang dijadikan marfu', kemudian ia berkata: tidak sepatutnya beribadah dengan mengamalkan hadits-hadits maudhu' dan terpedaya dengan perkataan yang dibuat-buat.
Bagaimana mungkin keridhaan menghadirimu, jika engkau shalat seharian, padahal Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam tidak sepatah kata pun bersabda tentang cara yang demikian itu?
Bagaimana mungkin aku bisa memberikan atsar (pengaruh) kepadamu, jika engkau sendiri lebih mendengarkan setiap perkataan yang berasal dari para sufi (ahli tasawwuf), yang direalisasikan dalam bentuk amal yang tidak jelas manfaatnya baik di dunia, maupun di akhirat? Sebagai contoh seperti yang diperintahkan para sufi (ahli tasawwuf) untuk berlapar-lapar, mengadakan perjalanan panjang tanpa adanya tujuan yang jelas dan berjalan ke tengah Sahara tanpa dilengkapi dengan bekal yang cukup. Hal-hal tersebut merupakan perbuatan yang cacat, yang kesemuanya saya sarikan dalam Kitab Talbis Iblis (tipu daya yang diciptakan Iblis)."
Imam Ibnu Qudamah -rahimahullah- berkata " Karenanya saya akan mengetengahkan buku (sebagai pengganti dari kitab Ihya 'Ulumiddin) yang terlepas dari kerusakan-kerusakan dan tidak mengurangi manfaat-manfaatnya dengan merujuk kepada nukilan-nukilan riwayat yang shahih dan masyhur serta mengandung makna yang baik dan tepat serta saya buang apa yang pantas untuk dibuang dan saya tambahkan apa yang pantas untuk ditambahkan.
Jika engkau memang sudah bersikukuh ingin melakukan 'uzlah (mengasingkan diri) agar memperoleh apa yang terbaik bagi jiwamu dan menerapkannya dalam kehidupan nyata, maka jadikanlah ilmu sebagai pemimpin bagimu dan bersikap telitilah terhadap setiap detak nafeu dalam jiwamu, agar kamu mencapai keselamatan. Lalu, berhati-hatilah dalam mengikuti jalan salah satu dari dua orang berikut ini:
Pertama, seorang ulama yang mengetahui selisih pendapat di dalam iirusan fiqih, namun, dia merasa cukup dengan kemapanan hedudukannya sebagai ulama atau dia mengemban kedudukan di mahkamah (pengadilan), lalu dia masih berkehendak untuk menjaga kedudukannya itu, atau dia pandai menghiasi kata-katanya dalam member! nasehat, kemudian menyempitkan pandangan-pandangan obyek para pendengarnya.
Kedua, orang zuhud yang membolak-balikan setiap pendapat yang salah karena kebodohannya, yang mendekatkan diri dengan membalik-balikkan telapak tangan dan mengandalkan barakah, yang melakukan perbuatan menurut hawa nafsunya, tidak berdasarkan pada syari'at Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Kedua karakter (sifat) orang ini, telah menyimpang dari jalan kebenaran, puas dengan amal yang menipu mata (terlihat bercahaya pada sisi luarnya, tetapi buruk dan gulita pada sisi dalamnya), sehingga bisa mengecoh setiap pemula (orang-orang yang baru mempelajari tentang Islam baik dari kalangan ummat Islam yang awam atau pun muallaf/orang yang baru memeluk agama Islam) seperti layaknya fatamorgana. Dan jalan mereka berdua sangat jauh dari kehidupan salafus shalih yang dikenal keistiqomahan dan kebenaran jalannya.
Insya Allah di dalam kitab ini saya akan menceritakan tentang kisah-kisah jejak kehidupan mereka.
Kitab ini amat diperlukan bagi siapa yang menginginkan kesempurnaan dan bagi mereka yang baru memulainya. Setiap goresan kalimatnya mengandung rahasia-rahasia dalam beribadah serta anjuran, agar berhati-hati dari setiap bencana dalam bermu'amalah.

Kitab ini telah membagi-bagi menjadi empat pembahasan:
Pembahasan Pertama: Rubu' al-Ibadat (Seperempat masalah ibadah).
Pembahasan Kedua: Rubu' al-Adat (Seperempat masalah kebiasaan).
Pembahasan Kctiga: Rubu' al-Muhhkat (Seperempat masalah yang membinasakan).
Pembahasan Keempat: Rubu' al-Munjiyat (Seperempat masalah yang menyelamatkan).
Setiap bagian, mencakup pasal-pasal dan sub-sub bagiannya.

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
Judul Asli Mukhtashor Minhajul Qoshidin
Judul Buku Minhajul Qosidin : Menggapai Kebahagiaan Hidup Dunia dan Akhirat
Jumlah Halaman 700 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka As Sunnah
Pentahqiq Syaikh Ridwan jami' Ridwan
Penulis Imam Ibnu Qudamah Al maqdisi -rahimahullah-
Ukuran Fisik Buku buku ukuran sedang 15.5x24cm