• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku

ROH

Harga: Rp 200.000  Rp 160.000

- +

Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda,
'Perbanyaklah mengingat sesuatu yang dapat merenggut dunia, yaitu kematian." (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, dari An-Nasa’i, dari Abu Hurairah -Rodliallohu Anhu- ]

Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda,
'Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan dunia." Kami bertanya, "Apakah penghancur kelezatan dunia itu, wahai Rosululloh?" Beliau menjawab, "Kematian." (HR. Abu Nu'aim ]
Diriwayatkan dari Umar, dia berkata, "Ketika aku sedang duduk Rasulullah , tiba-tiba datang seorang pemuda Anshar salam kepada Rasulullah dan bertanya, 'Wahai Rosululloh , orang mukmin yang bagaimana yang paling mulia? , Rosululloh menjawab, 'Mereka yang paling baik akhlaknya'. Pemuda Ini bertanya lagi , 'Orang mukmin yang bagaimana yang paling beruntung (cerdas)'? , Rosululloh menjawab, 'Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan mempunyai bekal yang banyak untuk menghadapi kematian'. "(HR. Ibnu Majah)

Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda,
"Orang yang paling beruntung adalah yang dapat mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang merugi adalah yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan banyak berangan-angan terhadap Allah." (HR. At-Tirmidzi)

Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda,
"Perbanyaklah mengingat mati, karena dia dapat membersihkan dosa-dosa serta menjadikan diri zuhud terhadap dunia. "(HR. Anas)

Para ulama mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan dunia, yaitu mati."
Itu merupakan perkataan yang ringkas dan sederhana, namun mengandung peringatan serta pesan-pesan yang sangat dalam nilainya. Mengingat kematian dengan sebenar-benamya dapat mencegah seseorang untuk berangan-angan, sehingga dia bisa hidup zuhud. Tetapi jiwa yang pasif serta hati yang lalai membutuhkan peringatan yang berulang-ulang dan kata-kata yang indah.
Rasulullah bersabda, "Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan dunia."
Allah berfirman, "Tiap-tiap yang bemyawa akan merasakan mati." (Qs. Aali 'Imraan [3]: 185 dan Al 'Ankabuut [291: 57)
Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim -rahimakumulloh- meriwayatkan dalam ash-Shahihain dari hadits Asma' binti Abu Bakar -Rodliallohu Anha- :
"Bahwa Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda dalam khutbahnya ketika terjadinya gerhana matahari: 'Sungguh telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian kelak akan diuji dalam kubur-kubur kalian seperti atau sangat mirip dengan fitnah al-Masih ad-Dajjal, salah seorang dari kalian akan didatangi (oleh malaikat) dan dikatakan kepadanya: "Apakah yang kamu ketahui tentang laki-laki ini?,'Adapun orang yang beriman atau yakin, dia akan mengatakan: 'Dia adalah Muhammad utusan Allah, dia datang kepada kami dengan membawa bukti-bukti dan petunjuk, lalu kami pun memenuhi ajakannya, beriman dan mengikutinya.' Maka dikatakan kepada orang tersebut: 'Tidurlah dengan nyaman, sungguh kami telah mengetahui bahwa kamu benar-benar seorang yang beriman.' Adapun orang yang munafik atau ragu-ragu dalam urusan agama, maka dia akan menjawab: 'Aku tidak tahu, aku mendengar manusia mengatakan sesuatu, lalu aku pun mengatakan sebagaimana yang mereka katakan'."
[Diriwayatkan oieh al-Bukhari, no. 86, Muslim, no. 905, an-Nasa'i, (3/I51]]
Imam Ahmad -rahimahulloh- meriwayatkannya dan lafazhnya berbunyi:
"Sungguh aku telah melihat kalian akan diuji dalam kubur-kubur kalian dan seseorang akan ditanya: 'Apakah yang kamu katakan? Apakah yang kamu sembah?' Maka bila dia menjawab: 'Aku tidak tahu. Aku telah mendengar manusia mengatakan sesuatu, kemudian aku pun mengatakan sebagaimana yang mereka katakan. Mereka telah melakukan sesuatu, kemudian aku pun melakukan seperti yang mereka lakukan. ' Dikatakanlah kepada orang tersebut: 'Benar, kamu telah hidup di atas keraguan dan di atasnya pula kamu meninggal dunia. Inilah tempatmu dari neraka. ' Dan bila orang yang di-tanya itu menjawab: 'Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi dengan haq kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.' Maka dikatakanlah kepada orang tersebut: 'Kamu telah hidup di atas keyakinan dan meninggal di atasnya. Maka inilah tempat dudukmu dari surga. ' [Imam Ahmad dalam al-Musnad (6/345-355)]
Imam Ahmad juga meriwayatkan, dari hadits Aisyah -Rodliallohu Anha- , beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda:
"Adapun fitnah (ujian di dalam) kubur, maka disebabkan aku, kalian akan diuji dan tentang aku, kalian akan ditanya. Apabila seorang yang shalih, maka dia didudukkan dalam kuburnya tanpa rasa gentar dan takut. Kemu¬dian dikatakan kepadanya: 'Pada apa dulu kamu hidup?' Dia menjawab: 'Aku hidup dalam keadaan Islam. ' Kemudian ditanyakan kepadanya: 'Siapakah laki-laki ini yang ada di tengah-tengah kalian?' Dia menjawab: 'Muhammad utusan Allah, dia datang kepada kami dengan membawa bukti-bukti dan petunjuk dari sisi Allah, lalu kami pun membenarkannya’. Lalu dibukakanlah untuknya satu lubang ke arah neraka, lalu dia melihat ke arahnya, sebagiannya melahap sebagian lainnya, lalu dikatakan kepadanya: 'Lihatlah ke arah tempat yang Allah telah pelihara kamu darinya. ' Kemudian dibukankanlah untuknya sebuah lubang ke arah surga, lalu dia melihat kemegahannya dan segala sesuatu yang ada di dalamnya (berbagai macam kenikmatanj, kemudian dikatakan kepadanya: inilah tempat duduk-mu (kembalimu). Dulu (di dunia) kamu hidup di atas keyakinan (Islam) dan meninggal di atasnya, serta di atasnya pula kamu akan dibangkitkan atas kehendak Allah. ' Apabila orang yang buruk amal-nya, maka dia didudukkan dalam kuburnya dalam keadaan gentar dan ketakutan. Ditanyakan kepadanya: 'Pada apa dulu kamu hidup?' Orang itu menjawab: 'Aku tidak tahu.' Ditanyakan lagi kepadanya: 'Siapakah laki-laki ini yang ada di tengah-tengah kalian?' Dia menjawab: 'Aku telah mendengar orang-orang mengatakan suatu perkataan, lalu aku pun mengatakan sebagaimana yang mereka katakan. ' Lalu dibukankanlah untuknya sebuah lubang ke arah surga, lalu dia melihat kemegahannya dan segala sesuatu yang ada di dalamnya (berbagai macam kenikmatan), lalu dikatakan kepadanya: 'Lihatlah ke tempat yang telah Allah palingkan kamu darinya. ' Kemudian di-bukakanlah untuknya satu lubang ke arah neraka, lalu dia melihat ke arahnya, sebagiannya melahap sebagian lainnya, lalu dikatakan kepadanya: "Inilah tempat dudukmu (kembalimu). Dulu (di dunia) kamu hidup di atas keraguan (terhadap Islam), di atasnya kamu me-ninggal dunia dan di atasnya pula kamu akan dibangkitkan atas kehendak Allah, kemudian dia pun diadzab'."
[Imam Ahmad , dalam Musnad (6/139-140 ]
Imam Ahmad juga meriwayatkan, dari hadits Abu Sa'id al-Khudri, dia menuturkan:
"Kami pernah menyaksikan prosesi (penguburan) jenazah bersama Rasulullah, lalu beliau -Sholallahu Alaihi Wassalam- bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya umat ini akan diuji dalam kuburnya. Bila seorang insan dikuburkan dan para sahabatnya meninggalkannya, maka satu malaikat mendatangi-nya dengan membawa sebuah pemukul di tangannya, kemudian malaikat itu mendudukkannya dan bertanya: 'Apakah yang kamu kata-kan tentang laki-laki ini?' Bila mayit itu orang yang beriman, maka dia akan menjawab: 'Aku bersaksi bahiua tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan haq selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya,' Malaikat itu pun berkata: 'Kamu telah berkata benar.' Kemudian dibukakan-lah untuknya satu pintu menuju neraka seraya berkata (kepadanya): ‘inilah tempat tinggal-mu seandainya kamu kafir kepada Rabb-mu. Adapun jika kamu beriman kepada Rabb-mu, maka inilah tempat tinggalmu lalu dibukakan-lah untuknya sebuah pintu menuju surga, kemudian dia ingin beranjak memasukinya, tapi malaikat berkata kepadanya: 'Diam dan tenanglah dan dilapangkan-lah untuknya dalam kuburnya. Bila si mayit itu orang kafir atau orang munafik, malaikat berkata bertanya kepadanya: 'Apakah yang kamu katakan tentang laki-laki ini?' Maka mayit itu akan menjawab: 'Aku tidak tahu, aku mendengar manusia mengatakan sesuatu (maka aku pun mengatakan seperti yang mereka katakan)." Malaikat pun berkata kepadanya: "Kamu tidak mengetahuinya, tidak membaca (petunjuknya) dan tidak mau menerima petunjuk." Lalu dibukakan-lah untuknya sebuah pintu menuju surga, lalu dikatakan kepadanya: "Inilah tempat tinggal-mu jika kamu beriman kepada Rabbmu. Ada-pun jika kamu kafir terhadap Allah, maka Allah akan mengganti-nya untukmu dengan ini," dan dibukakanlah untuknya sebuah pintu menuju neraka. Kemudian malaikat itu pun memukul-nya dengan satu kali pukulan dengan menggunakan pemukul, maka teriakannya terdengar oleh seluruh makhluk Allah selain jin dan manusia.' Sebagian orang (yang hadir dalam prosesi tersebut-red) berkata: 'Wahai Rasulullah, tak seorang pun yang di atasnya berdiri malaikat yang membawa pemukul di tangannya melainkan dia akan dipukul secara bertubi-tubi ketika itu ? .' Lalu Nabi bersabda, 'Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman:” Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu.' (Ibrahim: 27).”
[ Imam Ahmad , dalam Musnad nya (3 / 3-4)]
Alloh -Subhanahu Wa Ta'ala- berfirman, yang artinya:
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh ( Al Qoulu Tsabit ) itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang dhalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki." (Ibrahim: 27)
Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- menjelaskan makna “ ucapan yang teguh (Qoulu Tsabit)" tersebut dalam hadits-hadits berikut ini:
Diriwayatkan dari Shahabat al-Barra' bin 'Azib -Rodliallohu Anhu- , dari Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- , beliau bersabda:
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu." (QS Ibrahim: 27), ayat ini turun mengenai siksa kubur."
[ hadits Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1369,4699, Muslim, no.2871,at-Tirmidzi, no. 3119, Abu Dawud, no.4750, an-Nasa'i, (6/101), Ibnu Majah, no. 4269 dan Ahmad dalam al-Musnad (4/291-293)]
Imam Muslim menambahkan, Rasulullah bersabda:
"Ditanyakan kepadanya; 'Siapakah Rabbmu?' Maka mayit itu menjawab: 'Rabbku adalah Allah, Nabiku adalah Muhammad. “Maka itulah kandungan firman Allah: 'Allah meneguhkan (keimanan )orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu.” (Ibrahim: 27 )."
Dalam riwayat al-Bukhari, Rasulullah bersabda:
"Apabila seorang hamba Mukmin didudukkan dalam kuburnya, maka datanglah kepadanya (Malaikat), kemudian dia bersaksi bahwa tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan haq selain Allah dan Muhammad adalah-Nya, maka itulah kandungan firman-Nya: 'Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu. '(Ibrahim: 27).

Inilah kitab Ar Ruuh karya Imam Sunnah Ibnul Qoyyim Al Jauziyah - rahimahullah- . dalam kitab ini beliau membahas tentang hokum-hukum Roh dan sifat-sifat roh.
Beliau membahas sangat luas seputar permasalahan roh dan setiap pembahasan diurai dengan detail, kemudian beliau menetapkan mana pendapat yang rajih.
Buku ini telah ditahqiq oleh Syaikh Ishamuddin Ash Shababithi.

PEMBAHASAN PERTAMA

- Apakah Orang Mati Mengetahui Orang Hidup yang Berziarah dan Mengucap Salam kepadanya 
- Penetapan dari Hadits Shahih Bahwa Mayit Merasa Terhibur dengan Para Pengiring yang Berada di Sekitar Kuburnya Setelah Dikuburkan 
- Orang-Orang Mati Menanyakan Kondisi Orang-Orang yang Hidup dan Mengetahui Perkataan Serta Perbuatan Mereka
- Dalil Bahwasanya Mayit Bisa Mendengar Ketika Ditalqin di Kuburan

PEMBAHASAN KEDUA

Penjelasan Mengenai Roh Orang-Orang Mati Saling Berjumpa, Berziarah, dan Mengenang yang Telah Lalu

PEMBAHASAN KETIGA
- Apakah Roh Orang-Orang Mati Berjumpa dengan Roh Orang- Orang yang Masih Hidup?

PEMBAHASAN KEEMPAT
Apakah Roh Juga Mengalami Kematian? Atau Apakah yang Mati Hanya Badan Saja?

PEMBAHASAN KELIMA
Bagaimana Roh-Roh Bisa Dibedakan Antara yang Satu dan Lainnya Setelah Berpisah dari Jasad?

PEMBAHASAN KEENAM

- Apakah Roh Dikembalikan dalam Kuburan Saat Pertanyaan Dua Malaikat atau Tidak Dikembalikan? 
- Apakah Adzab Kubur Terjadi pada Roh dan Badan Secara Bersamaan, Terjadi Pada Roh Saja Tanpa Badan, atau Terjadi Pada Badan Saja Tanpa Roh? 
- Dan Apakah Badan Ikut Bersama Roh dalam Merasakan Nikmat dan Adzab atau Tidak? 
- Pendapat Ulama' Salaf, "Sesungguhnya Jika Seseorang Sudah Meninggal Maka Berada dalam Kenikmatan atau Siksaan, dan Itu Terjadi pada Roh dan Badan Secara Bersamaan" 
- Penjelasan Tentang Hadits Adzab Kubur, serta Pertanyaan Munkar dan Nakir
- Adzab Kubur Adalah Haq Sesuai Kesepakatan Ahlussunnah 
- Adzab Kubur Diperoleh Siapa Pun yang Berhak Mendapatkan. Baik la Dikubur, Tidak Dikubur, ataupun Dimakan Binatang Buas

PEMBAHASAN KETUJUH
- Jawaban bagi Kaum Atheis dan Zindiq yang Mengingkari Adzab dan Nikmat Kubur, Serta Perkara Perkara yang Berkaitandengan keduanya 
- Perkara Pertama: Perkara-Perkara yang dengannya Kita Bisa Menjawab Pertanyaan Orang-Orang Atheis dan Zindiq 
- Perkara Kedua: Bahaya Tidak Memahami Perkataan Allah dan Rasulnya Sebagaimana Dikehendaki Keduanya 
- Perkara Ketiga: Penjelasan Singkat tentang Penetapan Adanya Adzab Kubur
- Perkara Keempat: Salam para Malaikat kepada Orang Sekarat dan Jawabannya 
- Perkara Kelima dan Keenam 
- Perkara Ketujuh 
- Perkara Kedelapan 
- Perkara Kesembilan: Adzab Kubur Adalah Adzab Barzakh 
- Perkara Kesepuluh: Kematian Adalah Tempat Kembali dan Kebangkitan yang Pertama

PEMBAHASAN KEDELAPAN

- Apa Hikmah Dibalik Tidak Disebutkannya Azab Kubur dalam AI Quran?

PEMBAHASAN KESEMBILAN
Apa Perkara-Perkara yang Menyebabkan Seseorang Disiksa didalam Kubur?

PEMBAHASAN KESEPULUH
Sebab-Sebab yang Menyelamatkan dari Adzab Kubur

PEMBAHASAN KESEBELAS
Apakah Pertanyaan dalam Kubur Umum untuk Kaum Muslimin, Munafikin, Kafirin, atau Khusus untuk Orang Muslim dan Munafik Saja?

PEMBAHASAN KEDUABELAS
Pertanyaan Munkar dan Nakir Apakah Khusus bagi Umat Muhamad Saja atau untuk Seluruh Umat ?

PEMBAHASAN KETIGABELAS
Apakah Anak-Anak Juga Ditanyai dalam Kuburnya ?

PEMBAHASAN KEEMPATBELAS
Apakah Adzab Kubur Berlangsung Terus-Menerus atau Berhenti?

PEMBAHASAN KELIMABELAS
Dimana Tempat Menetapnya Roh Setelah Kematian Hingga Hari Kiamat ? 
- Penjelasan Tentang Pendapat yang Mengatakan: Roh-Roh Ada di Surga 
- Penjelasan Tentang Ucapan Mujahid bahwa Roh-Roh Tidak di Surga 
- Penjelasan Tentang Pendapat yang Mengatakan bahwa Roh Berada di Halaman Kuburan 
- Kondisi Tiap-tiap Roh Adalah Tidak Sama, Tergantung kepada Kondisi Masing-masing 
- Penjelasan Tentang Pendapat yang Mengatakan "Roh Orang-Orang Mukmin Ada Di Sisi Allah Ta'ala"
- Penjelasan Tentang Pendapat Yang Mengatakan Roh Orang-Orang Mukmin Ada Di Kolam, Sementara Roh Orang-Orang Kafir Ada Di Hadhramaut Di Barhut 
- Penjelasan Tentang Pendapat yang Mengatakan: Roh Orang-Orang Mati Berkumpul di Bumi 
- Pendapat yang Mengatakan Roh Orang-Orang Mukmin Berada di Illiyin pada Langit Ketujuh dan Roh Orang-Orang Kafir Berada di Sijjin di Bumi Ketujuh - Bantahan Terhadap Pendapat yang Mengatakan Bahwa Roh-Roh Berkumpul di Sumur Zamzam
- Pendapat yang Menyatakan Bahwa Roh Orang-Orang Mukmin Berada di Barzakh
- Pendapat yang Menyatakan Bahwa Roh Orang-Orang Mukmin Ada di Samping Kanan Nabi Adam dan Roh Orang-()rang Kafir Ada di Samping Kiri Nabi Adam 
- Penjelasan Tentang Pendapat Abu Muhammad Ibnu Hazm Bahwa Roh Menetap pada Tempatnya Sebelum Diciptakan
- Penjelasan Tentang Pendapat yang Mengatakan Bahwa Roh Tidak Mempunyai Tempat Menetap Sedikit Pun 
- Pendapat yang Mengatakan Tempat Menetap Roh Adalah badan yang Lain

PEMHAHASAN ENAM BELAS
- Dalil Bahwasanya Mayit Mengambil Manfaat dari Amal-Amal yg diamalkannya.
- Dalil Bahwa Mayit Mengambil Manfaat dari Selain Amal yang Dikerjakannya 
- Penetapan Bahwa Pahala Sedekah Sampai kepada Mayit 
- Penjelasan Tentang Sampainya Pahala Puasa kepada Mayit 
- Penjelasan Tentang Sampainya Pahala Haji kepada Mayit 
- Hamba Tidak Akan Mendapat Hukuman Karena Perbuatan Orang Lain
- Berdalil dengan Hadits: "Jika Hamba Meninggal Dunia, Maka Terputus Amalnya," Ini Adalah Istidlal yang Tidak Benar
- Jawaban Terhadap Pernyataan Kalian: "MenghadiahkanAmal Ibadah kepada Mayit sama dengan Hiwalah (Pengalihan)
- Jawaban Terhadap Pernyataan yang Mengatakan: "Mengutamakan Orang Lain dengan Sebab Ibadah Hukumnya Makruh." 
- Jawaban Terhadap Pernyataan Mereka Bahwa Jika Menghadiahkan Amal Bisa Dilakukan kepada Orang Mati, Berarti Bisa Dilakukan kepada Orang Hidup 
- Jawaban Terhadap Pernyataan: "Kalau Amal Boleh Dihadiahkan, Berarti Kita Boleh Menghadiahkan Separuh Pahala dan Seperempatnya kepada Mayit" 
- Jawaban Terhadap Pernyataan: "Jika Seseorang Boleh Menghadiahkan Pahala, Tentu la Bisa Menghadiahkannya Setelah Pelaku Mengerjakan Itu dengan Niat Untuk Dirinya Sendiri" 
- Jawaban Terhadap Pertanyaan: "Jika Menghadiahkan Amal Kepada Orang Mati Dibolehkan, Maka Pahala Amalan-Amalan Yang Wajib Atas Orang Hidup Juga Boleh Dihadiahkan." —
- Jawaban Terhadap Pernyataan: "Tanggungan-Tanggungan Amal Adalah Ujian Dari Allah yang Tidak Bisa Digantikan."
- Jawaban Terhadap Pernyataan: "Jika Mayit Mengambil Manfaat Dari Amal Orang Lain, Maka Taubat dan Keislaman Orang Lain Pasti Bermanfaat Juga Baginya." 
- Jawaban Pernyataan: "Ibadah terbagi Menjadi Dua." 
- Jawaban bagiKelompok yang Menolak Hadits: "Barangsiapa Meninggal dan Mempunyai Hutang Puasa..." 
- Jawaban Pernyataan Mereka: "Sesungguhnya yang Meriwayatkan hadits Puasa Untuk Mayit adalah Ibnu Abbas."
- Jawaban Pernyataan Mereka: "Hadits Berpuasa untuk Mayit Adalah Hadits yang Sanadnya Diperselisihkan di Antara Ulama'." 
- Jawaban Pernyataan yang Menyalahkan Perawi Hadits dari Ibnu Abbas: "Sesungguhnya Nadzar Ummu Sa'ad Adalah Puasa."

- Pendapat-Pendapat Ulama' Tentang Berpuasa untuk Mayit
- Jawaban Bagi Kelompok yang Membedakan Antara Pahala Nafkah dan Pahala Haji 
- Untuk Mengirimkan Amal kepada Mayit, Apakah disyaratkan Melafalkan Niat Menghadiahkan, atau Sekedar Niat Secara Umum?

PEMBAHASAN TUJUH BELAS
- Apakah Roh Itu Baru dan Makhluk, atau Sudah Lama Ada dan bukan Makhluk? 
- Penjelasan Tentang Dalil-Dalil yang Menyatakan Roh Adalah Makhluk yang diciptakan 
- Perbedaan Tentang Makna Roh pada Ayat yang Mulia Antara kaum Salaf dan Ahlul Bid'ah 
- Penjelasan Tentang Sifat-Sifat yang Disandarkan kepada Allah Ta'ala

PEMBAHASAN KEDELAPAN BELAS
Roh lebih Dahulu Diciptakan daripada Jasad 
- Dalil Bahwa Roh Diciptakan Setelah Penciptaan Jasad dan Bantahan Terhadap Mereka yang Mengatakan Bahwa Roh diciptakan Sebelum Jasad
- Dalil Bahwa Roh Diciptakan Setelah Diciptakannya Badan

Dan pembahasan ilmiyah menarik lain nya.

Detail Info Buku
Bahasa 691 hlm
Format Cover Hardcover
ISBN 978-979-3913-93-3
Judul Asli Ar Ruuh
Judul Buku ROH
Jumlah Halaman 691 hlm
Penerbit / Publisher Pustaka As Sunnah
Pentahqiq Ishomuddin Ash Shababithi
Penulis Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah - rahimahullah-
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran sedang 16 x25 cm