• Hotline: (+62) 819.2469.325
Kategori Buku
Pustaka Muawiyah Politik islam Siyasah Syariyyah : Mendulang Faidah dari kisah Perjanjian Hudaibiyah Penulis : ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat, Penerbit : Pustaka Muawiyah .. Product #: MUA-0018 Regular price: Rp 75.000 Rp 75.000

Politik islam Siyasah Syariyyah : Mendulang Faidah dari kisah Perjanjian Hudaibiyah

Harga: Rp 75.000  Rp 60.000

- +

Telah sama-sama kita ketahui bahwa permusuhan di antara keimanan kaum muslimin dan kekufuran serta kesyirikan kaum musyrikin Quraisy telah mulai berkobar tatkala dimulainya dakwah Islam di Mekkah, hingga hijrahnya kaum muslimin ke Madinah dan pecahnya perang Badr yang disusul dengan perang Uhud dan diakhiri dengan perang Ahzab pada tahun kelima hijriyah.
Maka pada tahun keenam Hijriyah, perkembangan yang terjadi di Jazirah Arab semakin menguntungkan pihak kaum muslimin. Sedikit demi sedikit sudah mulai terlihat tanda-tanda kemenangan yang besar dan keberhasilan dakwah Islam. Langkah permulaan sudah mulai dirancang untuk mendapatkan pengakuan terhadap hak-hak kaum muslimin dalam melaksanakan ibadah di Masjidil Haram, yang selama ini telah dihalangi oleh kaum musyrikin Quraisy kurang lebih enam tahun lamanya.
Selagi masih berada di Madinah, Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- bermimpi bahwa beliau bersama para Shahabat memasuki Masjidil Haram dan melaksanakan thawaf dan umrah. Kemudian beliau pun menyampaikan mimpinya itu kepada para Shahabatnya, dan mereka tampak bergembira. Menurut perkiraan mereka, pada tahun itu pula mereka dapat memasuki kota Mekkah, dimana kerinduan mereka kepada kota kelahirannya sudah menggebu. Tidak lama kemudian beliau mengumumkan akan melaksanakan umrah. Maka mereka pun melakukan persiapan untuk mengadakan perjalanan jauh [ lihat : Ar rahiqul makhtoum 378] Di samping itu, kisah gazwah Hudaibiyah ini juga termasuk salah satu pembukaan yang sangat besar sekali dalam sejarah Islam, sebab ia merupakan pintu gerbang yang mengantarkan kaum muslimin kepada kemena¬ngan besar, sebagaimana dikemukakan oleh para ulama.
Pada hakikatnya, pada perjalanan kali ini, kaum muslimin tengah menjalankan satu siasat yang sangat jitu sekali, hal itu disebabkan bahwa kaum muslimin akan memberikan kepada kaum musyrik Quraisy dua pilihan, yang kedua-duanya sama-sama akan memojokkan dan menjatuhkan citra mereka di mata bangsa Arab.
Dua pilihan tersebut adalah:
Pertama, membolehkan atau mengizinkan kaum muslimin untuk memasuki kota Mekkah untuk berthawaf melaksakan umrah di masjidil Haram.
Kedua, mencegah atau melarang kaum muslimin untuk memasuki kota Mekkah untuk berthawaf di Masjidil Haram.
Seandainya kaum musyrik Quraisy memilih pilihan yang pertama; untuk membolehkan kaum muslimin memasuki Masjidil Haram, maka bangsa Arab akan mengatakan bahwa kaum muslimin telah berhasil memaksa kaum musyrikin untuk mengalah.
Apabila mereka memilih untuk mencegah kaum muslimin memasuki Masjidil Haram, maka bangsa Arab akan mengatakan bahwa kaum musyrik Quraisy telah melarang orang-orang yang telah berniat untuk menziarahi dan mengagungkan Ka'bah yang telah menjadi tempat suci bagi bangsa Arab saat itu. Niscaya akan hilanglah isu yang beredar dan ditujukan kepada kaum muslimin selama ini, bahwa kaum muslimin telah menginjak-injak kehormatan tempat suci Allah Subhanahu wa Taala.
Pada saat keberangkatan beliau ini, Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- telah jelas-jelas mengumumkan kepada seluruh manusia bahwa kedatangan beliau bersama para Shahabatnya ke Mekkah adalah hanya untuk mengunjungi baitullah (Ka'bah) dan sama sekali tidak untuk berperang.
Ini merupakan suatu kesempatan bagi kaum mus¬limin untuk mengambil simpati bangsa Arab, oleh sebab itulah, maka setelah Perjanjian Hudaibiyah, banyak dari bangsa Arab yang masuk ke dalam agama Islam dengan berbondong-bondong. Inilah yang disebut dengan Siyasah Syar'iyyah (Politik Islam).
Kalaupun hal-hal di atas tidak ada, maka niscaya cukuplah untuk menunjukkan pentingnya kisah perjanjian Hudaibiyyah ini, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah menyebutkan sebagiannya di dalam al Qur'an.
Oleh sebab itulah, maka sebagian ahli tafsir telah memaparkan kisah Perjanjian Hudaibiyah ini secara lengkap dalam kitab-kitab tafsir mereka, seperti Imam al Baghawi dalam kitab tafsirnya Maalimut Tanzil (TV/ 199-203), Imam al Alusi dalam kitab tafsirnya Ruhul Ma'ani (XIV/176-180), al Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab Tafsirnya (IV/175-180), Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'di dalam kitab Taisir Karimir Rahman Fii Taf sir Kalamil Mannan hal. 796-798 dan kitab-kitab yang lainnya.
Maka semua keterangan itu cukuplah untuk me¬nunjukkan akan pentingnya kisah Perjanjian Hudai¬biyyah ini dalam sejarah Islam.
Simak penjelasan para ulama tentang Perjanjian Hudaibiyah ini, faedah apa yang terkandung dari kisah perjanjian ini dan bagaimana politik islam yang ketika itu dilakukan oleh Rosululloh -Sholallahu Alaihi Wassalam- dan para sahabat beliau -Rodliallohu Anhum-.

Metode penulisan buku ini oleh penulis yakni :
Pada risalah ini diawali dengan penulisan haditsnya secara lengkap, kemudian sekaligus terjema-hannya juga secara lengkap. Baru setelah itu di cantumkan penjabaran penulis tentang hadits tersebut bagian perbagian, sehingga dapat memudahkan para pembaca untuk memahami dan menelusurinya satu persatu, hal itu disebabkan kandungan faidah yang terlalu banyak dari hadits yang akan dijabarkan.
Kemudian di tengah-tengah pembahasan sengaja saya berusaha untuk mencantumkan nama surat dan nomor ayat apabila ada tercantum ayat al Qur'an dalam keterangan penulis.
Begitu juga dengan hadits, penulis berupaya mentakhrijnya ke kitab-kitab hadits yang dimaksud, seperti kitab Shahih Bukhari (dengan Fat-hul Ban) jilid kelima dalam Kitabusy Syurut khususnya dan dalam jilid kedelapan pada Kitabul Maghazi dan jilid-jilid yang lainnya. Begitu juga dengan kitab Musnad Ahmad pada jilid kelima, karena dalam kitab tersebut ada beberapa tambahan riwayat hadits yang tidak ada di dalam riwayat Imam Bukhari. Begitu juga dengan kitab Sunan Abi Dawud pada jilid yang pertama, karena di dalamnya juga ada hadits ini dengan beberapa tambahan lafazhnya, dan kitab al Mushannaf 'Abdur-razzacj pada jilid kelima, dan kitab Tafsir Ibnu Jarir ath Thabari pada jilid kedua puluh enam, dan kitab Sunanul Kubra jilid kesembilan, dan kitab hadits yang lainnya .
Kemudian penulis merujuk kepada beberapa kitab sirah dan tarikh, seperti kitab Sirah Ibnu Hisyam jilid ketiga, kitab Sirah An Nabawiyah jilid ketiga dan kitab al Bidayah wan Nihayah jilid keempat, keduanya karya al Hafizh Ibnu Katsir, kitab ats Tsiqat karya Imam Ibnu Hibban pada jillid pertama, kitab al Muntadzam jilid ketiga karya al Hafizh Ibnul Jauzi, kitab Tarikh ath Thabari jilid kedua, kitab Siyar A'lamin Nubala jilid kedua puluh tujuh dan kitab al Kamil Fit Tarikh jilid kedua karya Imam Ibnul Atsir. Yang terpenting adalah kitab as Sirah an Nabawiyyah ash Shahihah karya Prof. Dr. Akram Dhiya' al 'Umari pada jilid kedua, dan masih ada lagi beberapa rujukan yang lainnya .

 

Detail Info Buku
Bahasa Indonesia
Format Cover Hardcover
Judul Buku Politik islam Siyasah Syariyyah : Mendulang Faidah dari kisah Perjanjian Hudaibiyah
Penerbit / Publisher Pustaka Muawiyah bin Abi Sufyan
Penulis ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat
Ukuran Fisik Buku Buku Ukuran Sedang 16 x 24.5 cm